Mengenal SO2, Gas yang Terdeteksi Usai Erupsi Anak Krakatau

Bisyral

- Redaksi

Rabu, 9 September 2026 - 14:18 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor- Erupsi Anak Krakatau yang masih berlangsung hingga kini memicu peningkatan gas SO2 yang terdeteksi lewat citra satelit. Lantas, apa sebenarnya gas SO2 ini?

SO2 merupakan gas tidak berwarna dan memiliki bau menyengat yang serupa dengan bau korek api terbakar. Terdiri dari 1 atom sulfur dan 2 atom oksigen, gas ini dilepaskan secara alami oleh aktivitas vulkanik dan dapat dihasilkan melalui aktivitas industri manusia.

Sulfur dioksida ditemukan di Bumi dan terdapat dalam konsentrasi yang sangat kecil di atmosfer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sumber paling besarnya berasal dari emisi pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak bumi untuk keperluan pembangkit listrik dan kendaraan bermotor.

Selain itu, industri logam juga menyumbang dari proses peleburan logam (smelting) terutama tembaga, nikel, dan seng.

Baca Juga:  Kabar Baik untuk Pegawai PPPK Berpeluang jadi PNS, DPR akan Mengawal

Di planet lain, sulfur dioksida dapat ditemukan dalam berbagai konsentrasi, yang paling signifikan adalah atmosfer Venus, di mana ia merupakan gas atmosfer terbanyak ketiga.

Kembali ke Bumi, keberadaan SO2 di atmosfer punya dampak nyata terhadap kesehatan dan lingkungan.

Menurut WHO, menghirup SO2 dalam waktu singkat dan konsentrasi tinggi dapat mengganggu fungsi paru-paru, terutama pada penderita asma. Sedangkan, dampak jangka panjangnya belum dapat dipastikan karena korelasi dan bukti yang belum konsisten. Namun, dipercaya hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian.

Selain itu, emisi SO2 yang menaikkan konsentrasi gas ini di udara menyebabkan pembentukan oksida sulfur lainnya yaitu SOx. SOx dapat bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer untuk membentuk partikel kecil.

Baca Juga:  Peternakan Ayam di Caringin Hangus Terbakar, 18 Ribu ekor Mati

Partikel ini dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan masalah kesehatan dan juga menyebabkan kabut yang mengganggu jarak pandang. Lebih lanjut, endapan partikelnya juga dapat menodai dan merusak batu atau bahan solid lainnya.

Pada konsentrasi tinggi, SOx berbentuk gas dapat membahayakan pohon dan tanaman dengan merusak dedaunan dan mengurangi pertumbuhan. Gas ini juga dapat berkontribusi terhadap hujan asam yang dapat membahayakan ekosistem yang sensitif.

Fenomena naiknya konsentrasi SO2 ini kini bisa dilihat langsung dari kasus Gunung Anak Krakatau yang hingga Selasa (8/9/2026) masih erupsi.

Baca Juga:  Perlu Diketahui, Data Penerima PIP Berubah Setiap Tahun

Peta satelit menunjukkan jumlah SO2 di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan sekitarnya melalui citra warna. Semakin gelap warna merahnya, semakin banyak pula jumlah SO2.

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan peta berwarna merah ini bukan berarti udara di wilayah tersebut berbahaya, melainkan menggambarkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi SO2 di udara yang kita hirup sehari-hari.

Melalui unggahan yang sama, Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir apabila mencium bau gas SO2 dan segera menerapkan 3 hal yaitu menggunakan masker saat di luar ruangan, berlindung di dalam rumah/bangunan, dan jangan meminum air hujan karena berpotensi bersifat asam.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Akademisi UGM Satyawan Pudyatmoko, Diangkat Jadi Kepala Badan Pengelola Gambut
Koperasi Merah Putih Bakal Jadi Saluran Pembayaran Gaji PNS dan Pensiunan
Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian
Kemanag Buka Pengajuan Bantuan Masjid dan Mushola, Ini Syarat dan Jadwalnya
Mendikdasmen Tekankan Peran Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Kemendikdasmen Susun Skema Siswa Tak Otomatis Naik Kelas, Ini Respons Kemenag
Transformasi Desa: Mengubah Posisi Desa dari Obyek Menjadi Subyek Pembangunan
Kemenag dan Al-Azhar Mesir Sepakati Skema Gelar Ganda

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:47 WIB

Akademisi UGM Satyawan Pudyatmoko, Diangkat Jadi Kepala Badan Pengelola Gambut

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:46 WIB

Koperasi Merah Putih Bakal Jadi Saluran Pembayaran Gaji PNS dan Pensiunan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:44 WIB

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:34 WIB

Kemanag Buka Pengajuan Bantuan Masjid dan Mushola, Ini Syarat dan Jadwalnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:51 WIB

Mendikdasmen Tekankan Peran Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB