Wedang Sendang Ayu di Pasar Ngasem, Tempatnya Kuliner Tradisional Khas Yogyakarta

Tedy

- Redaksi

Minggu, 7 Juni 2026 - 06:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews | Yogyakarta — Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kembali menginjakkan kaki di Yogyakarta, terutama bagi mereka yang pernah tinggal dan menghabiskan sebagian hidupnya di kota ini. Yogyakarta selalu memiliki cara untuk menyambut setiap orang dengan suasana yang akrab, hangat, dan penuh kenangan.

Begitu turun di Stasiun Lempuyangan, memori lama seakan kembali terbuka satu per satu. Sudut-sudut kota masih terasa sama, meski kini lalu lintas semakin ramai dan transportasi daring hadir melengkapi wajah modern Yogyakarta. Namun, nuansa khas kota budaya ini tetap terjaga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada Sabtu pagi, 23 Mei 2026, udara sejuk Yogyakarta menyambut dua dosen Universitas Islam Bogor (UIB) yang tengah mengikuti kegiatan di kota tersebut. Sebelum memulai agenda hari itu, keduanya memutuskan untuk menikmati suasana pagi dengan mencari sarapan di salah satu destinasi kuliner legendaris Yogyakarta, yakni Pasar Ngasem.

Awalnya mereka berencana menggunakan transportasi daring. Namun saat keluar dari penginapan, keduanya melihat sebuah becak motor (bentor) yang terparkir di seberang jalan. Tanpa banyak pertimbangan, mereka sepakat menggunakan bentor menuju Pasar Ngasem. Perjalanan pagi yang masih lengang membuat suasana terasa semakin nyaman.

pasar ngasem jogja

Sekitar pukul 07.35 WIB, mereka tiba di gerbang Pasar Ngasem. Dari luar, pasar ini masih mempertahankan karakter bangunan tradisional yang menjadi ciri khas pasar rakyat di Yogyakarta. Namun ketika memasuki area pasar, suasana yang ditemui sedikit berbeda dari gambaran pasar tradisional pada umumnya.

Baca Juga:  Penilaian Pramuka Garuda 2026 Bogor Tengah Resmi Dibuka

Keramaian memang terlihat di berbagai sudut, tetapi bukan aktivitas tawar-menawar yang mendominasi. Sebaliknya, mayoritas pengunjung tampak menikmati wisata kuliner, berburu sarapan, atau sekadar berjalan santai menikmati atmosfer pasar. Pasar Ngasem seolah telah bertransformasi menjadi ruang wisata yang tetap mempertahankan identitas tradisionalnya.

Di tengah berkembangnya pusat perbelanjaan modern, Pasar Ngasem justru mampu bertahan dan terus menjadi magnet wisata. Keberadaannya menjadi bukti bahwa pasar tradisional tidak selalu ditinggalkan oleh perkembangan zaman. Dengan kekuatan budaya dan kuliner yang dimiliki, Pasar Ngasem tetap hidup dan bahkan semakin diminati wisatawan.

Berlokasi tidak jauh dari kawasan Keraton Yogyakarta dan Taman Sari, Pasar Ngasem dikenal sebagai salah satu pusat kuliner tradisional khas Jawa yang legendaris. Beragam makanan dan minuman khas dapat ditemukan dengan mudah di sini.

Pilihan kuliner yang tersedia sangat beragam. Mulai dari cendol beras, dawet durian, bubur jenang, wingko, empal gentong, hingga sate maranggi dan sate kronyos yang antreannya cukup panjang. Aroma rempah dan masakan tradisional berpadu menciptakan pengalaman kuliner yang menggoda sejak langkah pertama memasuki pasar.

Di antara banyaknya pilihan kuliner tersebut, perhatian kedua dosen UIB tertuju pada sebuah lapak bertuliskan Wedang Sendang Ayu yang saat itu masih tutup. Setelah bertanya kepada pedagang lain, mereka mendapat informasi bahwa warung tersebut baru buka sekitar pukul 08.00 WIB.

Baca Juga:  Area Kuliner Baru Kini Hadir di Lantai 2 Pasar Jambu Dua Kota Bogor

Rasa penasaran membuat mereka memilih menunggu. Tepat sekitar pukul 08.10 WIB, lapak itu akhirnya dibuka dan para pengunjung mulai berdatangan.

Salah satu kuliner ikonik Pasar Ngasem tersebut adalah Wedang Sendang Ayu Bu Marsui. Minuman tradisional ini diracik dari jahe, kapulaga, cengkih, serai, kayu manis, kolang-kaling, air jeruk, dan gula batu. Perpaduan rempah-rempah tersebut menghasilkan rasa hangat yang cocok dinikmati pada pagi hari.

Keunikan wedang ini tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga tampilannya. Potongan batang serai yang disusun sedemikian rupa membuat sajian ini tampak seperti bunga yang sedang mekar. Untuk menikmati segelas Wedang Sendang Ayu, pengunjung cukup membayar sekitar Rp20.000.

Selain wedang rempah, Pasar Ngasem juga menawarkan kuliner tradisional lain yang tak kalah menarik, yaitu Jenang Gempol. Hidangan khas Yogyakarta ini terdiri dari gempol, mutiara, gula jawa, dan ketan hitam yang disiram kuah santan gurih. Perpaduan rasa manis dan gurih menjadikannya pilihan sarapan yang mengenyangkan. Harganya pun sangat terjangkau, sekitar Rp6.000 per porsi.

Tak lengkap rasanya berkunjung ke Pasar Ngasem tanpa mencicipi Apem Beras Bu Wanti. Kuliner legendaris yang telah hadir sejak era 1970-an ini menjadi salah satu buruan utama para pengunjung. Teksturnya yang lembut dengan rasa manis gurih khas membuat apem ini selalu diminati.

Baca Juga:  Guru “Gulali” Dinilai Mudah Didekati dan Dirindukan Murid

Selain varian original, tersedia pula pilihan rasa lain seperti cokelat. Dengan harga sekitar Rp3.500 per buah, apem beras Bu Wanti menjadi camilan sederhana yang menyimpan cita rasa khas Yogyakarta. Karena popularitasnya, pembeli disarankan datang lebih pagi karena lapak sudah buka sejak pukul 06.00 WIB dan sering kali cepat habis.

Lebih dari sekadar tempat berjualan, Pasar Ngasem adalah ruang budaya yang hidup. Setiap lapak menyimpan cerita, setiap makanan membawa jejak tradisi, dan setiap pengunjung menjadi bagian dari pengalaman yang terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Yogyakarta tempo dulu sekaligus menikmati kekayaan kuliner tradisional Jawa, Pasar Ngasem adalah destinasi yang layak masuk daftar kunjungan. Di tempat ini, pasar tidak hanya berfungsi sebagai pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, wisata, dan pengalaman sosial yang berpadu dalam satu kawasan.

Menjelang siang, kedua dosen UIB itu memilih duduk santai di pelataran pasar sambil menikmati makanan yang telah mereka beli. Di sekitar mereka, pengunjung lain tampak melakukan hal yang sama—beristirahat, berbincang, dan menikmati suasana pasar yang hangat.

Momen sederhana tersebut menghadirkan nuansa yang mengingatkan pada lirik lagu “Yogyakarta” yang dipopulerkan KLa Project pada era 1990-an. Sebuah suasana yang sulit dijelaskan, namun selalu berhasil membuat siapa pun ingin kembali. (Ted)

Berita Terkait

Area Kuliner Baru Kini Hadir di Lantai 2 Pasar Jambu Dua Kota Bogor
Sensasi Ngopi di Tengah Kebun Teh Sukha Kopi Sukabumi
Tahu Sumedang H. Didi, Jadi Menu Favorit Kuliner Jalur Sukabumi
Cari Kuliner Enak di Tapos? Dapoer 55 Jawabannya!
Kebone DW, Resto Bernuansa Alam di Sukabumi Tawarkan Kuliner Tradisional
Kue Putu dan Bandrek Susu Jahe Minuman Penghangat di Kawasan Puncak
Sop Sapi Haji Mamad Cibadak, Menu Sederhana Rasa Istimewa
Kopi Klotok Yogyakarta Konsep Sedeqah, Kuliner Legendaris

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 14:13 WIB

Area Kuliner Baru Kini Hadir di Lantai 2 Pasar Jambu Dua Kota Bogor

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Sensasi Ngopi di Tengah Kebun Teh Sukha Kopi Sukabumi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:40 WIB

Tahu Sumedang H. Didi, Jadi Menu Favorit Kuliner Jalur Sukabumi

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:03 WIB

Cari Kuliner Enak di Tapos? Dapoer 55 Jawabannya!

Minggu, 19 Juli 2026 - 16:50 WIB

Kebone DW, Resto Bernuansa Alam di Sukabumi Tawarkan Kuliner Tradisional

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB