Pesantren Post-Modern: Menjawab Krisis Zaman dengan Integrasi Ilmu

Irwan Maulana, M.Pd (Pengamat Pendidikan dan Dosen Universitas Islam Bogor)

Irwan Maulana

- Redaksi

Kamis, 23 April 2026 - 06:46 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang telah memberikan kontribusinya selama berabad-abad dalam membentuk karakter bangsa. Keberadaan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat perlawanan penjajahan. Hal ini dikarenakan core value pesantren yang berlandaskan nilai-nilai Islam sangat menentang keras segala jenis penjajahan dalam bentuk apapun. Pesantren menjadi entitas yang dikhawatirkan oleh penjajah sebab kalangan santri dan ulama tidak henti-hentinya menentang berbagai macam penindasan yang ada di bumi pertiwi.

Sejarah mencatat banyak tokoh nasional yang memiliki latar belakang santri, seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Abdul Wahab Chasbullah, Pangeran Diponegoro, Hamka, Teuku Umar, Jendral Sudirman, dan Cut Nyak Dien. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menjadi bukti bahwa pesantren memiliki kontribusi signifikan dalam perjuangan kemerdekaan yang mengajarkan nilai-nilai patriotisme bagi generas saat ini.

Seiring perkembangan zaman, pesantren mengalami berbagai transformasi sebagai bentuk respons terhadap perubahan sosial, budaya, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Jika pada awalnya pesantren lebih berfokus pada pengajaran ilmu-ilmu keagamaan klasik, maka saat ini banyak pesantren yang mulai mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum ke dalam kurikulumnya. Transformasi ini melahirkan berbagai tipologi pesantren, seperti pesantren salafi, semi salafi, semi modern, modern, hingga pesantren kekinian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Bahkan, keberadaan madrasah dapat dipandang sebagai salah satu bentuk evolusi sistem pendidikan pesantren dalam merespons tuntutan zaman.

Baca Juga:  GIHES 2026, Ketua MPR Ajak Mencerdaskan Bangsa Melalui Pendidikan Holistik

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pesantren Modern

Pesantren modern hadir sebagai manifestasi dari upaya adaptasi pesantren terhadap perubahan zaman yang semakin kompleks. Dalam konteks ini, santri tidak lagi hanya dibekali dengan ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga pengetahuan umum seperti sains, ilmu sosial, serta keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Selain itu, pesantren modern juga menekankan penguasaan bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sebagai sarana untuk membuka akses terhadap literatur global dan memperluas wawasan santri. Sistem pembelajaran yang diterapkan pun cenderung menggunakan pendekatan klasikal dengan kurikulum yang terstruktur. Dari sisi manajerial, pesantren modern mulai mengadopsi prinsip-prinsip manajemen pendidikan yang lebih profesional, seperti perencanaan strategis, pengelolaan sumber daya manusia, serta sistem evaluasi yang terukur. Hal ini bertujuan agar pesantren mampu meningkatkan kualitas pendidikan serta menghasilkan lulusan yang tidak hanya religius, tetapi juga kompetitif di era global.

Baca Juga:  Berhati-hati dengan Cinta

Pesantren Post-Modern

Memasuki era kontemporer, tantangan yang dihadapi pesantren tidak lagi bersifat fisik, tetapi juga non-fisik, seperti arus globalisasi, disrupsi teknologi, krisis moral, serta perubahan pola pikir generasi muda yang mengikuti arus tanpa tahu arahnya kemana. Jika pada tahun 1900-an konsep pesantren modern muncul yang ditandai dengan integtasi ilmu agama dan umum, adaptasi sistem manajemen Barat, dan pembelajaran berbasis Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dianggap memumpuni pada saat itu, maka pada abad 21 ini, sebetulnya konsep-konsep tersebut tidak cukup dan perlu dikembangkan untuk menjawab permasalahan zaman saat ini.

Kata post-modern yang dinisbatkan kepada pesantren sebagai sebuah kata untuk menunjukan reaksi skeptis terhadap sistem pendidikan dan kultur pesantren serta pengembangan tafsir-tafsir keagamaan yang disesuaikan dengan kondisi saat ini dengan merujuk literatur-literatur terdahulu. Pada konteks sistem pembelajaran, santri tidak cukup hanya dibekali dengan integrasi kurikulum. Integrasi kurikulum hanya akan melahirkan santri dengan penguasaan keilmuan yang setengah-setengah terhadap ilmu agama maupun ilmu umum. Santri harus memahami bagaimana sains dalam perspektif Islam. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan cara membenahi philosophical gap yang ada pada sains itu sendiri sebab sains dalam Islam bersumber dan bermuara pada tauhid, sedangkan sains yang ada saat ini bersumber pada empirisme. Hal ini berimplikasi pada seluruh perkembangan zaman merupakan bagian dari sunnatullah yang harus digali, dikenali, dipahami, dan dikendalikan demi kemaslahatan umat manusia.

Baca Juga:  Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara dalam Kacamata Psikologi Sosial

Dalam konteks budaya pesantren, pesantren harus lebih legowo jika santri memiliki pandangan yang berbeda dengan para ustadznya. Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan dalam pendidikan, bukan sebuah symbol ketidaksopanan seseorang. Melalui metode dialog dan pemikiran kritis, santri harus didorong menemukan potensinya yang terpendam. Ijtihad pengembangan ilmu keislaman perlu dikembangkan agar santri dapat lebih menghayati ajaran-ajaran agamanya. Saat ini banyak Masyarakat yang beragama akan tetapi hilang dari esensi kebermaknaan keagamaannya. Kata takdir dijadikan sebagai tameng bagi orang-orang malas berusaha sehingga mereka menyerah terhadap kehidupan yang dia Jalani. Wallahu a’lam.

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB