Binanews.id | Udara Singosari pagi itu seperti punya cara sendiri untuk menenangkan. Saya duduk di teras depan rumah, membiarkan angin menyelinap di sela dedaunan. Suara knalpot memang tidak pernah benar-benar pergi, tapi entah kenapa, ia seperti kalah oleh kesejukan yang tidak terlihat. Setiap tarikan napas terasa penuh, seolah ada kekuatan kecil yang diam-diam memperbaiki suasana hati.
Di tangan saya, sebuah buku terbuka. Lembar demi lembar berganti tanpa terasa. Tiga hari lalu saya membelinya, bersama empat buku lain, lima semuanya, seperti kebiasaan yang tidak pernah saya tinggalkan setiap kali singgah di kota apel. Salah satunya The Secret Letters of the Monk Who Sold His Ferrari, karya Robin Sharma. Nama yang sudah lama saya kenal, sejak bukunya yang pertama mencuri perhatian saya.
Dari teras sederhana di Singosari, pikiran saya diajak mengembara jauh. Ke jalanan Buenos Aires yang penuh warna, ke alunan musik Latin dan tarian tango yang hidup. Lalu meloncat lagi ke Istanbul, kota yang selalu membuat dada bergetar. Dari balkon lantai tiga dalam cerita itu, dua benua terlihat sekaligus: Eropa dan Asia. Sejarah, kejayaan, dan mimpi bercampur menjadi satu. Hagia Sophia, Selat Bosphorus, hingga kisah Sultan Muhammad Al-Fatih yang tak pernah benar-benar selesai saya kagumi.
Namun, perjalanan itu tiba-tiba terhenti.
“Permisi!”
Suara itu sederhana, tapi cukup untuk menarik saya kembali ke dunia nyata. Seorang laki-laki berdiri di depan, membawa dua dus air mineral. Topi cowboy hitam menutupi sebagian kepalanya, kacamata gelap menahan sinar matahari. Penampilannya seperti potongan adegan film lama.
“Di taruh di sini?” tanyanya singkat.
Saya mengangguk.
Ia bolak-balik mengangkat dus. Tenaganya seperti tidak habis, meski matahari sudah mulai naik dan perut pasti mulai menuntut diisi. Ada ketekunan yang tidak banyak bicara, tapi terasa jelas.
“Becak, tunggu!”
Suara ibu dari dalam rumah membuat saya refleks beranjak. Ternyata laki-laki itu hendak pergi. Saya menghentikannya.
Lebih dekat, saya baru benar-benar melihat wajahnya. Ia tidak muda. Garis-garis waktu tergambar jelas. Senyumnya sederhana, bahkan tanpa gigi di rahang atas. Tapi justru di situ terasa hangatnya, senyum yang tidak dibuat-buat.
Kami duduk sejenak.
“Sudah lama, mas. Dari tahun tujuh puluh satu.”
Jawaban itu membuka cerita panjang. Becak bukan sekadar pekerjaan baginya. Itu adalah hidupnya. Dari kayuhan pedal, ia melamar seorang perempuan. Dari kayuhan itu pula ia membesarkan empat anak, tiga laki-laki, satu perempuan. Dari becak, ia menyekolahkan mereka. Kini, tujuh cucu telah lahir dari perjalanan panjang itu.
“Dulu saya mangkal di Pasar Besar.”
Empat puluh tiga tahun lalu, Pasar Besar Malang adalah pusat kehidupan. Becak menjadi primadona. Pada masa itu, menjadi tukang becak bukan pekerjaan pinggiran, ia setara sopir taksi hari ini. Orang datang dan pergi, dan roda becak menjadi saksi.
Namun waktu tidak pernah berhenti. Ojek dan angkot datang. Jalanan berubah. Persaingan tidak lagi sama. Usia juga ikut bicara.
“Tahun delapan puluh tiga, saya pindah ke Singosari.”
Sejak 1983 hingga hari ini (Ketika tulisan ini ditulis pada Juli 2014), lebih dari empat puluh tahun, ia tetap setia di tempat yang sama, di depan Pasar Singosari. Di bawah tangga penyeberangan jalan, sebelah kiri, katanya. Orang-orang mengenalnya. Atau mungkin, lebih tepatnya, ia yang mengenal dunia lewat orang-orang yang datang silih berganti.
Saya terdiam sejenak.
Baru saja beberapa menit sebelumnya, saya “berkeliling dunia”, dari Buenos Aires ke Istanbul tanpa bergerak dari kursi. Tapi di hadapan saya sekarang, ada seseorang yang mungkin tidak pernah ke luar kota terlalu jauh, namun telah menempuh ribuan kilometer dengan kakinya sendiri. Bukan untuk petualangan, melainkan untuk bertahan hidup.
Kadang kita terlalu mudah terpesona oleh cerita besar di tempat jauh, sampai lupa bahwa di sekitar kita ada kisah yang tidak kalah dalam. Bahkan mungkin lebih nyata. Lebih jujur.
Bapak itu tidak pernah menulis buku. Tidak juga berbicara tentang filosofi hidup. Tapi dari tahun 1971 entah kapan, ia menjalani satu hal yang sering kita cari-cari dalam banyak bacaan: ketekunan.
Di akhir pertemuan singkat itu, saya tidak merasa sedang bertemu tukang becak. Saya seperti baru saja membaca sebuah buku—tanpa kertas, tanpa tinta—yang ditulis oleh waktu dan keringat.
Hikmahnya: hidup tidak selalu tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi tentang seberapa setia kita menjalani apa yang ada di depan kita. Dunia boleh seluas Buenos Aires hingga Istanbul, tapi makna seringkali justru ditemukan di Pasar Singosari, di antara kayuhan pelan yang tidak pernah berhenti mengabdi.[]









