Menyelamatkan Masa Kecil dari Cengkeraman Layar

Garin Suroso (Team Media dan Dokumentasi acara Ayo Dolanan)

Irwan Maulana

- Redaksi

Senin, 6 Juli 2026 - 11:09 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Dunia anak-anak hari ini sedang menghadapi tantangan yang senyap namun masif: ketergantungan pada gawai (gadget). Langkah segar inilah yang dihadirkan oleh KUALI Rumah Pojok (Komunitas Untuk Anak Lingkungan Rumah Pojok) dan Fatonah Foundation, melalui kegiatan edukasi bertajuk “Mengukir Cerita ‘Ayo Dolanan'”.

Kegiatan yang diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian terhadap anak-anak di lingkungan sekitar ini bukan sekadar ajang berkumpul biasa. Lebih dari itu, gerakan ini merupakan sebuah refleksi sekaligus aksi nyata untuk memperkenalkan kembali kearifan lokal kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Melalui tajuk “Ayo Dolanan”, penyelenggara berupaya menyuntikkan kembali semangat bermain, bersosialisasi, dan bergerak secara fisik lewat permainan tradisional.

Dalam kegiatan ini dihadiri oleh founder Fatonah Foundation, Founder Kuali Rumah Pojok, Kepala Desa Pamegarsari beserta jajaran dan ketua lingkungan rukun tetangga, dalam sambutannya kades pamegarsari, Dian Iskandar SE. S.PD, ia menyampaikan di tengah kepungan layar digital yang kian menyita waktu dan perhatian generasi muda, inisiatif nyata untuk mengembalikan keceriaan alami anak-anak di dunia nyata menjadi sangat krusial.

Baca Juga:  Tidak Terlambat: 5 Cara Mendidik Diri Meski Usia Tidak Muda

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keberhasilan acara ini tentu tidak lepas dari sinergi dan dukungan berbagai pihak yang peduli terhadap masa depan anak. Dukungan dari para sponsor seperti Butik Bunnie, Akasa Aero, dan Penerbit Baca, serta kontribusi dari Aero Plastic dan CV Mekar Wangi Nursery, Upiek beutyskin, Habibi Madinah tour and travel dan para donatur membuktikan bahwa isu penyelamatan tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab kolektif. Komitmen ini diapresiasi secara hangat melalui pembagian bingkisan, doorprize untuk para peserta yang antusias, serta suvenir bagi para tamu undangan. Sesi foto bersama sebelum acara berakhir pada pukul 16.30 WIB menjadi simbol kebahagiaan dan kebersamaan yang utuh.

Baca Juga:  Jejak Sunan Gunung Jati dari Pajajaran ke Kesultanan Banten

Namun, pesan terpenting dari selesainya acara ini justru terletak pada keberlanjutannya kegiatan ini yang akan diagendakan pada liburan sekolah. Dengan membawa misi besar untuk jangka panjang: meminimalisir penggunaan gadget yang berlebihan pada anak-anak dan membiasakan mereka kembali dengan permainan tradisional. Sebagai pesan dari founder Kuali Rumah Pojok “in this economy, di saat liburan sekolah tidak semua anak-anak bisa healing dengan keluarga semoga dengan kegiatan ini mereka punya cerita kepada teman – teman sekolah atau guru saat masuk sekolah kelak”

Baca Juga:  SPMB SD Kota Bogor 2026 Resmi Dimulai, Pendaftaran Secara Online

Kita harus mengakui bahwa permainan tradisional bukan sekedar warisan masa lalu. Di dalamnya terkandung stimulasi motorik, kerja sama tim, kejujuran, dan kesehatan mental yang tidak bisa digantikan oleh algoritma gim digital tercanggih sekalipun Menghidupkan kembali “Dolanan” adalah langkah strategis untuk menyelamatkan masa kecil anak-anak kita.

Tantangan berikutnya kegiatan seperti ini tidak mandek sebagai agenda seremonial satu kali selesai. Apresiasi atas langkah ini harus menjadi pemantik bagi komunitas-komunitas lain di berbagai wilayah untuk menciptakan ruang ramah anak yang edukatif tambah Beliau. Menjauhkan anak dari kecanduan layar adalah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi masa depan yang sehat fisik, mental, dan tetap mengakar pada budaya Sunda dan budaya bangsa Indonesia.[]

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB