Binanews.id | Bogor–Warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, mengenal Supriyanto sebagai tukang bangunan. Siang hari ia mengangkut semen, menyusun batu bata, berlumuran debu dan keringat. Namun ketika malam tiba, pria berusia 40 tahun ini berubah menjadi ulama yang karya-karyanya diakui hingga ke Timur Tengah.
Di dunia literasi Islam, ia lebih dikenal dengan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi. Nama itu ia pilih dari kakeknya, Harjo, seorang petani yatim piatu yang mengajarinya bahwa hidup tidak perlu aneh-aneh dan tidak perlu terkenal.
Pada Juli 2026, Majelis Ulama Indonesia menetapkan Mbah Riyan sebagai penerima MUI Award 2026 kategori Karya Tulis Islam. Penghargaan itu diberikan atas dedikasinya mentahqiq, menyunting dan meneliti secara mendalam, kitab-kitab klasik karya ulama Nusantara. Lebih dari 100 kitab telah ia tahqiq, sekitar 60 di antaranya sudah diterbitkan di dalam dan luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karyanya diakui ulama internasional, termasuk Syekh Abdul Aziz Syahawi dari Al-Azhar Mesir. Dalam sebuah dokumentasi, Mbah Riyan terlihat memaparkan hasil tahqiq Kitab Tahrir di hadapan sang syekh.
Namun saat MUI mengundangnya ke Jakarta untuk menerima penghargaan secara langsung, Mbah Riyan memilih tidak hadir. Ia menolak dengan alasan sederhana yaitu, ingin hidup tenang, berkarya tanpa keriuhan, dan menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah.
“Menjalani hidup selayaknya orang biasa saya rasa sudah cukup. Tidak perlu mengejar ketenaran, yang terpenting karya yang saya buat ini bisa bermanfaat bagi banyak orang,” katanya.
Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Digital, KH Masduki Baidlowi, menyebut Mbah Riyan sebagai sosok al-mastur, orang yang tidak menampakkan keistimewaan dirinya . “Beliau termasuk sosok al-mastur, yakni orang yang tidak menampakkan keistimewaan dirinya. Ketika diundang untuk menerima penghargaan pun beliau memilih tidak hadir karena sikap tawaduk dan kezuhudannya,” ungkap Masduki.
Perjalanan keilmuannya dimulai sejak kecil. Ia belajar di Madrasah Diniyah Hidayatul Huda di kampungnya sambil menempuh pendidikan formal di SDN 3 Wates, MTs Nahdlatul Muslimin, dan MA Nahdlatul Muslimin di Undaan Kidul . Ia tidak pernah mondok, hanya mengaji malam hari atau “ngaji kalong”. Berkat ketekunannya, ia meraih beasiswa ke LIPIA Jakarta pada 2005 dan lulus sebagai peringkat tiga terbaik.
Aktivitas mentahqiq dimulainya pada 2012 saat masih menjadi mahasiswa. Karya pertamanya adalah kitab Faraid Saniyah karya KH Syaroni Ahmadi, ulama asal Kudus . Sejak itu ia terus menahqiq. Di samping itu, ia juga menulis sekitar 10 karya berbahasa Arab dalam berbagai bidang keilmuan Islam .
Mbah Riyan memiliki alasan khusus menahqiq kitab ulama Nusantara. Ia khawatir manuskrip ulama tanah air jatuh ke tangan yang salah dan diselewengkan. “Saya juga ada kekhawatiran kalau kitab atau manuskrip ulama Nusantara ini jatuh ke tangan pihak yang tidak sesuai atau sepemahaman. Karena ada beberapa amalan di Nusantara yang dianggap tidak sesuai, jadi dibelokkan, disingkirkan, akhirnya jadi sesat. Jadi, saya menahqiq kitab ulama-ulama Nusantara untuk menjaga orisinalitasnya,” ujarnya.
Sejak 2018, ia memutuskan kembali ke kampung halaman, menjalani hidup sederhana, dan tidak lagi menggunakan media sosial . Ia hanya memakai WhatsApp dan itupun hanya untuk nomor tertentu, seperti teman mancing dan yang biasa meminta mentahqiq . Kadang ia menjadi kuli bangunan, pernah juga bekerja di gudang ekspedisi . Karyanya ia bagikan gratis di internet agar ilmunya lebih mudah diakses.
“Saya berusaha untuk menghindar dari situ,” katanya lirih saat ditanya soal viral kisahnya.
Editor : Fathurroji









