Binanews.id | Di sebuah sore yang riang, dua anak bermain kejar-kejaran. Tawa mereka pecah, langkah kaki berlarian di halaman, silih berganti menjadi yang mengejar dan dikejar. Si kurus tinggi berlari di depan, diikuti temannya yang pendek dan gempal.
Permainan itu berlanjut ke dalam rumah. Si kurus berlari masuk ke sebuah kamar. Tanpa diduga, temannya yang gempal tidak lagi mengejar. Ia justru menutup pintu kamar itu, lalu menguncinya dari dalam. Seketika permainan berubah arah.
Di dalam, si kurus tinggi mulai berteriak. Awalnya pelan, lalu semakin keras. Ia meminta dibukakan pintu. Suaranya menggema di antara barang-barang rongsokan yang memenuhi ruangan. Namun tak ada jawaban.
Kekesalan berubah menjadi ketakutan.
Ia mencoba membuka pintu dengan paksa. Seluruh tenaganya dikerahkan, namun pintu tetap tak bergeming. Tangannya mulai lecet, tapi ia terus memukul, menendang, berharap pintu itu menyerah.
Ketika tenaga fisiknya tak lagi cukup, ia mencari alat. Gagang sapu bekas ia hantamkan ke pintu. Tak berhasil. Kursi plastik diangkat, dihantamkan berkali-kali. Masih sia-sia. Ia bahkan mengambil potongan besi, memukul dengan sisa tenaga yang ada. Yang tersisa hanya suara gaduh dan kelelahan yang kian menumpuk.
Akhirnya ia jatuh terlentang. Nafasnya berat, tubuhnya tak lagi sanggup bergerak.
Dalam kondisi hampir tak berdaya, matanya menatap ke arah berlawanan dari pintu. Di sana, terbentang sebuah jendela besar, tanpa teralis, terbuka lebar. Jalan keluar itu sebenarnya ada, sejak tadi. Hanya saja, ia tak pernah melihatnya.
Namun kini semuanya terlambat. Untuk sekadar mengangkat kepala pun, ia sudah tak mampu.
Sahabat Bina, kisah sederhana ini sering kali menjadi cermin kehidupan kita. Betapa sering kita terlalu terpaku pada satu pintu, pada satu cara, satu harapan, satu jalan, hingga lupa bahwa mungkin ada jalan lain yang lebih terbuka.
Kita berjuang, itu baik. Kita berusaha, itu perlu. Tapi ketika ambisi berubah menjadi keterpaksaan, kita justru menguras tenaga pada sesuatu yang belum tentu menjadi jalan keluar.
Seperti seorang alumni pesantren yang begitu ingin melanjutkan kuliah setelah lulus MA. Keinginannya kuat, bahkan memaksa. Ia mendesak orang tuanya yang hidup dalam keterbatasan. Dari merengek, marah, hingga memboikot, semua dilakukan agar keinginannya terpenuhi.
Namun di balik itu, orang tuanya justru semakin terhimpit.
Ia seperti anak kurus dalam cerita tadi, terus memaksa membuka pintu yang tertutup. Ia berteriak, berusaha, bahkan “mendobrak” dengan berbagai cara. Padahal, mungkin ada “jendela” lain yang bisa ia tempuh: beasiswa, bekerja sambil kuliah, atau menunda dengan rencana yang lebih matang.
Tujuannya jelas: kuliah. Itu adalah “Roma”-nya. Namun jalan menuju ke sana tidak hanya satu.
Pepatah lama mengatakan, “ada banyak jalan ke Roma.” Kalimat ini sederhana, tapi sarat makna. Ketika satu jalan tertutup, bukan berarti perjalanan harus berhenti. Bisa jadi, kita hanya perlu menoleh sedikit dan menemukan jendela yang selama ini terabaikan.
Pada akhirnya Sahabat Bina, hidup bukan hanya tentang seberapa keras kita berusaha, tetapi juga seberapa bijak kita memilih arah.
Ambisi tanpa kebijaksanaan bisa membuat kita lelah di tempat yang salah. Sementara ketenangan dalam berpikir bisa membuka jalan yang tak pernah kita duga sebelumnya.
Seperti pelajaran lama yang pernah kita hafal: idza shodaqol ‘azmu wadhoha sabilu—jika tekad itu benar dan jujur, maka jalan akan terbuka.
Maka, saat pintu terasa begitu keras untuk dibuka, mungkin bukan tenaganya yang perlu ditambah, tetapi cara pandangnya yang perlu diubah.
Barangkali, jendela itu sudah lama terbuka. Hanya saja, kita belum sempat melihatnya.[]









