Binanews.id | Bogor – Di tengah tantangan dunia pendidikan yang terus berubah, profesi guru dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengajar secara teknis. Guru juga dituntut memiliki jiwa pengabdian, kemampuan memahami manusia, serta semangat untuk terus bertumbuh bersama peserta didik.
Pandangan tersebut disampaikan Syarkowi, guru SMPN 3 Megamendung, saat berbincang mengenai perjalanan hidup dan pandangannya terhadap dunia pendidikan, Kamis (28/5/2026).
Syarkowi mengaku, dirinya tidak langsung memiliki keyakinan besar untuk menjadi seorang guru. Setelah lulus kuliah pada masa pandemi Covid-19, ia sempat mengalami masa sulit mencari pekerjaan dan menjalani berbagai pekerjaan serabutan selama hampir dua tahun.
“Waktu itu situasi kerja memang sulit. Akhirnya saya mencoba masuk ke dunia pendidikan,” ujarnya.
Syarkowi mengaku, keyakinannya untuk menjadi seorang guru tumbuh secara bertahap melalui perjalanan hidup dan pengalaman yang ia jalani setelah menyelesaikan kuliah pada masa pandemi Covid-19. Dalam kurun waktu hampir dua tahun, ia mencoba berbagai bidang pekerjaan yang kemudian mempertemukannya dengan dunia pendidikan.
“Waktu itu situasi kerja memang penuh tantangan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai terlibat di dunia pendidikan dan ternyata menemukan banyak pengalaman berharga yang membuat saya nyaman menjalani profesi ini sampai sekarang,” ujarnya.
Namun seiring waktu, dunia mengajar justru membawanya pada pengalaman emosional yang berbeda. Ia merasa menemukan makna baru ketika mulai dekat dengan kehidupan para murid.
“Setelah dijalani ternyata nyaman. Ada rasa hidup ketika bisa membersamai anak-anak,” katanya.
Lulusan Manajemen Pendidikan Islam (MPI) tersebut menjelaskan, sejak masa kuliah dirinya memang tertarik pada konsep pendidikan yang tidak sekadar berfokus pada kegiatan belajar-mengajar, tetapi juga membangun sistem pendidikan yang sehat, mandiri, dan manusiawi.
Ia bahkan memiliki cita-cita membangun sekolah berbasis pesantren dengan sistem pendanaan yang tidak sepenuhnya membebani masyarakat.
“Menurut saya pendidikan itu ruang pengabdian. Karena itu, lembaga pendidikan juga perlu dibangun dengan kemandirian dan kreativitas,” tuturnya.
Menurut Syarkowi, guru perlu memiliki kemampuan berkembang di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal ekonomi dan kewirausahaan. Hal tersebut penting agar profesi pendidik tetap memiliki martabat dan tidak kehilangan daya hidupnya.
“Guru jangan sampai bermental peminta. Semangat mandiri itu penting,” ujarnya.
Ia juga memahami beratnya perjuangan para guru honorer. Syarkowi mengingat masa awal dirinya mengajar dengan penghasilan yang terbatas, sementara tanggung jawab pekerjaan cukup besar.
“Menjadi guru itu bukan pekerjaan ringan. Ada proses mengajar, menyiapkan materi, memahami karakter anak, sampai membangun komunikasi dengan mereka,” katanya.
Meski demikian, menurutnya tantangan terbesar seorang guru justru terletak pada kemampuan memahami murid yang datang dari latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda-beda.
“Anak-anak itu membawa cerita hidup masing-masing. Guru harus bisa menerima mereka secara utuh,” ujarnya.
Ia menilai pendekatan yang terlalu keras dan penuh kritik justru membuat peserta didik menjauh secara emosional. Sebaliknya, dialog dan penerimaan menjadi jalan untuk membangun kedekatan yang lebih sehat antara guru dan murid.
“Semua orang pada dasarnya ingin dihargai dan didengarkan, termasuk anak-anak,” katanya.
Dalam proses mengajar, Syarkowi banyak terinspirasi dari pemikiran Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil yang menekankan pentingnya dialog dalam pendidikan. Menurutnya, proses belajar idealnya menjadi hubungan dua arah, di mana guru dan murid sama-sama bertumbuh.
“Kadang guru juga belajar dari murid. Dari ngobrol dengan mereka, kita jadi memahami banyak hal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menghadirkan suasana belajar yang hidup di dalam kelas. Menurutnya, mengajar tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga membutuhkan ekspresi, komunikasi, dan pendekatan yang hangat.
“Anak-anak biasanya lebih mudah menerima pelajaran kalau suasananya menyenangkan. Humor, storytelling, sampai senyum itu penting,” katanya sambil tersenyum.
Di akhir perbincangan, Syarkowi berpesan agar para guru terus memperbarui kompetensi diri dan tidak kehilangan semangat dalam mendidik generasi muda.
“Ngajar itu bukan cuma soal teknis. Harus ada jiwa di dalamnya,” pungkasnya.[]









