Harlan Bestari Bengardi: Perjalanan Anak Kuli Bangunan hingga Jadi CEO & CO Founder Pestigo

Irwan Maulana

- Redaksi

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:20 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Harlan Bestari Bengardi memiliki perjalanan hidup yang luar biasa sekaligus inspiratif. Harlan Lahir dan besar di Kota Bogor, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki latar belakang pejuang yang begitu kental. Almarhum ayahnya pernah menjadi  kuli bangunan, sopir, hingga kemudian bekerja sebagai akuntan di salah satu perusahaan di Bogor, hingga kemudian akhirnya memutuskan untuk membangun usaha dari nol.

Perjalanan hidup tersebut memberikan pelajaran penting bagi Harlan tentang kesederhanaan, perjuangan, dan cara memandang kehidupan. Baginya, hidup adalah pilihan. Itu salah satu nilai yang ditanamkan orangtuanya kepada dirinya. akan tetapi,  perjalanan hidup Harlan tidak  lurus.

Ia pernah hidup dalam jerat narkoba  selama bertahun-tahun, mengalami kehampaan hidup, hingga berada pada titik terendah ketika sempat memikirkan untuk mengakhiri hidup. Perjalanan panjang inilah kemudian lahir pandangan Harlan tentang kehidupan, agama, mentalitas, entrepreneurship, dan pentingnya membangun hubungan antara akal, qolbu, serta perilaku manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjalanan Hidup dan Nilai Kesederhanaan

Harlan adalah pria asal Kota Bogor. Ia menempuh pendidikan di SD Kesatuan, SMP Kesatuan, dan SMA di Hawai. Ia kemudian melanjutkan studi S1 nya di Amerika dengan jurusan International Business, tidak puas dengan ilmu yang didapat, ia pun melanjutkan studi S2 nya di Swiss dengan jurusan Hotel Management. Sosok Harlan banyak belajar dari perjalanan hidup almarhum ayahnya yang memulai kehidupan dari bawah.

Pengalaman ayahnya yang pernah menjadi kuli bangunan dan sopir hingga akhirnya mampu bekerja sebagai akuntan dan membangun usaha menjadi menjunjukan bahwa kehidupan membutuhkan proses, disiplin, mindset, kesederhanaan, ketekunan, dan mental juara. Dari keluarga pula, Harlan memperoleh nilai tentang kesederhanaan.

Baginya, kehidupan tidak semata-mata harus dijalani dengan ambisi untuk mengejar kekayaan atau kedudukan. Ada nilai lain yang lebih penting, termasuk kepedulian terhadap sesama dan kebiasaan untuk berbagi melalui sedekah. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari proses panjang pencarian Harlan dalam memahami arti kehidupan.

harlan prestigo

Terjerumus Narkoba hingga Merasakan Kehampaan

Perjalanan Harlan tidak selalu berjalan mudah. Ia mengaku pernah mengenal narkoba sejak usia yang sangat muda. Ketika duduk di kelas VI sekolah dasar, ia mulai menggunakan pil. Memasuki jenjang SMP, penggunaan narkoba berlanjut hingga mengenal ganja. Kebiasaan tersebut terus berlanjut hingga masa SMA dan pendidikan tinggi.

Baca Juga:  Fadzar Firdaus jadi Petugas Haji Arab Saudi, Ini Rahasia Amalan dari KH Helmi Abdul Mubin

Selama puluhan tahun, ia mengaku masih berada dalam lingkaran kehidupan tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan dan kerja di Batam, hal itu diketahui sang ayah hingga membuatnya diusir. Peristiwa itu menjadi salah satu fase penting dalam kehidupannya. Waktu itu, Harlan memiliki kehidupan yang mewah, uang yang banyak dan aset yang ia punya membawanya kehidupan yang sangat mapan. Akan tetapi, kondisi tersebut ternyata tidak memberikan kebahagiaan pada dirinya.

Di tengah kehidupannya yang serba ada itu, ia  justru merasakan kehampaan, kesepian, dan perasaan berdosa. Baginya, materi dan uang tidak selalu mampu mengisi ruang kosong dalam kehidupan seseorang. Pada titik tertentu, kondisi tersebut bahkan membuatnya memikirkan kemungkinan untuk mengakhiri hidup.

Titik Balik dan Perjalanan Kembali kepada Sholat

Ketika berada dalam masa sulit di Batam pada awal tahun 2000-an, Harlan mengalami sebuah peristiwa yang menurutnya menjadi salah satu titik balik kehidupannya. Saat tinggal di sebuah ruko empat lantai, ia berada dalam kondisi batin yang sangat tertekan. Ia mengaku pernah memikirkan bunuh diri dan mempertanyakan bagaimana cara mengakhiri hidupnya.

Ketika ia ingin loncat dari lantai empat, ketika ia melihat ke bawah,  ia melihat orang gila yang tidak memakai baju menyuruh dia sholat. Dia kaget, darimana asalnya orang itu. Peristiwa tersebut membekas dalam ingatannya. Setelah itu, Harlan meminta orang-orang di sekitarnya untuk mencarikan seorang ustadz. Ia mulai belajar sholat dan sambil mempelajari agama Islam. Ia pun kemudian belajar sholat dan belajar Islam dari seorang ustadz kampung. Setelah itu ia mulai mendapatkan pencerahan yang mengisi relung hati, pikiran, dan jiwanya.

Perjalanan spiritual tersebut tidak terjadi secara instan. Baginya, memahami agama bukan hanya persoalan mengetahui ajaran atau memiliki identitas keagamaan sejak lahir. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengimplementasikan apa yang diketahui dan dipahami dalam kehidupan. Ia bahkan mengaku belajar agama dari lingkungan sederhana, termasuk kepada ustaz di kampung. Dari proses tersebut, ia menemukan kembali arah kehidupannya. Hingga saat ini, salat menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan perubahan tersebut.

Baca Juga:  Hendi Sofyan, Anak Muda yang Dipersiapkan untuk Pulang ke Leuwiliang

Akal, Qolbu, dan Mentalitas Seorang Entrepreneur

Dalam pandangan Harlan, kehidupan manusia tidak hanya digerakkan oleh kecerdasan akal. Ia membedakan fungsi akal dan qolbu dalam memahami kehidupan. Menurutnya, akal memiliki kemampuan untuk berpikir dan membayangkan, sedangkan qolbu memiliki kemampuan untuk merasakan. Karena itu, perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasan, tetapi juga oleh kondisi batin dan nilai yang hidup dalam dirinya.

“Cerminan perilaku itu adalah motornya qolbu,” menjadi salah satu gagasan yang ia sampaikan.

Harlan memandang bahwa apabila qolbu seseorang dibangun dengan nilai-nilai Qurani, maka perilaku yang muncul juga seharusnya mencerminkan nilai tersebut. Sebaliknya, kondisi batin yang jauh dari nilai-nilai tersebut dapat tercermin dalam cara seseorang bersikap dan mengambil keputusan.

Pandangan ini juga ia kaitkan dengan dunia entrepreneurship. Menurutnya, seorang pengusaha tidak cukup hanya memiliki modal, kecerdasan, atau pendidikan tinggi. Mental menjadi salah satu faktor penting dalam membangun usaha. Dunia bisnis membutuhkan ketahanan menghadapi kegagalan, kemampuan menjaga hubungan, keberanian mengambil keputusan, serta perilaku yang dapat membangun kepercayaan.

Harlan juga mempertanyakan sejauh mana ilmu yang diperoleh di sekolah benar-benar digunakan secara langsung dalam dunia bisnis. Baginya, pendidikan memang penting, tetapi pembentukan karakter dan mentalitas juga tidak kalah penting. Ia menilai bahwa tantangan generasi muda saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kompetensi akal dan kekuatan qolbu. Islam, menurutnya, memberikan ruang bagi keduanya untuk berkembang secara seimbang. Ia juga mengkritik kecenderungan anak-anak muda yang ingin memperoleh hasil secara instan. Keinginan untuk cepat sukses, menurutnya, dapat mendorong munculnya berbagai jalan pintas dan perilaku yang justru merusak. Selain itu, gaya hidup hedon juga menjadi tantangan yang perlu dihadapi. Bagi Harlan, kesuksesan tidak hanya dapat diukur dari jumlah uang atau besarnya bisnis yang dimiliki. Jiwa harus dibangun terlebih dahulu dengan nilai-nilai yang benar.

Islam, Silaturahim, dan Membangun Masa Depan Pestigo

Dalam memandang entrepreneurship, Harlan melihat bahwa Islam memiliki banyak nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan dan bisnis. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan terbaik dalam kehidupan, termasuk dalam membangun hubungan sosial dan aktivitas perdagangan. Karena itu, seorang entrepreneur dapat belajar dari nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kemampuan membangun kepercayaan. Bagi Harlan, salah satu modal penting untuk bertahan dalam kehidupan adalah silaturahim.

Baca Juga:  Perjalanan Kintan Menemukan Misi Hidupnya Lewat Dakwah Digital

Hubungan yang baik dengan orang lain tidak hanya memiliki nilai sosial, tetapi juga dapat menjadi kekuatan dalam membangun kehidupan dan usaha. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga hubungan dan tidak mudah memutus silaturahim. Pandangan tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan bisnis yang kini dijalaninya.

Harlan terlibat dalam perjalanan pendirian dan pengembangan Prestigo. Perusahaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan bisnis yang terus berkembang. Pada 2019, terdapat perjalanan bisnis yang membuat perusahaan tersebut sempat dijual kepada perusahaan kompetitor.

Pada 2022, melalui diskusi bersama sejumlah rekan, muncul kembali gagasan untuk membangun dan mengembangkan usaha. Sekitar 15 orang kemudian terlibat dalam perjalanan tersebut dan menjadi bagian dari pemegang saham. “Saya masih ingat, waktu itu modal kami kurang sekitar 3,5 Milyar, banyak teman saya telpon, temui, tapi belum  ada yang mau investasi, dan orang yang mau investasi itu adalah orang keduapuluh delapan yang saya telpon. Darimana relasi ini saya dapatkan? ya silaturahim dan menjaga kepercayaan melalui hubungan baik dengan teman, jadi kalau misal ada anak muda yang mengeluh belum punya modal, dia kemana aja waktu masih muda? mangkanya banyak-banyak silaturahim,” ujar CEO & CO Founder Pestigo.

Saat ini, visi yang ingin dibangun tidak hanya terbatas pada jasa pengendalian hama. Ke depan, Harlan dan rekan-rekannya memiliki mimpi untuk mengembangkan perusahaan ke arah layanan yang lebih luas melalui konsep general services.

Ia optimistis bahwa dalam 10 tahun mendatang, sektor tersebut memiliki peluang yang besar untuk berkembang.

Bagi Harlan, perjalanan hidup telah mengajarkannya bahwa kesuksesan tidak dapat hanya dibangun melalui kecerdasan atau kekayaan. Mental, perilaku, spiritualitas, dan hubungan dengan sesama menjadi bagian penting yang tidak dapat dipisahkan.

Dari perjalanan kelam yang pernah dilaluinya, Harlan kini melihat kehidupan dengan cara yang berbeda. Baginya, manusia dapat memiliki pendidikan, uang, dan berbagai pencapaian, tetapi tanpa ketenangan batin dan arah hidup yang jelas, semuanya belum tentu mampu menghadirkan kebahagiaan.

Perjalanan Harlan Bestari Bengardi menjadi gambaran bahwa perubahan selalu mungkin terjadi. Dari kehidupan yang pernah dipenuhi narkoba dan kehampaan, ia kemudian menemukan kembali jalan spiritualitas dan menjadikannya sebagai salah satu fondasi dalam menjalani kehidupan dan membangun masa depan.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB