SOLATA Pulang Membawa Piala dari Sofia, Kini Membidik Panggung Oscar

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:36 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Sebuah film independen tentang guru relawan yang mengajar di pelosok Tana Toraja baru saja pulang ke Indonesia setelah berkeliling Eropa Timur, membawa satu piala dan sejumlah tawaran kerja sama produksi.

Film itu berjudul SOLATA, diambil dari bahasa Toraja yang berarti teman sebagai keluarga yang kita pilih. Sutradara sekaligus produsernya, Ichwan Persada, mengumumkan kepulangan tim filmnya di Makassar pekan lalu, setelah rangkaian perjalanan internasional yang berlangsung sejak awal Juni.

“Film SOLATA kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan rangkaian perjalanan internasional di Eropa Timur. Film ini membawa apresiasi dan pengalaman baru dalam memperkenalkan cerita Indonesia kepada publik dunia,” kata Ichwan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Titik berangkat perjalanan itu adalah Sofia, ibu kota Bulgaria. Pada 6 Juni 2026, SOLATA menerima Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator, Cultural Contribution and Humanism di Golden FEMI Film Festival. Ichwan menerima piala tersebut didampingi produser pelaksana Irfan Syam serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta.

Baca Juga:  Ajengan Ruhiat, Ulama Pejuang dari Tasikmalaya Pendiri Pesantren Cipasung

Kemenangan di festival kawasan Balkan itu membuka pintu ke tempat-tempat berikutnya. Tim SOLATA melanjutkan tur ke lima kota di empat negara, meliputi Sofia di Bulgaria, Bratislava di Slovakia, Budapest di Hungaria, serta Ankara dan Istanbul di Turki. Di Bratislava dan Budapest, pemutaran khusus digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia dan disambut warga setempat maupun diaspora.

Yang diputar di gedung-gedung bioskop Eropa itu sebenarnya cerita yang sangat lokal. SOLATA mengisahkan seorang guru relawan asal Jakarta yang mengajar di Ollon, sebuah kampung di pegunungan Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Di sana ia berhadapan dengan kenyataan pendidikan anak-anak yang jauh dari pusat kota, dan perlahan membangun hubungan dengan murid-muridnya.

Ada satu unsur yang membuat filmnya tidak berhenti sebagai kisah guru dan murid. Di Ollon, sang guru bertemu enam murid yang nama depannya menyerupai nama para presiden Indonesia. Detail itu menjadi simbol yang memperkuat pesan nasionalisme, bahwa anak-anak di ujung negeri pun menyandang nama orang-orang yang pernah memimpin republik ini. Film yang dibintangi Rendy Kjaernett dan Rachel Natasya tersebut telah tayang di bioskop Indonesia sejak November 2025.

Baca Juga:  Hanifah, Mahasiswi UIB Raih Runner Up 1 Putera Puteri Budaya Banten 2026

Bagi Ichwan, hal paling berkesan justru datang dari reaksi penonton yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Di Bratislava, seorang sinematografer setempat menyatakan ketertarikannya memproduksi film di Indonesia. Di Budapest, seorang perwakilan UNESCO Artist for Peace terbawa emosi karena film itu mengingatkannya pada putranya sendiri.

“Saya sangat terharu karena kekuatan sinema mampu menjembatani perbedaan bahasa dan budaya melalui dialog serta visual yang universal,” ujarnya.

Tur itu tidak berhenti sebagai ajang promosi. Tim SOLATA menemui Bulgaria Film Center, Slovakia Film Commission, dan Ankara Bilim University untuk menjajaki produksi bersama, dan menargetkan kerja sama itu terwujud paling lambat tahun depan.

Baca Juga:  Julizar Idris Anak Tanjung Enim yang Jadi Komisaris PLN EPI dan Peduli Pendidikan

Langkah berikutnya mengarah lebih jauh lagi. Seusai Sofia, SOLATA didaftarkan untuk berkompetisi di Tirana International Film Festival di Albania, salah satu ajang kualifikasi Academy Awards. Jika berhasil di sana, film ini berpeluang mewakili Indonesia di panggung Oscar pada tahun mendatang.

Ironinya, sebagian media mencatat film ini justru lebih ramai dibicarakan di luar negeri ketimbang di negerinya sendiri. Kepulangan tim SOLATA ke Indonesia disebut Ichwan sebagai momentum untuk mendekatkan kembali film itu kepada penonton dalam negeri.

“Setelah meraih penghargaan di Bulgaria dan menyelesaikan tur lima kota di empat negara Eropa Timur, SOLATA terus membawa pesan tentang pendidikan, persahabatan, kebudayaan, kemanusiaan, dan nasionalisme, sekaligus memperkenalkan wajah Indonesia melalui karya sinema,” katanya.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison
Tag :

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB