Binanews.id | Satu abad bukanlah usia yang singkat. Dalam bahasa Indonesia, istilah abad identik dengan perjalanan panjang yang penuh dinamika, tantangan, serta berbagai kisah yang membentuk sebuah sejarah besar.
Memasuki usia 100 tahun, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) tidak ingin terjebak dalam euforia perayaan yang bersifat seremonial. Sebaliknya, momentum ini dimaknai sebagai waktu untuk melakukan refleksi sejarah sekaligus meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas perjalanan panjang yang telah dilalui.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menegaskan bahwa peringatan satu abad berdirinya Gontor harus dipahami sebagai ajang introspeksi, bukan sekadar pesta perayaan yang kehilangan makna sejarah dan nilai spiritual.
Perjalanan panjang hingga mencapai usia satu abad, menurut Kiai Hasan, menjadi titik penting untuk kembali menengok perjuangan para pendiri Pondok Gontor yang dikenal sebagai Trimurti. Nilai-nilai yang diwariskan para pendiri, seperti keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian, yang tercermin dalam Moto dan Panca Jiwa Pondok, harus terus menjadi pedoman bagi seluruh generasi penerus.
“Satu abad Gontor ini bukanlah sebuah perayaan, melainkan sebuah peringatan,” tegas Kiai Hasan.
Putra pendiri PMDG, KH Ahmad Sahal, tersebut menjelaskan bahwa perbedaan makna antara istilah perayaan dan peringatan memiliki filosofi yang sangat mendalam bagi keluarga besar Gontor maupun umat Islam secara umum. Di tengah maraknya berbagai seremoni yang sering kali kehilangan ruh dan substansi, Gontor ingin memberikan teladan bahwa bertambahnya usia sebuah lembaga pendidikan Islam harus diiringi dengan peningkatan kualitas pengabdian kepada masyarakat, agama, dan bangsa.
Menurutnya, sebuah peringatan harus melahirkan kesadaran spiritual untuk senantiasa mengingat Allah SWT atas segala nikmat dan pencapaian yang telah diberikan.
“Jika sudah ingat kepada Allah, barulah kita benar-benar bersyukur dan berterimakasih kepada-Nya,” lanjutnya.
Melalui momentum yang sakral ini, seluruh elemen yang terafiliasi dengan Pondok Gontor, mulai dari pimpinan, pengasuh, santri, hingga para alumni yang tersebar di berbagai belahan dunia, diajak untuk mengenang kembali darah, keringat, dan air mata para pendiri dalam membangun fondasi pondok.
Selain itu, momentum peringatan satu abad ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai Panca Jiwa dan Moto Gontor, sekaligus meningkatkan kualitas ibadah serta rasa syukur atas eksistensi pondok yang tetap kokoh berdiri dan mampu bertahan melintasi berbagai perubahan zaman.
Peringatan 100 tahun Gontor diharapkan menjadi batu loncatan bagi seluruh keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor untuk terus melahirkan kader-kader pemimpin umat yang tidak hanya unggul dalam wawasan intelektual, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan spiritualitas yang kuat. Bekal tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendiri pondok. (Ted)









