Binanews.id | Pimpinan tim Olimpiade Fisika Indonesia Hendra Kwee menilai sistem pendidikan Indonesia terlalu santai menghadapi masa depan. Budaya remedial, anak yang nyaris tidak pernah tinggal kelas, dan ujian yang terus dipermudah membuat murid tidak merasa perlu berjuang.
“Seluruh sistem kita ini enggak maju-maju karena terlalu nyantai, gak ngerasa ada urgensinya,” katanya.
Kritik itu disampaikan Hendra Kwee dalam podcast Endgame episode 234 bersama Gita Wirjawan. Pendiri Yayasan Simetri yang doktor fisika lulusan College of William & Mary, Amerika Serikat, itu menggambarkan pola pikir yang kini terbentuk di sekolah yaitu kalau murid tidak lulus ulangan, justru gurunya yang pusing, sehingga guru memilih membuat soal yang lebih mudah.
Ia membandingkan dengan dunia kerja yang tidak mengenal kompromi semacam itu. “Waktu kita masuk dunia kerja, emang bisa ngomong ke bos, saya gak mau stres, bos? Kamu kasih kerjaan bikin saya stres, saya enggak mau. Enggak bisa, kan?” ujar Hendra Kwee. Menurutnya, tuntutan ke depan justru makin berat seiring berkembangnya kecerdasan buatan, tetapi capaian pendidikan malah terus dikompromikan.
Perbandingan paling mencolok datang dari Tiongkok. Seorang kenalannya dari Tiongkok daratan sampai keheranan melihat pelajar Indonesia. Di sana, siswa SMP bisa belajar sampai pukul 11 malam di sekolah, dan jutaan anak belajar mati-matian demi ujian masuk perguruan tinggi gaokao — karena kampus yang bagus dianggap menentukan jalan hidup. Untuk seleksi olimpiade fisika saja, Tiongkok menjaring 500-600 ribu anak di tahap awal sementara Indonesia baru belasan ribu.
Hendra Kwee juga menyoroti budaya menghafal yang mematikan nalar kritis. Ia mencontohkan pelajaran yang menuntut hafalan definisi kata per kata dan tanggal-tanggal perjanjian, alih-alih pertanyaan yang mengasah pemahaman seperti hubungan Perang Dunia I dengan Perang Dunia II. Di era ponsel pintar, katanya, hafalan bisa dicari lewat mesin pencari — yang sulit dicari adalah pemahaman.
Akar persoalan lain ada di guru. Menurut Hendra Kwee, profesi guru belum diisi putra-putri terbaik karena banyak yang menjadikannya pilihan terakhir. Ia pernah terlibat memeriksa jawaban seleksi provinsi olimpiade dari sekitar 1.700 peserta, jawaban yang bermakna hanya sekitar 100. Ada pula cerita murid daerah yang gurunya hanya datang saat gajian.
Gita Wirjawan menimpali dengan soal kesejahteraan, yaitu sulit berharap guru berkualitas bila gajinya Rp 2-3 juta per bulan, sementara guru di Singapura menerima setara Rp 40-50 juta. Mantan Menteri Perdagangan itu melempar eksperimen gagasan yaitu dengan merekrut 100 ribu guru STEM terbaik dan menggajinya Rp 40 juta di kabupaten-kota terpilih, dengan biaya sekitar Rp 50 triliun dari anggaran pendidikan Rp 500 triliun, asalkan kinerjanya diukur.
Meski kritis, Hendra Kwee menutup dengan optimisme. Ia meminta pelajar tidak menjadikan matematika dan fisika momok yang menakutkan, sebab keduanya bisa dipahami lewat keseharian. Pendidikan, katanya, adalah kunci satu-satunya bagi anak dari keluarga sederhana untuk naik kelas — seperti dirinya, anak rumah kayu di Palembang yang ayahnya hanya lulusan SMP, yang kini melatih para calon fisikawan Indonesia.
Disarikan dari podcast Endgame #234 “Pendidikan di Indonesia Terlalu Santai?” bersama Hendra Kwee, kanal YouTube Gita Wirjawan.









