Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Ahsan Jamet Hamidi (Alumni Gontor 87)

Tedy

- Redaksi

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Ribuan mantan santri Gontor hadir dalam acara puncak 100 tahun Gontor pada 19–20 September lalu di Desa Gontor.

Seperti biasa, saat ada acara reuni besar seperti ini, peserta yang hadir akhirnya akan terbagi mengikuti lingkaran pertemanan masing-masing. Saya masuk dalam kelompok alumni Gontor tahun 1987.

Begitu saya tiba di Gontor, tukang ojek langsung mengantarkan saya ke rumah Prof. Nurhadi Ihsan, salah satu teman satu angkatan yang masih mengabdi di Gontor sekaligus didapuk menjadi “Ketua Suku”, begitu kami memanggilnya.
Sejak dalam niat, saya sudah menetapkan diri bahwa datang ke Gontor hanya bertemu dengan kawan-kawan satu angkatan.
Mengapa?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mau bertemu dengan para kiai dan guru-guru? Nyaris tidak mungkin, mereka pasti akan sangat sibuk dengan para tamu lain yang jauh lebih utama untuk diterima.

Mau ketemu dan bersalaman dengan Prabowo? Jangan mimpi deh. Saya toh bukan siapa-siapa. Warga proletar, nonpolitisi seperti saya, sama sekali tidak punya kepentingan, bahkan kebanggaan, untuk bertemu dengan Prabowo.
Saya juga tidak hadir dalam agenda resmi yang dibuat oleh panitia. Seperti pertemuan dengan Prabowo.
Jujur, saya tidak akan sanggup memenuhi prasyarat kehadiran. Pakaian harus resmi, berjas dan berdasi. Ini memang khas guru-guru Gontor sejak zaman dulu. Jika tidak, harus menggunakan baju koko lengan panjang ataupun batik.
Saya tidak sanggup membayangkan betapa panasnya udara di Desa Gontor di tengah terik matahari di bulan September ini.
Dengan pakaian seperti itu, saya harus duduk selama beberapa jam menunggu kehadiran Presiden yang datang terlambat. Jika hanya untuk mendengarkan pidatonya, saya bisa mengakses lewat live streaming.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor

Dalam dokumen yang terbaca, paling tidak ada delapan Presiden RI yang pernah berkunjung ke Gontor, mulai dari Soekarno pada 1946.
Saat itu, kondisi Gontor masih dalam suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan santrinya hanya tinggal belasan orang.
Soeharto dalam peresmian Masjid Gontor tahun 1978, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Joko Widodo (Jokowi) pada 2016 saat peringatan 90 tahun Gontor, hingga Prabowo Subianto yang hadir pada 19 September 2026 dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor.

Dalam kunjungan Prabowo kemarin, saya melihat ada banyak sekali tentara dan polisi yang mengamankan hampir semua pertigaan dan perempatan jalan dari Kota Ponorogo ke Desa Gontor.
Ada yang berdiri mengatur jalan, ada yang sekadar nongkrong dan ngopi di warung dan di depan rumah-rumah warga. Wajar jika kondisi jalanan menjadi sangat lancar karena ada pengalihan arus. Saya naik ojek dari Terminal Ponorogo menuju Gontor.
Alhamdulillah, lancar tanpa ada hambatan, tetapi banyak kendaraan roda empat yang harus mengalami pengalihan arus sehingga harus pandai mencari jalan alternatif.

Saya membayangkan, andaikan dalam kesehariannya para aparatur negara itu selalu sigap tetapi dilakukan dalam rangka melayani warga, para pembayar pajak yang menggaji mereka, oh, alangkah indahnya.
Sayang sekali, mentalitas aparat keamanan dan pertahanan di Indonesia belum terbangun sesuai dengan harapan yang seperti itu.
Mereka lebih memilih untuk melayani pimpinan secara total daripada melayani rakyat. Mereka alpa bahwa yang menggaji mereka sejatinya bukan presiden, tetapi kita semua sebagai rakyat Indonesia.

Baca Juga:  Kartini, Sosok Wanita Tangguh Bangsa Indonesia

Keprihatinan saya terbayar oleh kenyataan lain yang dibuktikan oleh ketulusan dan pengorbanan kawan-kawan satu angkatan saya dalam melayani dan menjamu kami yang datang dari jauh. Prof. Nurhadi Ihsan rela membangun dua kamar mandi baru dan permanen, khusus diperuntukkan bagi kawan-kawan yang menginap dirumahnya. Selain fasilitas tenda, karpet, makanan, dan minuman, tidak ada kata lapar dan haus bagi semua yang hadir.
Ia dibantu sepenuhnya oleh panitia lokal seperti Kiai Umar Said Wijaya, Kiai Imam Iskarom, Kiai Suwito, dan Kiai Anwar Boyaman yang sejak jauh-jauh hari menyiapkan kehadiran kawan-kawan.
Ada lagi Gusti Almasyah, warga Surabaya yang sekarang menetap di Gontor. Tempat tinggalnya rela dijadikan markas bagi kawan-kawan untuk menginap.
Anak dan istrinya rela hijrah sementara karena tempatnya kami okupasi.
Mereka menyediakan semua kebutuhan mulai urusan makan, minum, mandi, tidur, luar biasa.

Sebuah keikhlasan yang tidak mampu saya tulis, namun sangat bisa saya rasakan.
Setiap ada acara reuni di Gontor, Angkatan 87 selalu mampir ke Pesantren Al Iman yang diampu oleh Kiai Zawawi, teman satu angkatan.
Dia merintis pondok sendiri yang lokasinya berbeda kecamatan dengan pondok Gontor.
Dari tahun ke tahun pondok ini sangat berkemajuan. Hal itu terlihat dari jumlah santri dan gedung untuk asrama dan ruang belajar yang terus bertambah.
Tentu, keikhlasan Kiai Zawawi dalam menjamu kawan-kawan juga tidak kalah, kualitas jamuan dan semuanya.
Kiai Zawawi berkelakar bahwa beberapa hari sebelum teman-teman datang, Ibu Nyai selalu bertanya berapa jumlah kawan-kawan yang hadir? Menu apa yang layak diberikan?
Dengan penuh kelakar, Kiai Zawawi menjawab:
“Sudahlah, Bu, makanan apa saja boleh disediakan kepada mereka, tidak usah mikir yang jauh-jauh. Kawan-kawan saya ini, dulu biasa ngopi bareng saya dengan air panas yang diambil dari air radiator diesel listrik saat di Pondok. Jadi, itulah standarnya…”

Baca Juga:  Anatomi Pesantren Jalan di Tempat: Telaah Kritis 9 Faktor Penghambat Kemajuan

Kiai Zawawi tidak hanya menyediakan makan malam yang sangat mewah, ada nasi kebuli, sate ayam Ponorogo plus yang lain-lain.
Juga menyediakan pesta kebuli layaknya acara candlelight dinner.
Semua tersaji secara lengkap dan haru sekali suasananya.
Reuni kali ini mengingatkan saya pada dua macam pelayanan.
Kepada para pejabat, segala sesuatu disiapkan dengan protokol, pengamanan, fasilitas, dan kemewahan.
Sementara kepada kawan-kawan seperjuangan, para alumni Gontor justru melayani dengan kesederhanaan, ketulusan, dan pengorbanan.
Mungkin di situlah letak kemewahan yang sesungguhnya: bukan pada fasilitas yang disediakan, tetapi pada hati yang ikhlas melayani.

Berita Terkait

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan
Iqra’, Pesan Pendidikan yang Relevan di Era Digital

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB