Madat Agama

Yudi Latief, M.A., Ph.D (Aktivis dan Cendekiawan)

Irwan Maulana

- Redaksi

Senin, 11 Mei 2026 - 08:58 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Saudaraku, di negeri yang riuh menyebut nama Tuhan, agama hidup di mana-mana: di rumah ibadah, di layar politik, di ruang simbolik kesalehan. Namun di tengah kelimpahan itu, agama miskin daya ubah.

Ia ramai sebagai ritual, tapi lemah sebagai kekuatan peradaban. Ia dipelihara sebagai identitas, tapi kehilangan keberanian intelektual; diagungkan sebagai kemuliaan, tapi gagal menyalakan daya cipta.

Padahal sejarah menunjukkan: agama pernah menjadi tenaga penggerak peradaban. Rachel M. McCleary & Robert J. Barro menunjukkan bahwa keyakinan keagamaan membentuk disiplin, etika kerja, tradisi literasi, dan jaringan kepercayaan sosial—fondasi penting bagi kemajuan,

Benjamin M. Friedman menunjukkan bahwa kapitalisme modern tidak lahir sepenuhnya dari ruang sekuler. Perkembangan ekonomi modern dimulai dari perubahan cara memaknai hidup, dipicu pergulatan teologis, yang menjadikan kerja sebagai panggilan moral, disiplin sebagai kebajikan, dan kemajuan sebagai tanggung jawab spiritual.

Namun di Indonesia hari ini, agama lebih marak sebagai seremoni daripada tenaga transformasi peradaban.

Kita rajin membangun rumah ibadah, tetapi malas membangun tradisi ilmu. Kita fasih menghafal ayat, tetapi gagap mengubahnya menjadi etika publik. Kita memuliakan simbol Tuhan, tetapi membiarkan korupsi merajalela.

Ormas-ormas keagamaan yang dahulu lahir sebagai gerakan pembebasan sosial perlahan terjebak dalam kenyamanan kelembagaan. Mereka sibuk merawat struktur, tetapi kehilangan keberanian mengguncang kebekuan. Mimbar lebih sering menjadi panggung legitimasi politik ketimbang pengobar nurani.

Ketika agama kehilangan daya kritisnya, ia berubah menjadi seremoni yang jinak: khusyuk di rumah ibadah, tetapi lumpuh menghadapi ketimpangan, kerakusan, dan kerusakan moral.

Barangkali problem terbesar kita bukan kurang religius, melainkan terlalu lama memenjarakan agama sebagai ritual formal. Kita sibuk mengurus surga, tetapi lupa membiarkannya bekerja di bumi.

Sebab iman yang sejati tidak berhenti di bibir dan upacara; ia menjelma keberanian moral yang menggerakkan peradaban. Jika tidak, agama hanya menjadi gema: terdengar keras, tetapi kehilangan elan vital.[]

Baca Juga:  Perlu Diketahui, Data Penerima PIP Berubah Setiap Tahun

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB