Terjebak di Tengah

Yudi Latief, M.A., Ph.D (Aktivis dan Cendekiawan)

Prabu

- Redaksi

Kamis, 14 Mei 2026 - 20:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BInanews.id | Saudaraku, di antara negara yang keluar dari kemiskinan, ada fase penting: pertumbuhan masih kuat, tetapi arah kemajuan mulai kabur. Urbanisasi meluas, investasi masuk, angka ekonomi naik, namun ada perlambatan halus—hilangnya dorongan untuk melompat lebih tinggi.

Inilah yang dibahas dalam Law and Development of Middle-Income Countries: Avoiding the Middle-Income Trap, suntingan Randall Peerenboom dan Tom Ginsburg (2014): banyak negara berhenti di tengah jalan menuju kemajuan. Pertumbuhan berbasis industri, investasi asing, dan tenaga murah melemah. Untuk naik kelas, dibutuhkan inovasi, kepastian hukum, dan institusi kuat; tanpa itu, ekonomi berputar di tempat.

Baca Juga:  Sebanyak 38,6% Guru di Kabupaten Bogor Digaji Kurang dari Rp.500.000 per Bulan

Senada dengan itu, Avoiding the Middle-Income Trap in Africa, suntingan Emmanuel Pinto Moreira (2024), menegaskan bahwa jebakan negara menengah juga ditentukan oleh kualitas institusi dan kemampuan beralih ke ekonomi berbasis pengetahuan. Banyak negara gagal bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena gagal bertransformasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Negara akhirnya terjebak: tidak lagi miskin, tetapi belum maju. Ekonomi cukup besar, tetapi belum berbasis inovasi; kepastian hukum rapuh, kelembagaan kisruh, inovasi belum menjadi mesin utama ekonomi.

Baca Juga:  Badrul Munir: Kritik Boleh, Demokrasi Harus Dijaga

Dalam konteks Indonesia, ini tampak jelas: telah melewati kemiskinan ekstrem dan kini menjadi ekonomi besar di Asia Tenggara, dengan infrastruktur berkembang, kelas menengah tumbuh, dan digitalisasi meluas.

Pertanyaannya tetap: apakah Indonesia menuju negara maju, atau terjebak di fase tengah? Sebab pertumbuhan berjalan bersama problem institusional—kepastian hukum rapuh, kelembagaan masih semerawut, dan inovasi belum menjadi mesin utama ekonomi. Banyak sektor masih bergantung pada ekspansi dan sumber daya, bukan pengetahuan.

Baca Juga:  Membongkar Mitos Biaya Mondok Mahal

Intinya, Indonesia tidak kekurangan pertumbuhan, tetapi diuji pada kualitas transformasi. Apakah pertumbuhan menjadi jembatan lompatan struktural, atau sekadar pengulangan bentuk lama dalam skala lebih besar. Lorong tengah ini adalah ruang ujian yang riskan.

Indonesia hari ini berdiri di ruang itu—fase lama telah berlalu, taraf baru tak menentu. Yang dipertaruhkan bukan sekadar angka pertumbuhan, tetapi arah sejarahnya sendiri.

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB