Binanews.id | Bogor — Upaya meningkatkan pemahaman terhadap kesehatan mental terus dilakukan kalangan akademisi. Salah satunya melalui kegiatan kunjungan observasi yang dilakukan mahasiswa IUQI Bogor ke RS Marzuki Mahdi, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada observasi pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), sekaligus menjadi sarana edukasi dan deteksi dini terhadap berbagai gejala gangguan kejiwaan di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memahami lebih dalam penanganan gangguan mental, baik dari sisi konseling maupun medis.
Beragam kondisi kejiwaan menjadi perhatian dalam observasi tersebut, mulai dari depresi, PTSD, psikosis, psikoneurosis, waham, delusi, panic disorder, hingga skizofrenia. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga gambaran nyata terkait penanganan pasien di lapangan.
Kegiatan ini merupakan agenda tahunan sejak 2022 bagi mahasiswa IUQI Bogor, khususnya Program Studi Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI). Sekretaris Prodi BKPI IUQI, Dr. Faisal Rachmat, M.A., menyebut kegiatan ini penting untuk membuka wawasan sekaligus peluang karier mahasiswa di bidang konseling kesehatan.
“Kegiatan ini memberikan prospek bagi mahasiswa, khususnya dalam melihat peluang karier sebagai konselor kesehatan,” ujarnya.

Dari pihak rumah sakit, apresiasi juga disampaikan oleh Ibu Dewi Mustika, M.Psi., yang mewakili Direktur RS Marzuki Mahdi Bogor. Ia mengaku senang melihat antusiasme mahasiswa dalam mempelajari layanan kesehatan mental secara langsung.
“Kami sangat mengapresiasi minat belajar mahasiswa IUQI, khususnya Prodi BKPI, dalam mengenal berbagai fasilitas layanan di RS Marzuki Mahdi, baik psikiatri, psikologi, terapi, maupun non-psikiatri,” ungkapnya.
Sementara itu, Ibu Rini, psikolog yang bertugas di rumah rehabilitasi pasien ODGJ, menjelaskan bahwa program rehabilitasi di RS Marzuki Mahdi tidak hanya berfokus pada pemulihan medis, tetapi juga pada penguatan aspek psikososial pasien.
Menurutnya, pasien dengan kategori gangguan ringan hingga sedang diberikan berbagai kegiatan produktif, seperti menanam tanaman dengan metode hidroponik hingga membuat adonan roti yang kemudian dipasarkan di lingkungan rumah sakit.
“Pasien juga diedukasi untuk merawat diri, mandiri, bersosialisasi, dan berwirausaha. Harapannya, saat dinyatakan pulih secara medis, mereka sudah siap kembali ke masyarakat dengan kondisi yang mandiri,” jelasnya.
Para mahasiswa pun merasakan manfaat besar dari kegiatan ini. Mereka mengaku observasi langsung ke ruang perawatan pasien ODGJ membantu memahami gejala awal gangguan kejiwaan serta langkah penanganan dini yang tepat.
Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepekaan sosial dalam menghadapi persoalan kesehatan mental di masyarakat.[]









