Binanews.id | Bogor – Perilaku anak di sekolah kerap menjadi sorotan ketika dianggap sulit diatur, kurang disiplin, atau bermasalah dalam proses belajar. Namun di balik itu, banyak pendidik menilai bahwa karakter anak sejatinya tidak tumbuh begitu saja, melainkan dibentuk dari lingkungan terdekatnya: keluarga.
Pandangan tersebut disampaikan Syarkowi, guru SMPN 3 Megamendung, saat membahas pengalaman dan tantangannya menghadapi karakter peserta didik di sekolah, Kamis (28/5/2026).
“Yang paling dominan itu hasil didikan keluarga. Anak itu mirip banget meniru orang tuanya,” ujarnya.
Menurut Syarkowi, guru sering kali terjebak pada keinginan membentuk murid menjadi sosok ideal tanpa benar-benar memahami latar belakang kehidupan yang membentuk perilaku mereka sejak di rumah.
Padahal, setiap anak datang ke sekolah membawa pengalaman hidup, pola komunikasi, hingga kondisi emosional yang berbeda-beda.
“Nah siasat untuk menangani anak yang latar belakang didikannya tidak sesuai dengan pendidikan ideal, salah satunya adalah menerima mereka secara utuh,” katanya.
Ia mengaku pemahaman tersebut tidak datang secara instan. Butuh waktu dan proses panjang hingga dirinya menyadari bahwa pendekatan keras tidak selalu efektif dalam mendidik anak.
“Walaupun salah, anak kecil juga enggak suka dikritik. Itu pelajaran yang baru saya pahami setelah dua tahun mengajar,” ujarnya.
Menurutnya, anak-anak sangat peka terhadap cara orang dewasa memperlakukan mereka. Ketika merasa terus dihakimi atau ditekan, mereka cenderung menutup diri dan kehilangan kenyamanan untuk belajar.
Sebaliknya, pendekatan yang hangat dan dialogis justru mampu membuka ruang kedekatan emosional antara guru dan murid.
“Nanti hati anak-anak akan tergerak sendiri kalau mereka merasa diterima,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai pendekatan psikologi perkembangan yang menyebut bahwa perilaku anak sering menjadi refleksi dari pola asuh, lingkungan sosial, dan suasana emosional yang mereka alami sehari-hari di rumah.
Dalam banyak kasus, rumah menjadi ruang pertama pembentukan karakter anak. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, menunjukkan kasih sayang, hingga mengelola emosi akan direkam dan ditiru anak secara alami.
Karena itu, pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Hubungan yang sehat antara orang tua, guru, dan anak dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda.
Syarkowi juga menekankan bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga memahami manusia secara utuh.
“Kalau di pikiran kita anak harus begini terus, harus begitu terus, capek,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Baginya, mendidik anak membutuhkan kesabaran, kesadaran, dan kemampuan melihat mereka bukan hanya dari kesalahannya, tetapi juga dari proses hidup yang sedang mereka jalani.
“Ngajar itu capek. Tapi di situ letak perjuangan seorang guru,” pungkasnya.









