Isrodin, Pendiri Sekolah Hutan di Lereng Gunung Slamet yang Tolak Anak Putus Sekolah

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Senin, 28 September 2026 - 10:51 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, berdiri sebuah sekolah kayu berdinding sederhana. Letaknya di pinggir hutan, sekitar 18 kilometer barat laut Alun-alun Purwokerto. Dari beranda sekolah, terlihat hamparan Telaga Kumpe dan pepohonan lereng Gunung Slamet. Sekolah itu bernama MTs Pakis.

Pendirinya, Isrodin, 43 tahun. Warga akrab menyapanya Kang Is. Ia bukan kepala dinas, bukan pejabat, bukan tokoh yang sering muncul di layar televisi. Ia hanya seorang lulusan Manajemen Pendidikan Islam yang memilih pulang ke kampung dan mengabdi di sana.

Semua bermula dari kegelisahan. Isrodin bisa kuliah sampai perguruan tinggi. Tapi di desanya, banyak anak tidak tamat SD. Ada yang putus sekolah karena jarak, biaya, atau harus bekerja membantu orang tua. Anak perempuan cenderung menjadi asisten rumah tangga, anak laki-laki menjadi buruh kasar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya bisa kuliah, lalu melihat ada anak tidak sekolah sama sekali, SMA tidak, SMP tidak, rasanya tidak adil saja bagi saya,” kata Isrodin . “Masak mereka tidak punya kesempatan, rasanya tidak tega.”

Baca Juga:  Hanifah, Mahasiswi UIB Raih Runner Up 1 Putera Puteri Budaya Banten 2026

Kegelisahan itu ia wujudkan pada 2013. Bersama relawan dan komunitas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Argo Wilis, ia mendirikan MTs Pakis . Sekolah itu berdiri di atas tanah sederhana, tanpa gedung megah, tanpa fasilitas lengkap. Yang ada hanya tekad dan beberapa orang yang mau bergerak.

MTs Pakis tidak memungut SPP. Tidak ada seragam. Tidak ada biaya daftar ulang dalam bentuk uang. Wali murid cukup membawa hasil bumi seperti beras, ketela, pisang, ubi jalar, ayam . Hasil bumi itu dikembalikan kepada siswa dan wali murid dalam bentuk olahan masakan. Bagi Isrodin, hasil bumi itu menjadi ikatan bahwa pendidikan tidak melulu soal uang .

Guru-gurunya juga tidak digaji. Mereka relawan, kebanyakan mahasiswa dari perguruan tinggi di Purwokerto. Ada yang dari Amikom, ada dari Unsoed. Kadang alumni yang sudah lulus kembali mengajar . Isrodin sendiri merangkap kepala sekolah dan penjaga sekolah .

Kurikulumnya menginduk pada MTs Maarif NU 2 Cilongok. Tapi cara belajarnya berbeda. Sekitar 60 persen praktik di lapangan, 40 persen teori di kelas . Siswa belajar bertani, beternak, kehutanan, memotret satwa. Mereka menanam kopi, aren, dan tanaman konservasi. Hasil kopi robusta yang tumbuh di sekitar hutan diolah dan dijual untuk menopang operasional sekolah .

Baca Juga:  BPRS Amanah Ummah, dari Leuwiliang Wujudkan Amanah Ulama Visionir untuk Umat

Sejak 2013, MTs Pakis telah meluluskan puluhan siswa. Beberapa di antaranya melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa Bidikmisi dan KIP Kuliah, di UIN Saizu, Unsoed, dan UMP . Tahun 2026, jumlah siswanya 22 orang .

Kehadiran MTs Pakis juga menjadi upaya mencegah pernikahan dini di wilayah lereng Gunung Slamet. Anak-anak yang sebelumnya rentan putus sekolah kini punya tempat untuk belajar, meski jauh dari kota.

Pada April 2026, Isrodin masuk nominasi Penghargaan Kalpataru Provinsi Jawa Tengah kategori Perintis Lingkungan. Tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah turun langsung melakukan verifikasi lapangan ke MTs Pakis . Dari 11 nominator, ia lolos ke empat besar .

Sebulan kemudian, 23 Mei 2026, Isrodin menerima Liputan6 Award 2026 kategori sosok inspiratif pendidikan. Penghargaan diserahkan di Studio Liputan6 Jakarta. Ia menerima trofi dan uang pembinaan Rp30 juta .

Baca Juga:  Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Menteri Agama Nasaruddin Umar memberi apresiasi. “Masih ada anak-anak yang harus berjuang hanya untuk bisa bersekolah. Di tengah kondisi itu, hadir orang-orang yang memilih tetap bergerak dan percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan,” ujarnya .

Bagi Isrodin, pendidikan bukan soal ijazah. Bukan soal lulus SD, SMP, SMA. Pendidikan harus punya makna dalam kehidupan masyarakat.

“Pendidikan harus berdampak dan punya makna dalam kehidupan masyarakat. Semua pihak perlu terlibat karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” katanya saat menerima penghargaan .

Ia juga menyampaikan pesan sederhana yang menjadi filosofi sekolahnya. “Mari menjadikan alam sebagai guru dan sekolah sebagai rumah bersama” .

Di Dusun Pesawahan, Isrodin tidak hanya membangun sekolah. Ia membangun cara pandang baru tentang pendidikan. Bahwa anak desa, anak pinggir hutan, juga punya hak yang sama untuk belajar. Bahwa hasil bumi bisa menjadi biaya sekolah. Bahwa alam bisa menjadi ruang kelas.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB