Aziza Luthfia, Alumni UQI jadi Best Photogenic Duta Kampus Indonesia

Irwan Maulana

- Redaksi

Sabtu, 12 September 2026 - 09:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Aziza Luthfia lahir pada 22 Juni 2003. Ayahnya memiliki bisnis travel dan memegang erat prinsip Islam, sedangkan ibunya adalah Ibu Rumah Tangga dan pecinta seni. Menurut pengakuannya, Ibunya pernah menjadi anggota sanggar seni.

“Ayah saya berprofesi punya usaha travel, kalau ibu itu ibu rumah tangga, ibu suka dengan seni, ibu juga dulu pernah di sanggar. Ayah itu orangnya sangat Islami,” ungkapnya.

Sejak berusia enam tahun, Aziza telah diperkenalkan dengan dunia seni. Ia sempat mengikuti les balet ketika masih kecil. Akan tetapi, ayahnya kemudian meminta Aziza berhenti karena pakaiannya terlalu ketat. Akhirnya ia pindah ke sanggar untuk belajar seni tari tradisional karena bisa menjaga kesenian tradisional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Saya suka seni sejak dari kecil, usia enam tahun saya sudah ikut les ballet, tapi oleh ayah disuruh berhenti karena pakaiannya terlalu ketat. Ayah khawatir. Akhirnya saya dipindahkan untuk ikut tari tradisional karena dinilai lebih aman dan bisa melestarikan kesenian tradisional juga,” ungkapnya.

Pendidikan dasar Aziza ditempuh di SDN Ceger 01 Pagi dan kemudian berpindah ke SDN 04 Ciangsana saat duduk di kelas V. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami hingga jenjang Madrasah Aliyah (MA). Setelah lulus dari pesantren, Aziza melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Bogor (UIB).

“Saya sekolah SD di SDN Ceger 01 Pagi lalu kelas V saya pindah ke SDN 04 Ciangsana, setelah itu saya ke Pesantren Ummul Quro al Islami Bogor selama enam tahun (MTs sampai MA),” ujarnya.

Dari Pesantren, Bakat Tari Justru Semakin Berkembang

Ketika menjadi santri,  Aziza mengira bahwa hobinya di dunia tari akan terhenti sebab pesantren memiliki nilai-nilai tertentu yang rigit. Akan tetapi, malah di Pesantren Modern Ummul Quro al Islami tidak demikian. Seni tari tradisional malah dilestarikan dalam koridor-koridor Islami. Dia melihat bahwa hal ini menjadi tempat untuk mendalami tari tradisional dengan lebih baik.

Baca Juga:  Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara

“Ketika di Pesantren Ummul Quro, saya mengira bakat saya di dunia tari akan berhenti, karena dipikiran saya yang namanya pesantren itukan ketat. Nah, ternyata justru di pesantren ummul quro malah diberdayakan. Dari situ saya senang, malah ketika ikut kesenian tari, saya diberikan kepercayaan menjadi penanggung jawab tari. Dari situ saya malah lebih maju dan semakin mendalami tari tradisional,” ujarnya.

Menurut Aziza, pembatasan aktivitas berdasarkan nilai-nilai Islami tidak lantas menghilangkan ruang bagi dirinya untuk berekspresi. Sebaliknya, lingkungan pesantren menjadi tempat baginya untuk mengeksplorasi diri sebagai pecinta seni. Tidak hanya tari, Aziza juga menemukan kecintaan baru ketika mengikuti kegiatan marching band. Rasa penasarannya mendorong dirinya mencoba berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Ia pun diamanahi menjadi field commander dan color guard. Hal ini yang membawanya tergabung bersama atlet-atlet di Bogor. Dari Marching Band inilah membawa dirinya menjuarai Marching Band National Competition Jakarta sebagai juara umum dan juara dua. Ia juga menjuarai berbagai jenis lomba tari di pesantren dan mewakili angkatannya.

“Saya merasa ketika belajar tari di pesantren bakat saya semakin terasah. Akhirnya karena saya orangnya suka belajar otodidak, akhirnya saya ikut ekstrakulikuler marching band dan kemudian diamanahi menjadi field commander, kadang juga color guard. Akhirnya ketika ada lomba Marching Band National Competition di Jakarta, kami ikut dan alhamdulillah keluar sebagai juara umum dan juara dua. Ketika di Pesantren pun saya sering menjuarai lomba tari, saya masih ingat judul lombanya itu express your self. saya menjuarai lomba tari itu mewakili angkatan.”

Nasihat Kiai yang Menjadi Pegangan

Di balik berbagai pencapaiannya, Aziza mengaku memiliki satu nasihat dari kiai yang terus ia pegang hingga sekarang. Nasihat Kiyai Helmy Abdul Mubin ini yang menjadi prinsip hidupnya terutama dalam bermuamalah.

“Saya masih ingat nasihat pak kiyai Helmy yang saya pegang, yaitu ‘Buatlah sejarah yang baik di mana kakimu berpijak di bumi Allah.’ Nasihat ini yang menyadarkan saya untuk berbuat baik agar saya dikenang oleh orang dengan kebaikan-kebaikan.” Ujarnya.

Nasihat ini semakin terasa ketika dia sudah lulus dari Pesantren. Ia berusaha memberikan yang terbaik di setiap tempat yang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Baginya, reputasi dan penilaian orang lain terhadap seseorang dibangun dari apa yang dilakukan secara konsisten.

Baca Juga:  25 Tahun Baharuddin Lopa Berpulang, Jaksa Agung 27 Hari yang Ditakuti Koruptor

“Ketika keluar dari pesantren saya punya prinsip untuk memberikan yang terbaik. Jadi, orang akan melihat saya dengan hal-hal yang baik,” tuturnya.

Keluar dari Zona Nyaman dan Menjadi Best Photogenic Duta Indonesia

Memasuki dunia perguruan tinggi, Aziza mulai menantang dirinya untuk keluar dari zona nyaman. Selama di pesantren, ia lebih banyak mengekspresikan dirinya melalui tulisan. Ia mengaku tidak terlalu percaya diri berbicara di depan umum. Akan tetapi, kecintaannya terhadap literasi membawanya menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Jadikan Aku Debu Cinta-Mu yang diterbitkan oleh Santri Nulis. Ia pun akhirnya memberanikan diri mendaftarkan diri sebagai duta kampus Universitas Islam Bogor dan masuk sepuluh besar dan dinobatkan sebagai duta literasi UIB. Baginya, menjadi duta kampus ini adalah ajang melatih kemampuannya berbicara di depan umum.
“Waktu di pesantren, saya sebetulnya orang yang kurang percaya diri berbicara di depan banyak orang. Saya lebih nyaman menulis dan akhirnya saya menulis buku antologi puisi dengan judul Jadikan Aku debu Cinta-Mu. Alhamdulillah karya saya diterbitkan oleh santri nulis. Ketika kuliah, saya menantang diri saya untuk ikut duta kampus UIB. Ini sebenarnya ajang bagi saya untuk melatih kemampuan berbicara saya di depan umum. Alhamdulillah saya masuk top 10 dan diamanahi menjadi duta literasi UIB karena saya sudah punya buku.”

Setelah berkutat di duta UIB, ia pun menantang dirinya untuk ikut Miss Hijab Jakarta. Peserta pada kompetisi ini sebanyak 35 orang se Provinsi DKI Jakarta. Aziza pun berhasil masuk 15 besar dan memperoleh penghargaan Miss Photogenic. Tidak puas dengan tingkat Provinsi, ia pun ikut kompetisi Duta Kampus Indonesia dan masuk ke 10 besar serta memperoleh penghargaan Best Photogenic.

“Ketika saya jadi duta UIB, saya menantang diri saya untuk keluar dari zona nyaman, saya memberanikan diri untuk ikut Miss Hijab Jakarta. Pesertanya ada 35 orang se Provinsi Jakarta. Alhamdulillah masuk 15 besar dan dapat penghargaan Miss Photogenic. Setelah ikut tingkat provinsi, saya ikut tingkat nasional yaitu duta kampus Indonesia, alhamdulillah masuk 10 besar dan dapat penghargaan juga sebagai Miss Photogenic.” Ujarnya.

Baca Juga:  Dr. Syahidah Rena: Membangun Fondasi Psikologi Pendidikan Islam

Bagi Aziza, Prestasi Berawal dari Keberanian Mencoba

Bagi Aziza, menemukan bakat tidak cukup hanya dengan memikirkannya. Seseorang perlu mencoba berbagai bidang untuk mengetahui kemampuan dan minat yang sebenarnya.

“Untuk mengenali bakat, kita harus melihat kita tertarik di bidang apa, lalu terjun terlebih dahulu. Dari situ kita bisa tahu kemampuan kita sendiri. Kalau memang cocok, dilanjutkan. Kalau tidak sanggup, jangan dipaksakan, tetapi cari bidang lain.”

Prinsip tersebut pula yang membuatnya berani mencoba berbagai aktivitas, mulai dari tari, marching band, literasi, hingga ajang duta kampus.  Saat ini, aktivitas Aziza cukup beragam. Selain sebagai Mahasiswa, ia juga bekerja dan mengajar mata pelajaran tahfidz di SDIT Ibnu Miskawaih dan mengajar ekstrakulikuler Marching Band di Pesantren Sirajul Athfal. Di luar aktivitas tersebut, ia tetap menyempatkan diri menjalani hobinya, cara ini ia gunakan untuk melepas penat.

“Selain sebagai Mahasiswa, saya juga mengajar tahfidz di SDIT Ibnu Miskawaih dan mengajar ekstrakulikuler Marching Band di Pesantren Sirajul Athfal. Ketika capek mengajar, obatnya mengerjakan hobi seperti menari. dengan begitu rasa capeknya bisa hilang.”

Pesan untuk Generasi Muda: Jangan Takut Mencoba

Aziza melihat salah satu tantangan yang banyak dihadapi anak muda saat ini adalah insecure atau merasa tidak percaya diri ketika membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan dukungan yang berbeda. Ada orang yang sejak awal memiliki privilege lebih besar, tetapi hal itu menurutnya tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti mencoba.

“Tantangan anak muda itu insecure karena melihat orang lain punya privilege yang jauh di atas kita. Mungkin karena kita merasa tidak punya privilege, akhirnya takut mencoba.”

Karena itu, ia berpesan agar anak muda tidak terlalu sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.

“Apa pun yang kurang dari kita, dicoba saja. Nantinya kemampuan itu pasti akan mengikuti setiap perjuangan kita.”

Perjalanan Aziza dari seorang santri yang menekuni seni, kemudian menjadi mahasiswa, hingga meraih Best Photogenic Duta Kampus Indonesia, menunjukkan bahwa bakat tidak selalu lahir dari kondisi yang sempurna. Justru, keberanian untuk mencoba, kesediaan keluar dari zona nyaman, konsistensi mengembangkan kemampuan, serta keberanian mengambil kesempatan dapat membuka jalan menuju pencapaian yang sebelumnya mungkin tidak pernah dibayangkan.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB