Ketika Popularitas Mengalahkan Keilmuan

Kiai Ahmad Fahrur Rozi

Irwan Maulana

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 20:27 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Sebagai orang yang lebih dari tiga dekade berkhidmah di lingkungan NU dan pesantren, saya melihat ada fenomena yang perlu menjadi perhatian bersama. Bukan untuk menghakimi siapa pun, tetapi sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas bimbingan keagamaan yang diterima masyarakat.

Di era media sosial, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi alim. Seseorang bisa memperoleh jutaan pengikut dalam waktu singkat, tetapi membangun kedalaman ilmu, kematangan akhlak, dan kekayaan ruhani tetap memerlukan proses panjang yang tidak bisa dipercepat oleh algoritma.

Karena itu, kita mulai melihat munculnya fenomena “gus” , ustadz dan “ning” karbitan. Ada yang dikenal luas bukan karena kapasitas keilmuan, melainkan karena kemampuan membangun citra, membuat konten lucu yang menarik, atau tampil berbeda dari yang lain. Bahkan ada yang baru beberapa tahun meninggalkan dunia hiburan, artis panggung, atau media sosial, lalu tiba-tiba tampil sebagai penceramah, tokoh agama dan dijadikan rujukan oleh masyarakat.

Tentu kita bersyukur jika ada orang yang berhijrah dan mendekat kepada agama. Hijrah adalah sesuatu yang mulia. Namun menjadi pribadi yang saleh berbeda dengan menjadi pembimbing umat. Menjadi pendakwah, nyai, atau tokoh agama memerlukan bekal ilmu yang cukup, adab yang kokoh, kedalaman spiritual, serta tanggung jawab moral yang besar.

Dalam tradisi pesantren, seorang gus dihormati bukan semata karena ia putra kiai. Seorang ning dihargai bukan karena ia berasal dari keluarga pesantren. Penghormatan itu lahir karena ilmu, akhlak, kesederhanaan, ketekunan beribadah, dan kesediaan terus belajar sepanjang hayat.

Yang membuat prihatin adalah ketika sebagian masyarakat lebih mudah terpikat oleh penampilan daripada isi, oleh retorika daripada ilmu, oleh viralitas daripada kapasitas. Akibatnya, yang ramai dianggap benar, yang terkenal dianggap alim, dan yang banyak ditonton dianggap layak dijadikan rujukan.

Padahal para ulama besar yang kita hormati hari ini tidak dibentuk oleh kamera dan panggung. Mereka dibentuk oleh kitab-kitab yang dipelajari bertahun-tahun, oleh pengabdian kepada guru, oleh munajat di sepertiga malam, oleh kesabaran menjaga adab, dan oleh kerendahan hati yang semakin dalam seiring bertambahnya ilmu.

Masyarakat perlu lebih cermat dalam memilih panutan. Jangan hanya melihat jumlah pengikutnya, tetapi lihat siapa gurunya, apa keilmuannya, bagaimana ibadahnya, bagaimana adabnya, dan bagaimana jejak pengabdiannya kepada umat.

Sebab agama adalah urusan yang terlalu mulia untuk diserahkan kepada mereka yang hanya mengandalkan popularitas. Umat membutuhkan pembimbing yang berilmu, berakhlak, dan takut kepada Allah, bukan sekadar figur yang pandai menarik perhatian.

Nasab memang bisa menghadirkan penghormatan, dan popularitas bisa menghadirkan ketenaran. Namun hanya ilmu, adab, dan keikhlasan yang akan menghadirkan keberkahan.

“Di pesantren, kemuliaan tidak diukur dari seberapa terkenal seseorang, tetapi dari seberapa dalam ilmunya, seberapa baik adabnya, dan seberapa tulus pengabdiannya kepada umat.”

Baca Juga:  Ibnu Sina dan Krisis Berpikir Bangsa Indonesia

Berita Terkait

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor
Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan
Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji
Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?
Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri
Pesantren Menggugat Keadilan: Saat Pengakuan Negara Belum Berbuah Kesetaraan
18.540 Siswa SD Kabupaten Bogor, Modal Indonesia Emas atau Bom Waktu?
Menjaga Pesantren, Menegakkan Keadilan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Demi Mengulang Kenangan lama, Hadir di Reuni Akbar 100 Tahun Gontor

Jumat, 25 September 2026 - 11:14 WIB

Pesantren dan Empat Penjaga Kehidupan

Kamis, 24 September 2026 - 10:27 WIB

Tongkat dan Ramuan Sakti yang Belum Teruji

Rabu, 23 September 2026 - 09:28 WIB

Ke Gontor, Apa yang akan Kau Beri?

Rabu, 23 September 2026 - 09:24 WIB

Gontor, Kiai dan Adab Seorang Santri

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB