Binanews.id | Bogor–Setiap 26 Juli, Indonesia merayakan Hari Puisi Indonesia. Tanggal itu tidak dipilih karena sebuah peristiwa besar atau keputusan negara, melainkan karena pada hari ini, 104 tahun lalu, seorang bayi lahir di Medan dan kelak tumbuh menjadi manusia yang, jika hidup pada zaman kita, kemungkinan besar akan dihabisi warganet dalam satu malam.
Chairil Anwar adalah pemuda yang berhenti sekolah pada usia 18 tahun. Ia perayu yang namanya dikaitkan dengan banyak perempuan, suami yang pernikahannya bubar dalam dua tahun, peminjam buku yang kerap lupa mengembalikan, dan penyair yang karyanya pernah dibedah dalam sebuah esai berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiat. Ia mati muda pada usia 26 tahun, di sebuah rumah sakit, dengan tubuh yang digerogoti penyakit dan penyebab kematian yang sampai kini masih diperdebatkan.
Namun setiap tahun, bangsa ini merayakan hari lahirnya. Sajak-sajaknya dihafalkan murid sekolah dasar. Namanya disematkan pada jalan, taman, dan penghargaan sastra. Makamnya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak diziarahi ribuan pengagum dari masa ke masa. Sulit mencari contoh lain dari negeri ini, seorang manusia yang begitu berantakan dalam hidupnya, lalu diperlakukan nyaris seperti orang suci setelah mati.
Ia anak tunggal pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berdarah Minangkabau dari Lima Puluh Kota. Ayahnya, seorang bupati di Indragiri, kelak tewas dalam peristiwa berdarah di Rengat. Ia juga masih terikat pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama republik ini. Sebagai anak tunggal ia dimanja, dan hasilnya adalah bocah keras kepala yang tidak pernah rela kehilangan apa pun.
Sekolahnya di Hollandsch-Inlandsche School lalu berlanjut ke MULO, dan berhenti di tengah jalan. Ketika orang tuanya bercerai, Chairil yang berusia 19 tahun ikut ibunya pindah ke Batavia. Di kota itulah ia berkenalan dengan dunia yang kemudian membunuh sekaligus mengabadikannya.
Awalnya tidak ada yang menginginkan sajak-sajaknya. Majalah Pandji Pustaka menolak puisi-puisi kirimannya karena dianggap terlalu individualistis dan tidak sejalan dengan semangat propaganda pendudukan. Karyanya beredar diam-diam di atas kertas murah, dari tangan ke tangan, dan baru benar-benar diterbitkan setelah kemerdekaan.
Yang membuat namanya besar bukan restu penguasa, melainkan sesuatu yang lebih sederhana. Ia menulis dengan cara yang belum pernah dilakukan siapa pun dalam bahasa Indonesia. Sebelum Chairil, puisi kita masih tertib dan sopan. Chairil datang membawa kalimat yang pendek, kasar, telanjang, dan berdarah. Kritikus sastra Belanda A. Teeuw kemudian menyebutnya penyair yang sempurna, dan mencatat bahwa hingga 1980, tulisan tentang Chairil jauh lebih banyak daripada tentang penulis Indonesia mana pun.
Bahkan tuduhan paling serius terhadapnya justru berujung pembelaan. Adalah H.B. Jassin, kritikus yang sekaligus menobatkannya sebagai pelopor Angkatan ’45 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, yang menulis esai di Mimbar Indonesia dan membandingkan sajak Krawang-Bekasi dengan puisi The Dead Young Soldiers karya penyair Amerika Archibald MacLeish. Kemiripannya diakui. Tetapi Jassin menolak menyebutnya jiplakan. Menurutnya, rasa Chairil tetap ada di dalam sajak itu, dan karya MacLeish hanyalah katalisator penciptaan.
Perdebatan itu tidak pernah benar-benar padam. Kumpulan tulisan yang ditinggalkannya, sekitar 96 karya termasuk 70 puisi, memuat sajak asli, saduran, terjemahan, dan yang diduga menjiplak, semuanya berdiri berdampingan dalam tiga buku yang terbit di sekitar kematiannya, yakni Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, serta Tiga Menguak Takdir.
Sisi liarnya bahkan diabadikan sastrawan lain semasa hidupnya. Dalam roman Atheis karya Achdiat Karta Mihardja yang terbit pada 1949, salah satu tokohnya, seorang anarkis kasar yang gemar mempermainkan perempuan, diyakini banyak pembaca dan pengamat sebagai potret Chairil.
Ia meninggal pada 28 April 1949 di Rumah Sakit CBZ, yang kini bernama RSCM, dan dimakamkan keesokan harinya. Usianya belum genap 27 tahun. Penyebab kematiannya tidak pernah dipastikan, meski dugaan terkuat mengarah ke tuberkulosis. Tanggal kematian itu belakangan diperingati sebagai Hari Puisi Nasional, terpisah dari Hari Puisi Indonesia yang jatuh hari ini, sebuah kekacauan penanggalan yang entah kenapa terasa sangat Chairil.
Mungkin di situlah letak jawabannya. Bangsa ini tidak mengabadikan Chairil karena ia teladan. Ia jelas bukan. Yang kita rayakan setiap 26 Juli adalah keberaniannya menulis persis seperti dirinya, kotor dan jujur, di tengah zaman yang menuntut semua orang berpuisi dengan sopan.
Seratus empat tahun setelah ia lahir, dan 77 tahun setelah ia pergi, Ia mendapatkan apa yang ia tulis sendiri dalam sajaknya yang paling terkenal, hidup seribu tahun lagi.[]
Editor : Fathurroji









