Binanews.id | Bogor — Mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 22 Universitas Islam Bogor (UIB) menggelar edukasi mengenai bahaya bullying atau perundungan kepada siswa sekolah dasar di Desa Leuweungkolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Kegiatan yang dikemas melalui program KKM Menyapa tersebut berlangsung pada 13–18 Agustus 2026 dengan menyasar empat sekolah dasar, yakni SDN Leuweungkolot 07, SDN Leuweungkolot 05, SDN Leuweungkolot 01, dan SDN Leuweungkolot 02.
Program tersebut menjadi bagian dari kepedulian mahasiswa KKM 22 UIB Bogor terhadap persoalan pendidikan sekaligus kehidupan sosial anak-anak di lingkungan Desa Leuweungkolot.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mengajak para siswa memahami pentingnya membangun hubungan pertemanan yang sehat, saling menghargai, serta mengenali berbagai bentuk perundungan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah.
Salah satu anggota KKM 22 UIB Bogor, Elsa Kusuma, mengatakan edukasi mengenai bullying penting diberikan sejak usia sekolah dasar. Menurutnya, anak-anak masih berada dalam tahap belajar memahami hubungan sosial dan cara memperlakukan orang lain.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa bercanda itu ada batasnya. Sesuatu yang menurut kita lucu belum tentu lucu bagi teman kita. Jangan sampai karena dianggap bercanda, ternyata ada teman yang merasa malu, takut, atau bahkan memilih menjauh dari lingkungan sekolah,” ujar Elsa.
Pemilihan isu bullying bukan tanpa alasan. Selama menjalankan kegiatan KKM di Desa Leuweungkolot, mahasiswa melihat adanya kebutuhan untuk memberikan edukasi mengenai perundungan sejak dini.
Pada usia sekolah dasar, anak masih membutuhkan pendampingan dalam memahami hubungan sosial. Perilaku yang kerap dianggap sebagai candaan, seperti mengejek, memberikan julukan yang tidak disukai, menyebut nama orang tua, mengucilkan, hingga melakukan kekerasan fisik, dapat memberikan dampak terhadap anak yang menjadi sasaran.
Perhatian mahasiswa terhadap persoalan tersebut juga diperkuat oleh informasi yang mereka terima dari Kampung Bubulak, Desa Leuweungkolot.
Menurut informasi yang diterima mahasiswa, terdapat seorang anak yang tidak melanjutkan sekolah setelah mengalami ejekan dan pengucilan dari teman-temannya.
Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu pertimbangan KKM 22 UIB Bogor dalam mengangkat isu perundungan melalui program KKM Menyapa.
Bagi mahasiswa, persoalan bullying tidak cukup dipahami hanya sebagai perilaku mengejek atau bercanda. Ada dampak sosial dan psikologis yang mungkin dirasakan oleh anak yang menjadi sasaran.
Karena itu, edukasi diarahkan agar siswa mampu mengenali tindakan perundungan sekaligus memahami bagaimana perilaku mereka dapat memengaruhi orang lain.
Elsa menjelaskan, mahasiswa tidak ingin kegiatan tersebut hanya menjadi penyampaian materi satu arah. Para siswa justru diajak melihat kembali perilaku yang mungkin pernah mereka lakukan terhadap teman, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
“Kami mengajak mereka untuk berani melihat kembali perilaku masing-masing. Kalau pernah mengejek, mengucilkan, atau melakukan sesuatu yang membuat teman merasa tidak nyaman, jangan takut untuk meminta maaf dan belajar tidak mengulanginya,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan contoh berbagai bentuk perundungan yang dekat dengan kehidupan anak-anak.
Siswa diajak memahami bahwa sesuatu yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang belum tentu dirasakan menyenangkan oleh orang lain.
Karena itu, mereka didorong untuk lebih memperhatikan perasaan teman, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta tidak mengulangi tindakan yang dapat menyakiti orang lain.
Selain membahas perundungan, mahasiswa juga memberikan penguatan mengenai pentingnya menghargai diri sendiri.
Para siswa diajak mengenali potensi dan kelebihan masing-masing serta membangun keyakinan bahwa setiap anak memiliki nilai dan kemampuan yang patut dihargai.
Elsa menilai pesan tersebut penting karena upaya menciptakan lingkungan pertemanan yang sehat tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seorang anak memperlakukan orang lain, tetapi juga bagaimana ia memandang dirinya sendiri.
“Kami ingin mereka tahu bahwa setiap anak itu berharga. Tidak perlu merasa lebih tinggi dari teman yang lain, dan tidak perlu merasa rendah hanya karena memiliki kekurangan. Kita semua punya kelebihan masing-masing,” ungkap Elsa.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat siswa memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk merendahkan teman.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi bagian dari kehidupan bersama yang perlu diterima dan dihargai.
Mahasiswa KKM 22 UIB Bogor berharap edukasi melalui KKM Menyapa dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan ramah bagi anak-anak di Desa Leuweungkolot.
Menurut mahasiswa, pencegahan bullying tidak dapat dibebankan kepada siswa semata.
Guru, orang tua, dan masyarakat juga memiliki peran dalam memberikan pendampingan, membuka ruang komunikasi, serta membangun budaya saling menghargai di lingkungan anak.
Elsa menilai anak-anak membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka berbicara ketika mengalami persoalan dengan teman.
“Anak-anak tentu perlu belajar saling menghargai, tetapi mereka juga membutuhkan orang dewasa yang mau mendengar dan mendampingi. Karena itu, menurut kami, menciptakan lingkungan yang aman dari bullying adalah tanggung jawab bersama,” pungkasnya.
Melalui KKM Menyapa, mahasiswa membawa pesan “Bersama Membangun Generasi yang Saling Menghargai, Peduli, dan Berani Menolak Bullying.”
Pesan tersebut diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung. Lebih jauh, mahasiswa berharap kebiasaan sederhana seperti menjaga ucapan, menghargai perbedaan, berani meminta maaf, dan tidak mengucilkan teman dapat tumbuh dalam keseharian siswa.
Sebab, lingkungan yang ramah bagi anak tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, ia tumbuh dari hal sederhana: satu ejekan yang dihentikan, satu teman yang dirangkul, dan satu anak yang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Editor : Fathurroji









