Binanews.id | Bogor. Media sosial punya cara unik untuk membuat siapa pun merasa kecil dalam semalam. Satu kalimat keliru, satu sikap yang tak disukai, dan seseorang bisa menjadi bahan perbincangan ribuan orang yang belum pernah ia temui. Maka pertanyaan yang relevan bagi kita semua, bukan hanya bagi public figur, adalah bagaimana cara berdamai dengan kesalahan dan kritik yang datang bertubi-tubi. Pandji Pragiwaksono, dalam obrolannya di podcast MindPlus bersama Jerome Polin.
Hal pertama yang menarik dari cara Pandji adalah kemampuannya memilah. Tidak semua suara di media sosial perlu ditanggapi dengan bobot yang sama. Orang yang sekadar ingin mengomel, kata Pandji, ia diamkan saja. Tapi ketika seseorang tampak benar-benar ingin berdialog, ia justru mengajaknya bertemu dan menanyakan apa yang sebetulnya mengganjal. Hasilnya mengejutkan. Menurut pengakuannya, hampir seratus persen orang yang semula sebal kepadanya menjadi baik-baik saja setelah bertemu langsung, dan persoalannya tidak pernah berlanjut.
Dari sini ada pelajaran yang sering kita lupakan. Konflik di dunia maya kerap membesar justru karena kedua pihak tidak pernah benar-benar berhadapan. Layar membuat kita melihat lawan bicara sebagai musuh, bukan manusia. Pandji menyarankan hal yang berlawanan dengan naluri kebanyakan orang yaitu jangan menghindar. Saat sedang berkasus, orang cenderung lari, mengabur, atau bersembunyi, padahal masalahnya tidak ikut hilang. Sebaliknya, ketika ditemui dan dibicarakan, banyak persoalan ternyata bisa selesai. Tentu ini berlaku ketika kita memang keliru dan mau memperbaiki, bukan untuk membenarkan kesalahan.
Namun Pandji tidak menggambarkan semuanya seolah mudah. Ia jujur bahwa kritik dan kontroversi punya harga, dan yang sering membayar bukan hanya dirinya, melainkan keluarganya. Ia menceritakan bagaimana anak laki-lakinya, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar di Jakarta, pernah dirundung teman-temannya gara-gara sikap politik sang ayah.
Lalu dari mana Pandji menemukan ketenangan untuk tidak terus-menerus terseret omongan orang? Sebagian jawabannya ada pada apa yang ia cintai. Ia menggambarkan dirinya sebagai orang yang tak nyaman bila tidak sedang mendaki, dalam arti selalu mencari tantangan baru. Dulu ia membayangkan pindah ke New York untuk berkarier sebagai komedian. Belakangan ia menyadari pendakian yang lebih penting justru ada di sini, yaitu membangun industri stand up comedy di Indonesia lewat perusahaannya, Comika, dengan harapan para komika kelak bisa hidup dari karya mereka, sebagaimana komedian di Amerika hidup dari klub-klub komedi yang tersebar di mana-mana.
Yang ia tekankan bukan targetnya, melainkan kecintaannya pada perjalanan. Bagi Pandji, milestone memang perlu, tapi kehilangan makna kalau kita tidak mencintai apa yang sedang dikerjakan. Ia mengaku tak tahu apakah akan sampai ke tujuannya, tapi ia bahagia bisa bangun pagi dengan tujuan yang jelas dan sesuatu yang masih layak dikejar. Ketika sumber kebahagiaan kita berakar pada proses yang kita cintai, validasi dari kolom komentar otomatis kehilangan kuasanya atas hidup kita.
Pandji juga menyentuh sesuatu yang lebih dalam, sebuah pelajaran yang ia kaitkan dengan ucapan aktor Jim Carrey bahwa setiap orang sebaiknya pernah menjadi kaya dan terkenal, agar tahu bahwa kebahagiaan ternyata bukan di sana. Kita kerap mengejar sesuatu karena yakin itulah yang kita inginkan. Tapi hidup, kata Pandji, kadang menunjukkan bahwa yang kita butuhkan berbeda dari yang kita mau, dan justru yang dibutuhkan itulah yang lebih penting. Berdamai, dalam pengertian ini, adalah kesediaan menerima kenyataan tersebut tanpa merasa gagal.
Bagi saya, inti dari seluruh obrolan itu bukan resep untuk menjadi tahan banting secara berlebihan, apalagi acuh tak acuh. Berdamai dengan kritik bukan berarti mematikan rasa, melainkan memilih dengan sadar ke mana perhatian kita diberikan yaitu pada suara yang membangun, bukan pada keramaian yang hanya ingin menjatuhkan. Di tengah dunia yang membuat kita gampang merasa diadili, sikap seperti ini terasa semakin berharga. Kita tidak bisa mengatur apa yang orang katakan, tapi kita selalu bisa memilih apa yang kita cintai, siapa yang kita temui, dan seberapa besar ruang yang kita berikan kepada kebisingan. Pada akhirnya, ketenangan bukan sesuatu yang diberikan orang lain kepada kita, melainkan sesuatu yang kita bangun sendiri, sedikit demi sedikit, dari cara kita menyikapi setiap kritik yang datang. (Roja)









