Sejarah G30S PKI Latar Belakang Kronologi dan Dampak Politiknya

Bisyral

- Redaksi

Rabu, 30 September 2026 - 13:50 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Jakarta- Peristiwa Gerakan 30 September atau G30S PKI mencatatkan sejarah kelam dalam perjalanan politik Indonesia. Tragedi nasional ini melibatkan deretan perwira militer serta unsur Partai Komunis Indonesia.

Hingga saat ini, dinamika sejarah masih terus memperdebatkan sejauh mana jajaran pimpinan PKI mengendalikan pergerakan tersebut secara penuh di lapangan.

Partai Komunis Indonesia tercatat sebagai salah satu organisasi politik tertua dan terbesar di Tanah Air. Basis massanya mencakup berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kelompok intelektual, kaum buruh, hingga para petani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Awal mulanya, organisasi ini merupakan wadah kecil berhaluan kiri bernama Indische Sociaal Democratische Vereeniging yang didirikan oleh tokoh sosialis Belanda, Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau Henk Sneevliet. ISDV lantas melakukan infiltrasi ke partai lokal seperti Sarekat Islam.

Baca Juga:  Harga Dexlite Dan Pertamax Turbo Turun Mulai 1 Juli 2026

Pada dekade 1920-an, ISDV mengilhami pembentukan PKI dengan Semaoen selaku ketua dan Darsono sebagai wakilnya. Sebelum meletusnya peristiwa 1965, partai ini mengklaim memiliki lebih dari 3 juta anggota, menjadikannya partai komunis terbesar di luar Uni Soviet dan China.

Ketegangan politik bermula saat aksi penyebaran ideologi oleh PKI memicu kecurigaan keras dari kelompok anti-komunis. Kondisi ini memperuncing persaingan antar-elit politik nasional, ditambah beredarnya desas-desus mengenai kesehatan Presiden Soekarno serta isu Dewan Jenderal Angkatan Darat.

Di tengah situasi penuh prasangka tersebut, Letnan Kolonel Untung Syamsuri memimpin kelompok pasukan bersenjata di Jakarta. Komandan Batalyon I Kawal Resimen Cakrabirawa itu mengomandani aksi yang mulanya dinamai Operasi Takari sebelum berganti nama menjadi Gerakan 30 September.

Pasukan tersebut bergerak keluar dari kawasan Lubang Buaya pada transisi malam Kamis, 30 September 1965 menuju Jumat, 1 Oktober 1965. Kelompok ini melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat serta mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi.

Baca Juga:  Pada Piala AFF 2026 : Timnas Indonesia Gagal Ke Semifinal

Peristiwa itu merenggut nyawa enam jenderal Angkatan Darat. Para perwira yang gugur yakni Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Dua korban tewas lainnya adalah Letnan Satu Pierre Andreas Tendean yang merupakan ajudan Menhankam/Kasab Jenderal AH Nasution, serta Brigadir Polisi Satsuit Tubun selaku pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena.

Jenderal AH Nasution berhasil lolos dari upaya penculikan tersebut. Namun, putri beliau yang bernama Ade Irma Suryani Nasution tewas akibat tertembak dalam insiden tersebut.

Baca Juga:  Polri Temukan Brankas Berisi Emas 74 Kg dan Valas Rp476 Miliar di Sentul

Tragedi ini memicu pergeseran peta politik nasional secara drastis. Kehadiran Angkatan Darat muncul sebagai kekuatan politik baru, sementara PKI hancur total sebagai kekuatan politik di Indonesia.

Dampak lainnya adalah meredupnya kekuasaan serta pamor politik Presiden Soekarno. Setelahnya, terjadi penangkapan dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota atau simpatisan PKI tanpa melalui proses peradilan formal.

Tindakan penumpasan berlangsung sejak tanggal 2 hingga 5 Oktober 1965 di Jakarta. Sementara itu, pembersihan di wilayah Jawa Tengah memerlukan waktu lebih lama karena area tersebut merupakan basis massa PKI yang cukup kuat.

Melalui serangkaian operasi militer, tokoh pimpinan PKI D.N. Aidit akhirnya tewas ditembak mati di Boyolali. Sementara itu, Letkol Untung Syamsuri berhasil ditangkap petugas di Tegal.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Akademisi UGM Satyawan Pudyatmoko, Diangkat Jadi Kepala Badan Pengelola Gambut
Koperasi Merah Putih Bakal Jadi Saluran Pembayaran Gaji PNS dan Pensiunan
Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian
Kemanag Buka Pengajuan Bantuan Masjid dan Mushola, Ini Syarat dan Jadwalnya
Mendikdasmen Tekankan Peran Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Kemendikdasmen Susun Skema Siswa Tak Otomatis Naik Kelas, Ini Respons Kemenag
Transformasi Desa: Mengubah Posisi Desa dari Obyek Menjadi Subyek Pembangunan
Kemenag dan Al-Azhar Mesir Sepakati Skema Gelar Ganda

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:47 WIB

Akademisi UGM Satyawan Pudyatmoko, Diangkat Jadi Kepala Badan Pengelola Gambut

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Koperasi Merah Putih Bakal Jadi Saluran Pembayaran Gaji PNS dan Pensiunan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:44 WIB

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:34 WIB

Kemanag Buka Pengajuan Bantuan Masjid dan Mushola, Ini Syarat dan Jadwalnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:51 WIB

Mendikdasmen Tekankan Peran Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Terbaru

Pemerintah

Guru PAUD Kota Bogor dapat Kesejahteraan dan Beasiswa Pendidikan

Sabtu, 17 Okt 2026 - 17:36 WIB