Binanews.id | Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, kebahagiaan sejati sering kali tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari kedalaman hati. Hal ini tergambar indah dalam sebuah kisah klasik yang diceritakan oleh Imam Ibnu Asakir (wafat 571 Hijriah) dalam kitab Tarikh Madinah Dimasyq, tentang sepasang suami istri yang meyakini diri mereka akan masuk surga berkat kekuatan syukur dan sabar.
Kisah ini menyoroti kehidupan seorang laki-laki bernama Imran bin Hattan. Imran digambarkan sebagai sosok pria tua dengan penampilan yang sangat sederhana, bertubuh pendek, dan paras yang jauh dari kata tampan. Berbanding terbalik dengannya, sang istri adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita, rajin merawat diri, dan senantiasa tampil memesona di mata suaminya.
Suatu hari, saat Imran sedang menatap istrinya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Sang istri yang menyadari tatapan lekat tersebut pun penasaran dan bertanya ada apa gerangan. Dengan jujur dan tulus, Imran menjawab bahwa hari itu istrinya terlihat sangat cantik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mendengar pujian tersebut, sang istri tersenyum lembut dan memberikan jawaban yang tidak terduga. Ia meminta suaminya untuk bergembira, karena mereka berdua kelak akan bersama-sama berada di dalam surga. Imran yang terkejut mendengar pernyataan itu lantas bertanya dari mana istrinya bisa memiliki keyakinan sebesar itu.
Dengan tenang dan penuh keyakinan, sang istri memberikan penjelasan yang sangat menyentuh hati:
لِأَنَّكَ أُعْطِيتَ مِثْلِي فَشَكَرْتَ، وَابْتُلِيتُ بِمِثْلِكَ فَصَبَرْتُ، وَالصَّابِرُ وَالشَّاكِرُ فِي الْجَنَّةِ
Artinya: “Karena engkau diberi pasangan sepertiku, lalu engkau bersyukur. Dan aku diuji dengan mendapatkan pasangan sepertimu, lalu aku bersabar. Orang yang bersyukur dan orang yang bersabar akan berada di dalam surga.” (Ibnu Asakir, Tarikh Madinah Dimasyq, [Beirut: Darul Fikr, 1995 Masehi/1415 Hijriah], jilid XXXXIII, halaman 491).
Keyakinan istri Imran ini sangat sejalan dengan tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap sikap orang mukmin. Bagi seorang mukmin sejati, segala keadaan dalam hidupnya akan selalu berujung pada kebaikan. Jika diberi kesenangan ia akan bersyukur, dan jika ditimpa ujian ia akan bersabar.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal ini tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia tertimpa ujian, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (Hadits Riwayat Muslim).
Lebih lanjut, di dalam riwayat Imam al-Baihaqi juga ditegaskan bahwa rasa syukur dan kesabaran masing-masing merupakan separuh dari keimanan. Ketika kedua sifat mulia ini menyatu di dalam diri seseorang, maka utuh dan sempurnalah imannya.
الشُّكْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالصَّبْرُ نِصْفُ الإِيمَانِ، وَالْيَقِينُ الإِيمَانُ كُلُّهُ
Artinya: “Syukur adalah separuh dari iman, sabar adalah separuh dari iman, dan keyakinan adalah seluruh iman.” (Hadits Riwayat al-Baihaqi).
Kisah rumah tangga Imran bin Hattan ini menjadi pengingat yang indah bagi kita semua bahwa pernikahan yang membahagiakan tidak menuntut kesempurnaan, melainkan hati yang ikhlas menerima ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bishshawab.








