Binanews.id | Kenapa ada orang yang bertahan relevan di social media selama hampir dua dekade, sementara yang lain sudah habis hanya beberapa bulan setelah satu video viral? Apakah ini soal keberuntungan, atau ada sesuatu yang sebenarnya bisa ditelusuri? Pertanyaan itu mengganjal di kepalaku ketika menonton Raditya Dika berbincang di podcast MindPlus bersama Jerome Polin, sebab jawaban yang ia tawarkan justru tidak menunjuk ke luar dirinya, melainkan ke dalam.
Radit mengaku lebih suka mendefinisikan diri dari keahlian yang spesifik ketimbang dari pekerjaannya, lantaran pekerjaan bisa ia ciptakan dan cari sendiri selama ia tahu betul apa keahliannya. Bukankah kebanyakan dari kita justru terbalik, memperkenalkan diri lewat jabatan dan nama profesi, lalu kelabakan ketika profesi itu tergerus zaman? Ia memberi contoh yang sederhana, bahwa orang yang bisa matematika tidak harus berakhir menjadi guru matematika saja, sebab yang ia punya adalah kemampuannya, dan kemampuan itu bisa dibawa ke mana saja sesuai apa yang ingin ia kerjakan.
Dari sinilah lahir kalimat yang paling menancap sepanjang obrolan itu, yaitu ajakan untuk melihat ke dalam, karena satu-satunya hal yang benar-benar hanya bisa dikerjakan oleh kita adalah diri kita sendiri. Banyak orang yang ingin jadi kreator konten, kata Radit, sibuk menengok apa yang sedang ramai dan apa yang sedang seru, lalu ikut-ikutan, padahal yang membuat seseorang bertahan justru apa yang membedakannya dari orang lain. Ia sendiri membuktikan itu lewat jalan yang panjang, bermula sebagai penulis yang dikenal lewat Kambing Jantan, lalu merambah ke stand up comedy, film, sampai YouTube, dan sampai hari ini ia masih menulis cerpen yang ia gratiskan di kanalnya, walau ia akui cerpen itu juga ia pakai sebagai pintu masuk menuju karya-karyanya yang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada satu gagasan yang ia sebut backward theory, yakni keadaan ketika semakin keras sesuatu dikejar, semakin ia menjauh, dan sebaliknya ketika berhenti dikejar, ia malah datang. Contoh yang ia pakai adalah kebahagiaan. Gagasan ini sebetulnya bukan barang baru, karena psikiater Viktor Frankl pun pernah menulis bahwa kebahagiaan tidak bisa dikejar, melainkan harus menyusul dengan sendirinya sebagai akibat dari hidup yang bermakna. Yang menarik, Radit memakai logika serupa pada relevansi. Ia tidak terlihat sibuk mengejar agar tetap dianggap relevan, melainkan menekuni keahliannya, sembari membiarkan relevansi itu tumbuh sebagai akibat, bukan sebagai tujuan yang dikejar mati-matian.
Yang membuatku berhenti sejenak adalah caranya bekerja dengan tim. Radit jujur bahwa banyak ide tidak akan pernah lahir dari kepalanya sendiri, umpamanya format konten yang menyuruhnya memotong-motong jahe lalu mengaduknya, sesuatu yang menurut dia tidak akan muncul dari dirinya bahkan dalam seratus tahun. Tapi ketika anggota timnya, Fadil, datang menawarkan ide itu, ia bersedia menjalaninya, sebab walau bukan dari kepalanya, ide itu masih cocok dengan seleranya. Lebih dari itu, ia merawat kepercayaan dengan cara menjelaskan alasan, kalau sebuah bagian tidak layak ia katakan kenapa tidak layak, kalau layak ia katakan kenapa layak, sampai pada gilirannya timnya bisa menyunting sendiri tanpa perlu ia awasi terus-menerus.
Lalu bagaimana ia memaknai sukses? Di sinilah Radit justru paling tampak ragu, dan kejujuran itu yang membuatnya meyakinkan. Sukses, katanya, paling sulit ia definisikan, sebab ketika disebut sukses ia merasa biasa saja, sedangkan ketika disebut belum sukses ia khawatir berubah menjadi orang yang tidak bersyukur. Karena itu ia lebih memilih hal-hal yang konkret ketimbang kata sukses yang melayang tanpa bentuk.
Hal konkret itu, belakangan, banyak ia tautkan pada anaknya. Memikirkan kematian, kata Radit, menjadi pengingat tersendiri, dan dari sana energinya berlabuh pada satu pertanyaan, yakni bagaimana ia bisa memberi kenangan terbaik bagi anaknya sekaligus membantu anak itu menggapai potensi terbaiknya. Ia bahkan menyadari bahwa kehadiran seorang anak menuntutnya menjadi pribadi yang jauh lebih baik, sebab ada manusia kecil yang memandanginya tiap hari dan diam-diam menjadikan dirinya sebagai standar dalam menjalani hidup.
Maka kalau ditanya apa sebenarnya rahasia Raditya Dika tetap relevan dan konsisten, jawabannya barangkali tidak segagah yang dibayangkan. Ia tidak sibuk mengejar relevansi, melainkan menekuni keahlian yang hanya bisa dikerjakannya sendiri, lalu membiarkan relevansi datang belakangan sebagai akibat. Soal ide, ia tak menunggu ilham turun dari langit, karena ia sudah membangun tim yang ia percaya dan selalu ia beri alasan di balik tiap penilaian. Soal sukses, ia berhenti repot mendefinisikannya dan beralih pada apa yang konkret dan bisa ia kerjakan hari ini. Mungkin di situlah pelajaran yang bisa kita bawa pulang, bahwa bertahan lama ternyata bukan soal berlari paling kencang mengejar perhatian, melainkan soal mengenali betul apa yang membuat kita menjadi kita, lalu setia mengerjakannya sampai jauh.









