Binanews.id | Dalam kehidupan, ada kalanya manusia merasa bingung menghadapi jalan hidupnya sendiri. Ada yang sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Ada pula yang tiba-tiba mendapatkan kemudahan tanpa pernah diduga sebelumnya. Di titik itulah banyak orang mulai bertanya tentang qadha dan qadar, tentang takdir yang telah Allah tetapkan bagi setiap hamba-Nya.
Secara bahasa, qadha berarti ketetapan, perintah, atau pemberitaan. Imam Al-Zuhri menjelaskan bahwa qadha memiliki banyak makna, namun semuanya kembali kepada arti kesempurnaan ketetapan Allah. Dalam Al-Qur’an, salah satunya pada Surat Yusuf ayat 68, Allah menggambarkan bagaimana Nabi Ya’qub memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap ketetapan-Nya.
Sementara itu, qadar berasal dari kata qaddara yuqaddiru taqdiiran yang berarti penentuan. Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Surat Al-Fushilat ayat 10, ketika Allah menerangkan bahwa Dia menentukan kadar rezeki bagi penghuni bumi.
Para ulama kemudian menjelaskan perbedaan keduanya dengan sederhana namun mendalam. Qadha adalah ketetapan Allah yang sudah ada sejak zaman azali, sebelum manusia diciptakan. Sedangkan qadar adalah bagaimana ketetapan itu terjadi dalam kehidupan nyata. Ibnu Hajar dalam Fathul-Baari menjelaskan bahwa qadha adalah ketetapan global Allah, sementara qadar adalah rincian peristiwa yang berlangsung sesuai ketetapan tersebut.
Karena itu, segala yang terjadi dalam hidup manusia, baik berupa nikmat maupun musibah, sejatinya tidak pernah keluar dari kehendak Allah SWT. Keimanan kepada qadha dan qadar bahkan menjadi rukun iman keenam yang wajib diyakini oleh setiap Muslim.
Allah SWT telah menuliskan ketetapan seluruh makhluk jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Dalam Surat Al-Hadid ayat 22-23 disebutkan bahwa tidak ada satu pun bencana yang menimpa bumi maupun diri manusia kecuali semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ayat itu juga mengajarkan manusia agar tidak berlebihan dalam bersedih atas kehilangan dan tidak terlalu bangga atas kenikmatan yang dimiliki.
Namun, memahami takdir bukan berarti manusia boleh berhenti berusaha. Islam tidak mengajarkan kepasrahan tanpa ikhtiar. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa setiap manusia telah ditentukan tempatnya, tetapi beliau tetap memerintahkan umatnya untuk beramal. Sebab setiap orang akan dimudahkan menuju jalan yang dipilihnya.
Di situlah letak indahnya ajaran Islam. Takdir bukan alasan untuk malas, melainkan penguat hati agar manusia tetap berjalan. Doa, usaha, kesabaran, dan kerja keras adalah bagian dari perjalanan menuju ketetapan terbaik yang Allah kehendaki.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia sering memahami qadha dan qadar hanya sebatas “nasib”. Padahal takdir memiliki tingkatan dan waktu yang berbeda-beda.
Pertama, ada Takdir Umum atau Takdir Azali. Takdir ini telah ditetapkan Allah sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Saat itu Allah memerintahkan pena untuk menuliskan seluruh kejadian hingga hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda:
“Allah-lah yang telah menuliskan takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi.” (HR Muslim)
Kedua, Takdir Umuri, yaitu takdir yang ditetapkan ketika manusia masih berada dalam kandungan, tepatnya saat usia empat bulan. Pada saat itu malaikat diperintahkan mencatat rezeki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan seseorang.
Ketiga, Takdir Samawi, yakni ketetapan yang dicatat setiap malam Lailatul Qadar. Dalam Surat Ad-Dukhan ayat 4-5 dijelaskan bahwa pada malam itu ditetapkan segala urusan penuh hikmah untuk satu tahun ke depan, mulai dari rezeki hingga berbagai peristiwa kehidupan.
Keempat, Takdir Yaumi, yaitu ketetapan harian yang terjadi setiap waktu. Allah mengatur kehidupan makhluk-Nya setiap hari; memberi rezeki, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, hingga menghidupkan dan mematikan.
Semua jenis takdir itu pada akhirnya kembali kepada Takdir Azali yang telah tertulis di Lauhul Mahfuzh.
Memahami qadha dan qadar sejatinya bukan untuk membuat manusia takut terhadap masa depan, tetapi agar hati menjadi lebih tenang dalam menjalani hidup. Sebab tidak semua hal dapat dikendalikan manusia, tetapi setiap manusia selalu diberi kesempatan untuk memilih sikap terbaik dalam menghadapi hidupnya.
Ketika harapan belum tercapai, manusia belajar sabar. Ketika mendapatkan nikmat, manusia belajar bersyukur. Dan ketika jalan terasa berat, manusia belajar percaya bahwa Allah tidak pernah salah dalam menetapkan sesuatu.
Pada akhirnya, qadha dan qadar mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar tentang hasil, melainkan tentang bagaimana manusia tetap berikhtiar, berdoa, dan menjaga iman di tengah segala ketentuan Allah SWT. wallahualam bisshowab.









