Kejar Target Kurikulum atau Ciptakan Sekolah Bebas Kekerasan, Mana yang Lebih Penting?

Bisyral

- Redaksi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Jakarta- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya menghadirkan kondisi sekolah yang kondusif dan mendukung pengembangan diri murid. Untuk itu, hadirlah Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

BSAN adalah keseluruhan tata nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di lingkungan sekolah.

Tujuannya, untuk menjamin pemenuhan kebutuhan spiritual, pelindungan fisik, kesejahteraan psikologi, dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keagamaan digital demi menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi warga sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Guru punya peran sentral dalam menghadirkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman ini. Tapi, di satu sisi guru juga punya tugas penting dalam mengejar target kurikulum dan prestasi akademik.

Lantas, bisakah kedua hal ini benar-benar berjalan seiringan? Mana hal yang paling mendesak untuk diperhatikan guru?

Baca Juga:  Kemenekraf Dorong Regenerasi Penulis Tingkatkan Ekosistem Penerbitan

Terkait hal itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami beri jawaban. Baginya, sebagai seorang pendidik seharusnya guru tak perlu memilih salah satunya.

“Menurut saya sebenarnya kita tidak perlu memilih salah satu karena memang keduanya ini bukan dua agenda yang saling berkompetisi. Tapi, justru saling menguatkan,” bebernya dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang ditayangkan secara daring.

Rusprita tidak bisa memungkiri bila guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan murid bisa mencapai kompetensi akademik terbaik. Namun, ia menekankan bila hal ini akan sulit tercapat jika sekolah dalam kondisi yang tidak dan nyaman untuk belajar.

“Kita juga harus menyadari bersama bahwa anak ini akan sangat sekali belajar secara optimal jika dia datang ke sekolah dalam keadaan tertekan, takut, tidak merasa diterima, atau justru malah mengalami kekerasan dalam bentuk misalnya perundungan,” bebernya.

Baca Juga:  Heboh Aturan STNK untuk Beli BBM Subsidi, Pertamina Tegaskan Bukan Kebijakan Nasional

Dengan begitu, Rusprita menyebut memang budaya sekolah aman dan nyaman perlu dihadirkan. BSAN juga disampaikannya bukanlah pekerjaan tambahan guru di luar pembelajaran.

“Namun, justru ini adalah fondasi dari pembelajaran itu sendiri,” sambung Rusprita.

Ruang belajar yang kuat tercermin dari kondisi ketika murid merasa aman secara fisik, psikologis, dihargai, memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya, berani bertanya, berani berpendapat, hingga berani mengaku kesalahannya.

“Jadi sebenarnya kalau menurut saya pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih penting antara prestasi atau rasa aman. Namun, justru bagiaman kita bisa menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman agar setiap anak bisa belajar, berkembang, dan berprestasi secara optimal,” tegasnya lagi.

Baca Juga:  Menteri PPPA Arifah Minta Maaf Soal Pernyataan Gerbong Khusus Perempuan

Menghadirkan BSAN memang tidak bisa dibebankan seluruhnya kepada guru. Guru memang disebutnya sebagai aktor penting, tapi BASN bisa dihadirkan dengan ekosistem yang saling mendukung.

Ekosistem yang dimaksud Rusprita adalah kepala sekolah, tenaga kependidikan, bahkan melibatkan orang tua atau wali murid, serta murid itu sendiri. Baginya, sekolah yang hebat bukan sekedar memiliki prestasi akademik, tapi sekolah yang mampu menghadirkan rasa aman pada muridnya.

“Menurut kami sekolah yang hebat itu bukan hanya sekolah yang anak-anaknya berprestasi, memenangkan kompetisi. Tapi, justru sekolah yang bisa memampukan setiap anak untuk belajar dengan rasa aman, kemudian mereka memiliki kenyamanan untuk bisa bertumbuh, dan juga memiliki kesempatan untuk bisa mencapai prestasi terbaik,” ucapnya.

Berita Terkait

Setahun Eskalator Skybridge Stasiun Bojonggede Rusak, Dishub Buka Suara
Pemkot Bogor Tingkatkan Kesejahteraan 1.189 Guru PAUD, Beasiswa 60 Pendidik
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Wali Kota Bogor Ajak Sekolah Swasta Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing
Para Wali Kota Peserta Mayor’s Talk Nikmati Kesejukan Kota Bogor
Pemkab Bogor Perkuat Peran Bunda PAUD Tingkatkan Akses Pendidikan Anak
Waste Station Rekosistem, Perkuat Ekosistem Persampahan dari Hulu Ke Hilir
Perkuat Kolaborasi, TP PKK Kota Makassar Lakukan Studi Tiru Ke Kota Bogor

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:28 WIB

Setahun Eskalator Skybridge Stasiun Bojonggede Rusak, Dishub Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:26 WIB

Pemkot Bogor Tingkatkan Kesejahteraan 1.189 Guru PAUD, Beasiswa 60 Pendidik

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:05 WIB

Kejar Target Kurikulum atau Ciptakan Sekolah Bebas Kekerasan, Mana yang Lebih Penting?

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Wali Kota Bogor Ajak Sekolah Swasta Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB