Dr. Syahidah Rena: Membangun Fondasi Psikologi Pendidikan Islam

Irwan Maulana

- Redaksi

Selasa, 19 Mei 2026 - 12:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Jakarta — Saat banyak akademisi masih memisahkan ilmu jiwa dari ilmu agama, ia justru menjadikan integrasinya sebagai misi hidup — membangun disiplin psikologi pendidikan Islam yang ilmiah, relevan, dan berpijak pada Al-Qur’an.

Di persimpangan antara dua dunia keilmuan yang selama ini seolah tak pernah bertemu, hadir seorang akademisi yang dengan keyakinan penuh membangun jembatannya sendiri. Dr. Syahidah Rena, M.Ed adalah salah satu ahli Psikologi Pendidikan Islam — seorang peneliti, pendidik, dan pemimpin akademik yang telah mendedikasikan karier intelektualnya untuk satu pertanyaan besar: bagaimana ilmu psikologi dapat benar-benar melayani pendidikan Islam, dan bagaimana nilai-nilai Islam dapat memperkaya ilmu psikologi modern?

Kelahiran Palembang, 10 Maret 1984, perempuan yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta ini bukan sekadar pejabat struktural. Ia adalah penjaga gerbang sebuah disiplin ilmu yang masih terus tumbuh di Indonesia, sekaligus salah satu suaranya yang paling lantang di forum akademik nasional maupun internasional.

“Psikologi tanpa nilai ilahiah hanya akan menjadi peta tanpa tujuan. Dan pendidikan Islam tanpa pemahaman psikologis yang mendalam hanya akan menjadi ritual tanpa transformasi jiwa.” — Dr. Syahidah Rena, M.Ed — Akademisi Psikologi Pendidikan Islam

Baca Juga:  Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan Akademik: Mendidik Diri Sebelum Mendidik Orang Lain

Perjalanan intelektual Dr. Syahidah Rena adalah perjalanan seorang perempuan yang tidak pernah berhenti haus akan ilmu. Berawal dari studi S1 Tarbiyah di UIN Raden Fatah Palembang (lulus 2008), ia kemudian mengambil langkah berani: merantau ke Kuala Lumpur untuk menyelesaikan Master of Education (M.Ed) di University of Malaya pada 2011 — salah satu universitas riset terkemuka di Asia Tenggara. Di sana, ia tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga perspektif lintas budaya tentang bagaimana pendidikan dan psikologi berinteraksi dalam masyarakat muslim yang plural.

Puncak perjalanan itu ia capai di dalam negeri: meraih gelar Doktor Psikologi Islam dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2018, dibimbing oleh dua nama besar — Prof. Dr. Abuddin Nata, MA dan Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag, M.Si. Ia tercatat sebagai Doktor ke-1089 SPs UIN Jakarta, sebuah penanda yang mengukuhkan posisinya sebagai bagian dari generasi doktor psikologi Islam Indonesia.

Keahlian Inti: Psikologi Pendidikan Islam sebagai Misi Akademik

Jika harus menyebut satu bidang yang menjadi rumah intelektual Dr. Syahidah Rena, jawabannya tegas: Psikologi Pendidikan Islam. Ini bukan sekadar kombinasi dua kata — ia adalah sebuah disiplin ilmu yang menuntut kedalaman ganda: kemampuan membaca teori-teori psikologi ilmiah Barat secara kritis, sekaligus kematangan dalam memahami sumber-sumber wahyu dan tradisi keilmuan Islam secara autentik.

Baca Juga:  Ajeng Salma Layla Amira Terima Penghargaan sebagai Murid Berprestasi

Dalam kerangka keilmuan ini, Dr. Syahidah Rena menempatkan diri pada posisi yang unik: ia bukan sekadar mengajarkan psikologi dengan ‘bumbu’ Islam, melainkan secara serius membangun argumen epistemologis bahwa psikologi pendidikan Islam memiliki kerangka teori, metodologi, dan implikasi praktis yang mandiri dan kokoh.

Kontribusi Riset: Membangun Arsitektur Keilmuan

Di antara akademisi Indonesia yang menekuni psikologi Islam, Dr. Syahidah Rena dikenal karena keberanian intelektualnya: ia tidak hanya menulis tentang apa yang sudah mapan, tetapi secara aktif memetakan wilayah-wilayah yang belum banyak dijamah. Karya-karya risetnya bergerak dari ranah teoritis hingga implikasi praktis — dari konseptualisasi mekanisme stres dalam perspektif integrasi Islam-Barat, hingga kajian tentang peran spiritualitas dalam mengelola tekanan akademik mahasiswa.

Konsultan, Reviewer, dan Penjaga Mutu Keilmuan

Sebagai Konsultan Penelitian dan Analisis Data pada Puslitbang Kemenag RI, ia terlibat langsung dalam riset-riset kebijakan yang membentuk arah pendidikan Islam nasional. Posisi ini menegaskan bahwa kedalaman akademiknya tidak berhenti di jurnal ilmiah — ia diterjemahkan ke dalam rekomendasi kebijakan nyata yang berdampak pada jutaan peserta didik Muslim Indonesia.

Sebagai Reviewer Jurnal Psikologi Islam (PSIKIS) UIN Raden Fatah Palembang, ia turut berperan sebagai penjaga standar keilmuan di bidang yang ia cintai. Dua peran ini menempatkan Dr. Syahidah Rena pada posisi yang jarang dimiliki banyak akademisi Indonesia: sekaligus peneliti, pendidik, pemimpin, konsultan kebijakan, dan penjaga mutu ilmiah — semua dalam satu bidang yang sama.

Baca Juga:  104 Tahun Chairil Anwar dan Hidup Seribu Tahun Lagi

Visi: Psikologi Pendidikan Islam sebagai Ilmu Masa Depan

Dr. Syahidah Rena percaya bahwa psikologi pendidikan Islam adalah jawaban yang Indonesia — dan dunia Muslim — butuhkan untuk menghadapi tantangan generasi: dari masalah kesehatan mental di kalangan pelajar, hingga ancaman ekstremisme dan kehilangan identitas di era digital.

Bagi beliau, pendidik yang memahami psikologi pendidikan Islam tidak hanya mahir mengajar materi — ia mampu membaca kondisi jiwa muridnya, memahami akar masalah perilaku dari perspektif Islam, dan merancang intervensi yang menyentuh hati sekaligus berbasis bukti ilmiah.

“Seorang pendidik Muslim sejati bukan hanya ahli materi. Ia adalah penyembuh jiwa, pembentuk karakter, dan pemandu fitrah — dan untuk itu ia butuh psikologi pendidikan yang berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah.”

Kisah Dr. Syahidah Rena adalah kisah tentang keberanian intelektual — keberanian untuk menekuni bidang yang belum mainstream, membangun argumen yang belum banyak disuarakan, dan memimpin lembaga dengan visi yang jauh melampaui rutinitas administratif. Dari Palembang ke Kuala Lumpur, dari Kuala Lumpur ke Jakarta, dari Jakarta ke London — perjalanannya adalah penegasan bahwa psikologi pendidikan Islam bukan sekadar disiplin akademik. Ia adalah proyek peradaban yang sedang dibangun.

عِشْ كَرِيمًا أَوْ مُتْ شَهِيدًا — Hidup Mulia Atau Mati Syahid. Sebuah motto yang menemukan maknanya paling konkret dalam perjalanan hidup Dr. Syahidah Rena: hidup mulia adalah hidup yang diisi dengan ilmu yang bermanfaat, karya yang dipertanggungjawabkan, dan pengabdian yang tidak pernah berhenti.[]

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB