Binanews.id | Bogor. Perubahan cara pandang generasi z (Gen Z) terhadap dunia kerja, membuat banyak industri harus merubah cara adaptasi untuk menarik minat tenaga kerja baru. Mindset cara berpikir anak muda yang lebih tertarik bekerja di di bidang teknologi, kreatif, maupun startup dibandingkan bidang pertanian dan perkebunan yang kerap dianggap kurang menjanjikan. Profesi konten kreator, Desainer Visual, Marketing Online, hingga Influencer semakin menjamur di semua bidang.
Pekerjaan dibidang manufkatur dan konvensional mulai menghadapi tantangan berat regenerasi sumber daya manusia (SDM). Bidang Pertanian dan Perkebunan yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan ekonomi negara Indonesia dalam swasembada pangan sudah tidak menarik untuk dijadikan target utama menjalani profesi karier.
Padahal, sektor pertanian dan perkebunan penyumbang kontribusi besar terhadap perekonomian nasional, baik dari sisi penyerapan tenaga kerja maupun aktivitas ekonomi di daerah. Tantangannya sekarang adalah memastikan adanya keberlanjutan regenerasi pekerja dan profesional yang akan mengelola industri tersebut di masa depan.
Minat Generasi Z mengalami pergeseran minat kerja ke Profesi Digital. Profesi seperti konten kreator, streamer, Influencer, dan Visual Desainer, hingga digital marketer menjadi tujuan utama karier yang lebih menarik. Dampaknya, bidang tradisional seperti pertanian dan perkebunan harus bekerja lebih keras untuk mempromosikan peluang yang menarik dan tersedia kepada generasi muda agar mereka kembali tertarik terjun ke bidang ini, tantangannya efisiensi waktu dan gaji yang ditawarkan harus lebih menarik pula.
Salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian dan perkebunan adalah mindset masyarakat yang masih menganggap bahwa bidang ini hanya berkaitan dengan mengurus lahan kebun saja tanpa melihat prospek di dalamnya. Padahal, kalau dipelajari dan ditekuni secara mendalam bidang pertanian dan perkebunan justru sangat menjanjikan karena kebutuhan hasil pertanian dan perkebunan di pasar tradisional dan modern sangat mendesak, salah satunya kebutuhan sayuran dan buah-buahan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP). Bahkan kebutuhan tenaga kerja di bidang ini cukup menjanjikan dan beragam, mulai dari bidang riset, teknologi, pengolahan hasil, manajemen rantai pasok, hingga keberlanjutan lingkungan. Namun, kenyataannya peluang tersebut tidak banyak dilirik oleh generasi Z (Gen Z) karena dianggap kurang menarik dan tidak menjanjikan untuk jadi bekal hidup.
Padahal seiring meningkatnya kebutuhan pasar terhadap hasil pertanian dan perkebunan. Transformasi teknologi juga mulai menyentuh bidang pertanian dan perkebunan. Mulai dari penggunaan big data, mekanisasi, reformasi manajemen, hingga inovasi berbasis teknologi modern yang membuat kebutuhan SDM tidak lagi terbatas pada pekerjaan konvensional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal ini membuka peluang besar dan menjanjikan bagi generasi muda dengan background keilmuan yang beragam untuk terlibat dalam memajukan bidang pertanian dan perkebunan dengan keahlian bidang teknologi hingga riset. Meskipun bidang ini belum begitu populer dan masih dianggap tradisional, namun profesi digital di bidang ini sangat boleh dicoba terlebih dahulu, prediksi pasar menilai bahwa kebutuhan talenta di bidang pertanian dan perkebunan diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Tantangannya adalah tergantung pada strategi dan inovasi pemangku kebijakan di bidang ini, bagaimana memperkenalkan sektor tersebut menarik bagi generasi muda agar mereka melihatnya sebagai salah satu pilihan karier yang relevan dan menjanjikan di masa depan. (Ted)









