Binanews.id |Bogor. Udara dingin yang menyelimuti kawasan Puncak selama musim penghujan menghadirkan suasana yang berbeda bagi pengunjung wisata di kawasan Puncak. Di tengah hawa pegunungan yang menusuk hingga malam hari, Minuman hangat Jahe Susu atau biasa dikenal sebutan Bandrek sudah menjadi ciri khas yang sering kali dipesan pengunjung dikawasan Puncak apalagi kalau temani sajian kue putu hangat menjadi salah satu jajanan tradisional yang paling dicari untuk menemani waktu bersantai.
Aroma harum pandan yang berpadu dengan manisnya gula aren cair di dalam kue putu mampu menggugah selera siapa saja. Tak heran jika jajanan tradisional ini masih bertahan dan tetap diminati meski berbagai makanan siap saji banyak dijual dimana-mana. Kue putu dan Minuman Badrek khas Kawasan Puncak Bogor, menjadi salah satu kuliner legendaris yang kehadirannya mulai langka ditemui di sejumlah sudut Kawasan Puncak. Khusus Kue Putu, biasanya pedagang menjajakan pada sore hingga malam hari, saat suhu udara dingin mulai turun dan wisatawan dikawasan Puncak mencari makanan hangat untuk menemani minuman Badrek Susu Jahe..
Komposisi Kue Putu, pada umumnya terbuat dari tepung beras yang diisi gula merah, kemudian dikukus menggunakan cetakan bambu kecil, kue putu memiliki tekstur lembut dengan sensasi manis yang khas. Sajian ini semakin nikmat berkat taburan kelapa parut yang memberikan rasa gurih alami.
Bagi wisatawan pengunjung Kawasan Puncak Bogor, kue putu dan bandrek susu jahe bukan sekadar jajanan biasa. Kuliner tradisional ini menyimpan kenangan masa kecil yang sulit dilupakan. Suara khas peluit dari alat pengukus pedagang putu yang biasanya berjualan berkeliling kampung, suara peluit tersebut yang terdengar dari kejauhan sering kali menjadi penanda hadirnya camilan favorit lintas generasi tersebut namun saat ini pedagang kue putu sudah jarang ditemui berkeliling kampung. Di tengah gempuran aneka camilan kekinian, kue putu dan minuman bandrek susu jahe mampu bertahan karena menawarkan cita rasa autentik yang sulit tergantikan khususnya bagi wisatawan di kawasan puncak bogor. Bahan-bahannya sederhana, namun menghasilkan perpaduan rasa manis, gurih, dan aroma khas yang menjadi daya tarik tersendiri.
Selain itu, pedagang kue putu juga sesekali sering ditemui berkeliling kampung ketika ada acara pengajian Tabligh Akbar, harga yang sangat murah terjangkau bagi semua kalangan membuat jajanan ini tetap menjadi pilihan masyarakat. Pembeli dapat menikmati beberapa potong kue putu hangat dengan harga satuannya seribu rupiah, biasanya pedagang kue putu menjualnya secara satuan, dan pembeli bebas mau membeli berapa potong pun pasti dilayani. Jajanan ini, khas kuliner tradisional dari generasi ke generasi, masih tetap menjadi simbol kehangatan ketika disajikan saat kumpul keluarga, Cuaca dingin membuat masyarakat lebih tertarik mencari makanan hangat yang mampu mengusir hawa dingin.
Banyak penyuka kuliner ini, yang datang tidak hanya berasal dari kalangan orang tua yang sudah lama mengenal jajanan tersebut. Banyak juga anak muda hingga wisatawan dikawasan puncak yang penasaran ingin mencicipi kuliner tradisional yang mulai jarang ditemukan di daerah lain. (Ted)









