Binanews.id | Bogor — Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, KH. Ma’ruf Amin, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya keberadaan pesantren dalam kehidupan bangsa saat memberikan nasehat kepada para santri kelas akhir Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami angkatan ke-27 pada acara wisuda yang digelar Ahad, 17 Mei 2026.
Dalam suasana penuh khidmat dan haru, Kiai Ma’ruf Amin menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan biasa, melainkan “pabrik orang baik” yang selama ratusan tahun telah melahirkan para ulama, kiai, pendidik, dan tokoh bangsa yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.
“Pesantren itu pabrik orang baik. Dari pesantren lahir para kiai dan ulama yang menjadi cahaya masyarakat. Mereka bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga akhlak, adab, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya di hadapan ribuan santri, wali santri, dan tamu undangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, bangsa Indonesia memiliki hutang sejarah yang besar kepada pesantren. Dalam perjalanan panjang republik ini, para ulama dan santri tidak hanya berjuang di bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga turut menjaga persatuan bangsa serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa apabila pesantren didiskreditkan, dilemahkan, atau dipandang sebelah mata, maka bangsa ini sedang menghadapi ancaman serius berupa hilangnya pusat pembinaan moral masyarakat.
“Kalau pesantren sampai ditinggalkan atau didiskreditkan, maka pabrik orang baik bisa tutup. Kalau pabrik orang baik tutup, Indonesia akan kekurangan orang baik, bahkan bisa kehilangan generasi yang memiliki akhlak dan kepedulian terhadap umat dan bangsa,” tegasnya.
Mantan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) 2025 ini juga menyoroti pentingnya dukungan negara terhadap pendidikan pesantren. Menurutnya, pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada pendidikan agama berbasis asrama yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits.
Ia menilai sistem pendidikan pesantren memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, serta spiritualitas generasi muda di tengah tantangan zaman modern yang semakin kompleks.
“Pesantren bukan hanya mendidik anak menjadi pintar, tetapi juga mendidik mereka menjadi manusia yang takut kepada Allah, menghormati orang tua, mencintai bangsa, dan peduli kepada sesama,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga berpesan kepada para wisudawan angkatan ke-27 agar menjaga identitas santri di mana pun berada. Menurutnya, seorang santri harus mampu menjadi teladan di tengah masyarakat melalui ilmu, akhlak, dan pengabdiannya.
“Jangan pernah malu menjadi santri. Santri harus hadir membawa solusi, menebarkan kesejukan, serta menjadi penjaga moral bangsa,” pesannya.
Acara wisuda berlangsung dengan penuh khidmat dan ditutup doa bersama untuk para santri agar menjadi generasi penerus yang istiqamah dalam ilmu, amal, dan perjuangan membangun umat serta bangsa Indonesia.[]









