Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:26 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

dok BBC

dok BBC

Binaenews.id | Pada akhir 2007, Lionel Messi belum menjadi legenda seperti sekarang. Usianya baru dua puluh tahun. Ia memang telah membuat dunia menoleh, tetapi lemari pialanya belum penuh dan namanya belum sepenuhnya berdiri sejajar dengan para dewa sepak bola.

Suatu hari, Messi mengikuti pemotretan kalender amal yang digagas Yayasan FC Barcelona bersama harian Sport. Dalam salah satu sesi, ia diminta menggendong dan memandikan seorang bayi berusia beberapa bulan. Keluarga bayi itu terpilih melalui undian. Messi mungkin menganggapnya sebagai kegiatan sosial biasa.

Kamera menangkap seorang pemuda berambut panjang yang terlihat sedikit kikuk ketika menopang tubuh bayi di dalam bak plastik. Bayi kecil itu bernama Lamine Yamal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak seorang pun menyadari bahwa foto tersebut sedang menyimpan masa depan.

Hampir sembilan belas tahun kemudian, bayi yang dahulu berada dalam pelukan Messi tumbuh menjadi salah satu pemain paling menakutkan di dunia. Ia tidak lagi berbaring di dalam bak mandi. Ia berdiri di sisi berlawanan, mengenakan seragam Spanyol, bersiap menghadapi Argentina pada final Piala Dunia 2026.

Now and then.

Dahulu, Messi menggendong Yamal. Kini, keduanya memanggul harapan bangsanya masing-masing.

Final yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026 waktu setempat itu bukan hanya pertandingan antara Argentina dan Spanyol. Ia seperti sebuah lorong waktu. Di salah satu ujungnya berdiri seorang legenda yang telah menempuh hampir seluruh perjalanan. Di ujung lain berdiri seorang anak muda yang baru saja membuka pintu sejarah.

Baca Juga:  Cara Menguatkan Mental agar Tetap Tangguh Menghadapi Hidup

Messi datang pada usia 39 tahun. Yamal baru berusia 19 tahun. Di antara mereka terbentang selisih dua dekade: jarak antara sebuah perjalanan yang mendekati senja dan sebuah petualangan yang baru disentuh cahaya pagi.

Messi adalah senja yang belum kehilangan cahaya. Langkahnya mungkin tidak secepat dahulu. Tubuhnya telah melewati ribuan tekel, ratusan pertandingan, dan luka-luka yang tidak semuanya terlihat oleh mata. Namun, bola masih seperti mengenali kakinya.

Di tengah pemain muda yang berlari seperti angin, Messi tetap mampu menemukan ruang yang tidak dilihat orang lain. Ia tidak selalu bergerak paling jauh. Tidak selalu berlari paling cepat. Tetapi ketika bola datang kepadanya, waktu seolah melambat. Satu sentuhan dapat mengubah arah pertandingan. Satu umpan dapat membuka pintu yang beberapa detik sebelumnya tampak tertutup.

Ia telah mengangkat hampir semua trofi yang dapat dimenangkan seorang pesepak bola. Ia juga telah merasakan pahitnya kekalahan, kritik, dan kegagalan bersama tim nasional. Berkali-kali ia pulang dengan kepala tertunduk. Berkali-kali pula ia datang kembali.

Di seberangnya berdiri Yamal.

Anak muda yang bermain seolah-olah lapangan adalah halaman rumahnya sendiri. Ia menggiring bola tanpa rasa takut, mengecoh pemain yang jauh lebih tua tanpa kehilangan kegembiraan, lalu melepaskan tembakan melengkung seperti seseorang sedang menggambar pelangi.

Pada usia ketika banyak remaja masih kebingungan menentukan arah hidup, Yamal telah menjadi juara Eropa bersama Spanyol. Ia menjadi pemain termuda yang tampil dan mencetak gol dalam sejarah Piala Eropa. Sebelum genap berusia enam belas tahun, ia telah menjalani debut bersama tim utama Barcelona.

Baca Juga:  Kecelakaan di Jalan Raya Kemang, Seorang Pengendara Motor Tewas

Ia bukan sekadar anak muda yang menjanjikan. Ia adalah masa depan yang datang lebih cepat.

Messi dan Yamal memiliki banyak kesamaan. Keduanya tumbuh dalam pendidikan sepak bola Barcelona. Keduanya berkaki kiri. Keduanya tidak memiliki tubuh sebesar para pemain bertahan yang mereka hadapi. Namun, keduanya melihat celah yang bahkan belum sempat terbuka.

Mereka tidak hanya bermain dengan kaki. Mereka bermain dengan imajinasi.

Meski demikian, Yamal tidak harus menjadi “Messi berikutnya”. Dunia sering terlalu tergesa-gesa mencari pengganti. Ketika seorang bintang mulai menua, kita segera menunjuk seorang anak muda, meletakkan mahkota di kepalanya, lalu membandingkan gol, nomor punggung, gaya menggiring bola, dan cara merayakan kemenangan.

Padahal setiap jenius memiliki jalan sendiri.

Messi tumbuh dengan perjuangan, keraguan, kegagalan, dan caranya sendiri. Demikian pula Yamal. Ia tidak perlu mengejar bayangan Messi. Bayangan selalu berada di belakang. Seorang anak muda seharusnya berjalan menuju cahaya di depannya.

Karena itu, final ini lebih besar daripada sekadar duel dua nomor punggung. Ia adalah pertemuan antara kenangan dan harapan.

Messi mengingatkan kita bahwa kehebatan dibangun oleh kesetiaan yang panjang. Selama bertahun-tahun ia datang, kalah, dikritik, lalu kembali. Ia bertahan cukup lama hingga air mata kesedihan berubah menjadi air mata kemenangan.

Yamal mengingatkan kita bahwa usia muda bukan alasan untuk merasa kecil. Masa depan tidak selalu harus menunggu izin dari masa lalu. Kadang-kadang ia datang lebih cepat, mengenakan sepatu bola, lalu berlari melewati orang-orang yang jauh lebih berpengalaman.

Baca Juga:  Pohon Dikenang Karena Buahnya

Keduanya mengajarkan pesan yang sama dari dua arah berbeda.

Messi seolah berkata: jangan berhenti hanya karena bertambah usia.

Yamal menjawab: jangan takut memulai hanya karena usiamu masih muda.

Pada akhirnya, final selalu membutuhkan pemenang. Seseorang akan mengangkat piala. Seseorang yang lain akan berdiri beberapa meter darinya, berusaha menyembunyikan air mata. Begitulah sepak bola: indah karena tidak semua doa dapat dikabulkan pada malam yang sama.

Namun, apa pun hasilnya, kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada skor.

Seorang bayi yang dahulu digendong Messi kini datang untuk menantangnya. Seorang legenda yang dahulu disebut masa depan kini berusaha mempertahankan mahkotanya dari generasi berikutnya. Foto lama itu seakan hidup, bernapas, dan berlari di atas rumput.

Mungkin setelah pertandingan, Messi dan Yamal akan berpelukan.

Bukan lagi pelukan seorang pemuda kepada seorang bayi. Melainkan pelukan dua jenius yang bertemu di perbatasan zaman.

Yang satu seolah berkata, “Aku telah menjaga permainan ini selama bertahun-tahun.”

Yang lain menjawab, “Serahkan kepadaku. Aku akan membawanya berjalan lebih jauh.”

Siapa pun yang menang, sepak bola tidak akan kalah. Sebab pada malam itu, masa lalu dan masa depan tidak sedang bertengkar. Keduanya hanya sedang bergantian menjaga keindahan permainan.

Dahulu, masa depan berada dalam pelukan Messi.

Sekarang, masa depan sedang dirancang untuk Yamal.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Kenapa Harus Ada Underdog?

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB