Messi dan Piala Dunia 2026, Jawaban Terakhir untuk yang Meragukannya

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026 - 11:51 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Lionel Messi tidak mencetak gol saat Argentina menekuk Swiss 3-1 pada perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City, Sabtu (11/7/2026). Rentetan golnya dari laga ke laga di turnamen ini akhirnya terhenti. Yang tersisa darinya malam itu hanyalah satu umpan matang yang melahirkan gol pembuka, assist kesepuluhnya sepanjang sejarah Piala Dunia, sebelum Julian Alvarez dan Lautaro Martinez menuntaskan pekerjaan di perpanjangan waktu.

Dua dekade lalu, laga seperti itu akan menjadi amunisi bagi para pengkritiknya. Messi tidak mencetak gol di laga besar, begitu kira-kira judulnya. Hari ini, di usia 39 tahun, ia berdiri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 21 gol, dan tidak ada lagi yang berani menulis judul semacam itu.

Padahal hampir sepanjang kariernya, Messi hidup di bawah hujan keraguan. Tidak pernah ada pemain sehebat itu yang diragukan sebegitu seringnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di negerinya sendiri, ia pernah dicap pecho frio, si dada dingin. Publik Argentina menudingnya hanya bermain sepenuh hati untuk Barcelona dan tampil hambar setiap mengenakan seragam biru langit putih. Ia dicibir karena tidak ikut menyanyikan lagu kebangsaan. Setiap kegagalan timnas selalu bermuara ke satu nama, dan nama itu bukan pelatih atau pemain lain, melainkan Messi.

Baca Juga:  Lamine Yamal Berulang Tahun Hari Ini, Kado Terbaiknya Menanti di Dallas

Bayang-bayang Diego Maradona memperberat semuanya. Maradona memberi Argentina trofi Piala Dunia 1986 nyaris seorang diri, dan selama Messi belum melakukan hal serupa, sebagian publik menolak menyebutnya sejajar. Bahkan Maradona sendiri semasa hidupnya sempat melontarkan keraguan soal jiwa kepemimpinan Messi.

Tahun 2014 menjadi luka yang paling dalam. Messi membawa Argentina ke final Piala Dunia di Brasil, kalah 0-1 dari Jerman, lalu berjalan melewati trofi yang hanya berjarak beberapa langkah darinya dengan tatapan kosong. Ia dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen, tetapi penghargaan itu justru terasa seperti ejekan. Dua final Copa America menyusul pada 2015 dan 2016, keduanya berakhir kekalahan lewat adu penalti dari Chile. Di final kedua, Messi sendiri gagal mengeksekusi penaltinya. Malam itu juga ia mengumumkan pensiun dari timnas. Sebagian menyebutnya menyerah. Usianya baru 29 tahun dan narasinya nyaris terkunci, Messi adalah jenius yang tidak pernah bisa memberi apa-apa untuk negaranya.

Keraguan serupa mengikutinya ke Eropa. Para pencibirnya berkata ia hanya hebat dalam sistem Barcelona, hanya jago di zona nyaman. Ketika ia akhirnya meninggalkan Camp Nou menuju Paris Saint-Germain pada 2021, dua musimnya yang timpang di sana, lengkap dengan siulan penonton Parc des Princes, seolah membenarkan tudingan itu.

Baca Juga:  Tragedi Ranking di Bangku Sekolah

Namun sejarah bergerak ke arah lain. Messi menarik kembali keputusan pensiunnya, dan pada 2021 ia mengangkat trofi Copa America di Maracana, gelar besar pertama Argentina sejak 1993 sekaligus gelar pertamanya bersama timnas senior. Setahun berselang di Qatar, ketika usianya 35 tahun dan banyak yang menyebut turnamen itu datang terlambat baginya, ia justru memainkan Piala Dunia terbaik dalam hidupnya. Dua golnya di final melawan Prancis menutup perburuan seumur hidup. Trofi yang selama ini menjadi satu-satunya alasan orang menahannya dari takhta pemain terbaik sepanjang masa akhirnya berada di tangannya.

Yang tersisa setelah Qatar seharusnya hanya tepuk tangan. Nyatanya keraguan menemukan bentuk barunya. Kepindahannya ke Inter Miami pada 2023 disebut sebagai jalan pensiun yang nyaman, liga hiburan yang jauh dari sepak bola sesungguhnya. Ketika ia memastikan diri tampil di Piala Dunia 2026, suara-suara sumbang kembali terdengar. Ia dianggap terlalu tua di usia 39 tahun, dikhawatirkan merusak akhir cerita yang sudah sempurna, dituding memaksakan diri demi panggung perpisahan.

Baca Juga:  Hubungan Orang Tua dan Guru Tentukan Masa Depan

Messi menjawabnya dengan cara yang paling ia kuasai. Ia membuka turnamen dengan hattrick ke gawang Aljazair yang membuatnya menyamai rekor 16 gol Miroslav Klose. Beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ke-39, golnya ke gawang Mesir di babak 16 besar memantapkan statusnya sebagai pemilik tunggal rekor gol Piala Dunia. Ketika Argentina nyaris tergelincir dari Cape Verde dan Mesir, ia pula yang memimpin timnya keluar dari lubang jarum. Di Piala Dunia keenamnya, sesuatu yang belum pernah dilakukan pemain mana pun bersama Cristiano Ronaldo, ia bukan penumpang nostalgia. Ia masih pusat dari segalanya.

Kini tersisa Inggris di Atlanta pada Rabu (15/7/2026), lalu mungkin satu laga pamungkas di New Jersey. Jika Argentina juara, mereka menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar sejak Brasil pada 1962, dan Messi menutup karier internasionalnya dengan dua trofi Piala Dunia beruntun di usia yang seharusnya sudah lama membuatnya berhenti.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Kota Bogor Bidik 100 Medali Emas di Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat
Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti
Indonesia Vs Bangladesh: Garuda Menang 9-2, Lolos Ke Final FIFA ASEAN Cup
Emas Pertama Datang dari Bulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2026
NPCI Kabupaten Bogor Bidik 26 Emas di Pekan Paralimpik Daerah
Tiga Jogging Track Lari Pagi, Olahraga Favorit di Kota Bogor
Pada Piala AFF 2026 : Timnas Indonesia Gagal Ke Semifinal
Lawan Singapura, Mitchell Baker: Peluang Timnas ke Semifinal Piala AFF 2026 Masih Terbuka

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:14 WIB

Kota Bogor Bidik 100 Medali Emas di Pekan Olahraga Provinsi Jawa Barat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:45 WIB

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Taklukkan Thailand Lewat Adu Penalti

Jumat, 2 Oktober 2026 - 13:30 WIB

Indonesia Vs Bangladesh: Garuda Menang 9-2, Lolos Ke Final FIFA ASEAN Cup

Jumat, 25 September 2026 - 16:32 WIB

Emas Pertama Datang dari Bulu Tangkis Indonesia di Asian Games 2026

Selasa, 22 September 2026 - 20:03 WIB

NPCI Kabupaten Bogor Bidik 26 Emas di Pekan Paralimpik Daerah

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB