Binanews.id | Yala- Selain menghadirkan program-program berbasis akademik dan keagamaan, delegasi KKN Internasional Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Leuwiliang, Bogor, juga menghadirkan sisi lain dari pengabdian mereka di Thamavitya Mulniti School, Yala, Thailand, yaitu program yang menyentuh ranah emosional peserta didik. Melalui Workshop Art Healing (Painting the Tote Bag), mahasiswa mencoba membuka ruang bagi para santriwati untuk berdamai dengan diri sendiri lewat media yang sederhana namun bermakna, tote bag.
Program yang digagas oleh Afifah Hijriani selaku penanggung jawab (PIC) ini merupakan kegiatan seni yang mengajak peserta mengekspresikan perasaan, harapan, dan kreativitasnya melalui goresan warna di atas tote bag. Bukan sekadar kegiatan melukis biasa, workshop ini dirancang sebagai sarana katarsis, tempat di mana peserta bebas menuangkan gambar, simbol, maupun kata-kata positif yang menggambarkan diri mereka masing-masing.
Ruang Aman untuk Bercerita Lewat Warna
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan konsep art healing dan manfaatnya bagi kesehatan mental, dilanjutkan dengan penyampaian teknik dasar melukis pada media tote bag. Setelah dibekali teknik dasar, peserta kemudian diberi kebebasan untuk melukis sesuai tema dan imajinasi masing-masing, sebuah proses yang berlangsung santai, tanpa tekanan, dan justru dipenuhi tawa serta obrolan hangat antarpeserta.
Yang menjadikan kegiatan ini istimewa adalah sesi sharing dan refleksi di penghujung acara, di mana peserta diberi kesempatan untuk menceritakan makna di balik karya yang mereka buat. Setiap goresan warna dan simbol yang tercoret di atas kanvas tote bag ternyata menyimpan arti tersendiri bagi masing-masing peserta, ada yang melukiskan harapan, ada pula yang menuangkan kisah perjuangan pribadinya. Tidak hanya sarat makna, hasil karya para peserta pun tak kalah memukau, deretan lukisan yang tersaji begitu indah dan penuh warna, jauh dari kesan asal coret, sehingga sulit dipercaya bahwa semuanya dibuat oleh tangan-tangan yang baru pertama kali mencoba melukis di atas tote bag. Banyak dari mereka yang awalnya ragu-ragu, perlahan mulai terbuka menceritakan apa yang selama ini mereka rasakan namun jarang tersampaikan, sesuatu yang memang jarang dibahas secara terbuka di lingkungan sekolah.
Program ini menyasar sekitar 40 peserta, dengan target utama para santriwati yang ingin belajar berdamai dengan masalah yang mereka pendam. Melalui proses melukis yang menenangkan, peserta diajak untuk menyalurkan emosi secara positif, mengurangi stres, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri melalui karya personal yang bisa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Disambut Hangat, Bahkan Ustadzah Ikut Melukis
Antusiasme tidak hanya datang dari para siswi, tetapi juga dari para ustad pengampu bidang seni di sekolah tersebut. Alih-alih hanya menjadi penonton, sejumlah ustad justru ikut turun tangan mengambil kuas dan melukis tote bag mereka sendiri, larut dalam suasana hangat yang tercipta sepanjang kegiatan berlangsung.
Momen paling berkesan datang di akhir acara, ketika salah satu ustad menyerahkan hasil lukisannya kepada tim KKN sebagai simbol kenangan atas terselenggaranya kegiatan ini dengan lancar dan penuh antusiasme. Sebuah gestur sederhana yang menunjukkan betapa program ini berhasil menjalin kedekatan emosional, bukan hanya antar peserta, tetapi juga antara mahasiswa KKN dan para pengajar di sekolah tersebut.
Delapan Mahasiswa Lintas Jurusan di Balik Program
Workshop Art Healing ini merupakan salah satu dari sekian program yang digagas oleh delapan mahasiswa dan mahasiswi peserta KKN Internasional IUQI, yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima perempuan lintas program studi. Mereka adalah M. Aulia Rahman, Laila Nur Azizah, Putri Anjani, dan Alyka Nasya Mahira dari Pendidikan Bahasa Arab (PBA); Neng Perti Sephia dan Ulil Absor dari Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI); Afifah Hijriani dari Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI); serta M. Faiq Akbar dari Manajemen Pendidikan Islam (MPI).
Selama menjalani pengabdian di Thailand, kedelapan mahasiswa ini tidak hanya membawa program-program formal, tetapi juga berusaha menghadirkan sesuatu yang menyentuh sisi emosional para siswi, sebuah pendekatan yang jarang ditemui namun ternyata sangat dibutuhkan. Workshop Art Healing menjadi bukti nyata bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental dapat disisipkan dalam bentuk kegiatan yang ringan, menyenangkan, dan meninggalkan kesan mendalam, baik bagi peserta maupun para pengajarnya.
Editor : Fathurroji









