Binanews.id | Bogor–Membicarakan pesantren besar di wilayah Bogor Barat, Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami (PM UQI), tidak dapat dilepaskan dari sosok pendirinya, KH Helmi Abdul Mubin, Lc. Dengan kegigihan dan dedikasinya, beliau berhasil menjadikan PM UQI sebagai salah satu pesantren modern yang besar dan diperhitungkan di tanah Pajajaran.
Namun, keberhasilan tersebut sejatinya tidak berdiri sendiri. Di balik perjalanan panjang itu, terdapat sosok yang setia mendampingi dalam suka dan duka, yakni sang istri tercinta, Ibu Nyai Hj. Fatmah Noor Salim.
Lahir di Malang pada tahun 1955, Bu Nyai Fatmah merupakan figur perempuan tangguh yang senantiasa mendampingi perjuangan KH Helmi Abdul Mubin sejak awal perintisan pesantren pada tahun 1993. Perjalanan yang mereka tempuh bukanlah hal yang mudah. Berangkat dari kondisi serba terbatas, dengan fasilitas sederhana dan jumlah santri yang masih sedikit, Bu Nyai Fatmah tetap berdiri teguh di sisi suaminya, memberikan dukungan lahir dan batin tanpa keraguan.
Peran Bu Nyai Fatmah tidak hanya sebatas sebagai istri, tetapi juga sebagai mitra perjuangan yang aktif dalam berbagai aspek kehidupan pesantren. Ia mengemban banyak tanggung jawab, mulai dari mengurus rumah tangga, mendidik anak-anak, membimbing santri, hingga mengelola kebutuhan dapur pesantren. Semua dijalani dengan penuh ketulusan dan tanggung jawab. Ia dikenal sebagai sosok yang tak kenal lelah, selalu hadir di setiap lini perjuangan tanpa mengeluh, bahkan di tengah berbagai keterbatasan.
Kesabaran menjadi salah satu kekuatan utama yang dimilikinya. Pada masa-masa awal merintis pesantren, berbagai ujian datang silih berganti—baik dari sisi ekonomi, keterbatasan fasilitas, maupun tantangan dalam membangun kepercayaan masyarakat. Namun, Bu Nyai Fatmah tetap tegar dan tidak goyah. Dengan keyakinan yang kuat serta keikhlasan dalam berjuang, ia mampu melewati setiap cobaan dengan hati lapang, menjadikan setiap kesulitan sebagai bagian dari proses menuju keberkahan.
Jika ditelaah lebih jauh, sosok Bu Nyai Fatmah memiliki semangat yang sejalan dengan perjuangan R.A. Kartini. Keduanya merepresentasikan perempuan yang tidak hanya kuat secara pribadi, tetapi juga memiliki peran besar dalam membawa perubahan di lingkungannya. Melalui kiprahnya di dunia pendidikan pesantren, Bu Nyai Fatmah turut berkontribusi dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak, sebagaimana Kartini yang memperjuangkan kemajuan perempuan melalui pendidikan. Ketangguhan, kesabaran, dan dedikasi menjadi benang merah yang menghubungkan keduanya.
Kini, ketika Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami telah berkembang pesat, jejak perjuangan Bu Nyai Fatmah tetap terasa kuat. Ia bukan hanya saksi sejarah, melainkan juga pelaku utama dalam perjalanan panjang tersebut. Sosoknya menjadi teladan bahwa keberhasilan besar kerap lahir dari ketekunan, kesabaran, dan pengorbanan yang dilakukan tanpa henti.[sf]









