Binanews.id | Bogor–Di balik nyala lampu di ratusan rumah warga Blok Pasir Toro, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, ada sosok santri asal Bandung bernama Ujang Koswara. Berbekal ilmu yang ia pelajari sendiri lewat YouTube, ia mengembangkan panel surya sederhana yang kini menerangi 102 rumah warga.
Kampung di tengah hutan Perhutani itu sudah 25 tahun tidak teraliri listrik. Setiap malam, sekitar 300 warga hanya mengandalkan cempor atau lampu minyak. Anak-anak belajar dengan cahaya seadanya, ibu-ibu memasak ditemani nyala api tungku.
Ide membuat panel surya muncul saat pemerintah menjalankan program konversi minyak tanah ke gas pada 2007-2008. Saat itu, banyak rumah yang belum teraliri listrik kesulitan memperoleh minyak tanah untuk penerangan. Kondisi itu juga dialami ibu Ujang.
“Problemnya rumah yang masih gelap itu rata-rata secara ekonomi itu di bawah kemiskinan. Waktu konversi dari minyak tanah ke gas itu kebetulan ibu saya juga korban, nyari minyak tanah susah, akhirnya saya pikir saya harus membantu,” kata Ujang.
Dari keresahan itu, ia mulai mengembangkan panel surya sederhana yang bisa dipakai masyarakat terpencil tanpa harus membeli bahan bakar. Lampu LED berdaya 1 watt itu diklaim setara dengan lampu 10 watt dan bisa bertahan lebih dari 10 tahun.
“Kalau ada pihak yang ingin membantu kaum dhuafa, maka saya ingin menyempurnakannya dengan menerangi rumah itu,” ujarnya.
Ujang tidak punya latar belakang pendidikan formal di bidang kelistrikan maupun energi terbarukan. Ia mempelajari seluruh proses pembuatan panel surya secara mandiri melalui internet.
“Saya otodidak, belajarnya dari YouTube,” pungkasnya .
Sejak 2008, lampu buatannya telah terpasang di sekitar 300 ribu rumah di berbagai daerah di Indonesia. “Kami hadir untuk memperkuat program pemerintah membebaskan masyarakat dari kegelapan,” katanya.
Yang menarik, Ujang tidak mengomersialkan hasil inovasinya. Ia memilih menyerahkan teknologi panel surya tersebut kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI agar dapat dimanfaatkan masyarakat luas.
“Penemunya ini luar biasa menurut saya. Dia tidak menjual ke yang lain padahal sangat bisa. Tapi, dia menyerahkannya kepada BAZNAS karena beliau ingin beramal,” kata Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid .
Seluruh proses perakitan panel surya dilakukan melalui program pemberdayaan yang melibatkan para santri di Pondok Pesantren Darul Hidayah Bandung bersama warga binaan Lapas Sukamiskin. Program itu telah berjalan sejak 2012.
“Ini tidak kita jual di pasaran dan ini dikerjakan oleh santri. Kita tidak punya pabrik, melainkan lewat pemberdayaan, jadi uangnya tidak ke mana-mana, tapi kembali ke santri,” tutur Ujang.
Panel surya buatan Ujang dipasang di Blok Pasir Toro melalui Program Rumah Terang BAZNAS RI yang diluncurkan pada Kamis (9/7/2026) malam. Sebanyak 102 rumah warga dan satu masjid kini menikmati penerangan listrik untuk pertama kalinya.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid mengatakan program dengan target nasional 452 kepala keluarga ini secara bertahap mulai difokuskan bagi 102 KK di Indramayu. Satu paket bantuan terdiri dari panel surya, lima lampu, accu, dan kabel.
“Tadi kita sudah melihat buktinya, dari tempat yang gelap menjadi tempat yang terang,” kata Sodik.
Warga pun tak bisa menahan haru. Saat lampu-lampu mulai menyala, sorak gembira dan tepuk tangan pecah. Beberapa warga tampak mengusap air mata .
Sebelum ada panel surya, warga harus membeli solar untuk lampu minyak. Satu liter solar hanya cukup untuk dua hari, dengan harga sekitar Rp15 ribu. Artinya, dalam sebulan mereka bisa mengeluarkan hingga Rp225 ribu hanya untuk penerangan.
“Sehingga jatah untuk membeli solar 1 liter yang tadinya hanya cukup untuk dua hari, jadi kalau satu bulan mereka bisa lebih hemat, ada uang Rp225 ribu yang bisa dipakai buat beli beras satu karung,” kata Ujang.
Onoh, warga yang telah 25 tahun tinggal di sana, mengaku bersyukur. “Alhamdulillah pak, saya dapat bantuan lampu. Semoga ini menjadi berkah buat saya dan keluarga,” ujarnya.
Kendati listrik sudah menyala, persoalan lain belum selesai. Warga Blok Pasir Toro masih kesulitan air bersih. Mereka mengandalkan kubangan tadah hujan yang airnya kerap keruh untuk mandi dan mencuci.
Akses jalan menuju kampung juga masih berupa tanah dan bebatuan. Penjabat Sekretaris Daerah Indramayu Ahmad Syadali mengaku baru mengetahui masih ada permukiman di wilayahnya yang belum menikmati listrik.
“Ini akan menjadi bahan kita juga untuk memberikan informasi kepada pimpinan bahwa kondisi warga di Desa Cikawung itu seperti ini dan oleh siapapun mungkin ini juga terabaikan karena lokasinya yang jauh dari jalan,” kata Syadali.
Editor : Fathurroji









