Ini Edukasi Cara Aman Hadapi Ular Langsung dari Pakarnya di IPB

Bisyral

- Redaksi

Rabu, 29 April 2026 - 19:50 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor – Ketakutan terhadap ular sering kali terasa lebih besar dari ancaman sebenarnya. Namun di balik rasa waswas itu, ada fakta penting yang perlu dipahami agar manusia bisa hidup berdampingan dengan satwa liar ini secara aman.
‎
‎Hal tersebut menjadi fokus dalam kegiatan edukasi yang digelar di lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB University), Kabupaten Bogor, pada Rabu 29 April 2026.
‎
‎Kegiatan ini menghadirkan ahli herpetofauna sekaligus Executive Director Indonesia Herpetofauna Foundation, Nathan Rusli, yang memberikan pemahaman mendalam tentang cara menghadapi konflik antara manusia dan ular.
‎
‎Acara ini merupakan hasil kolaborasi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) bersama Kantor Manajemen Keamanan, Keselamatan, dan Perlindungan Kampus (KMKKPK) IPB University, dan diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kesehatan dan Keselamatan kerja (K3).
‎
‎Dalam pemaparannya dikutip Radar Bogor dari laman resmi IPB, Nathan menjelaskan, ketakutan terhadap ular sering kali termasuk dalam kategori “risiko semu”, yakni rasa takut yang tidak selalu sebanding dengan bahaya nyata.
‎
‎Meski demikian, ia menegaskan, pemahaman terhadap risiko tetap penting agar masyarakat tidak bersikap ceroboh saat berhadapan dengan ular.
‎
‎Ia membagi ular ke dalam tiga kelompok utama berdasarkan tingkat risikonya.
‎‎Pertama, ular tidak berbisa yang relatif tidak berbahaya bagi manusia.
‎
‎Kedua, ular berukuran besar atau pembelit dengan panjang lebih dari dua meter yang dapat membahayakan melalui lilitan.

Baca Juga:  Kemenag: Pesantren Efektif Wujudkan Pemerataan Kesejahteraan

‎Ketiga, ular berbisa yang memiliki potensi tinggi menyebabkan cedera serius hingga kematian melalui gigitan.

Menurut Nathan, sebagian besar kasus gigitan ular terjadi bukan karena agresivitas ular, melainkan karena respons defensif saat merasa terganggu.
‎
‎Ia menjelaskan, banyak insiden terjadi akibat manusia yang mencoba menangkap atau berinteraksi langsung dengan ular tanpa pengetahuan yang memadai.

Baca Juga:  Daun Kelor Bermanfaat untuk Redakan Stres Korban Perundungan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, spesies seperti king kobra disebutnya cenderung menghindari manusia dan hanya menyerang jika merasa terancam.

Selain itu, Nathan juga menyoroti kemampuan adaptasi ular yang membuat mereka sulit terdeteksi.
‎

Beberapa jenis ular memiliki pola tubuh yang menyerupai lingkungan sekitarnya, seperti daun atau tanah, sehingga sering kali tidak terlihat oleh manusia.

Kondisi ini kerap memicu insiden yang tidak disengaja.

‎Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan penggunaan alas kaki yang tebal seperti sepatu bot saat berada di area berisiko, menggunakan senter di tempat gelap, serta menghindari memasukkan tangan ke dalam lubang atau semak tanpa pengecekan terlebih dahulu.

Ia juga menekankan pentingnya tidak mencoba menangkap atau membunuh ular tanpa keahlian khusus.

Baca Juga:  Tercatat 2.271 Santri Terima Beasiswa Kemenag-LPDP sejak 2023

‎Nathan turut mengingatkan bahwa fasilitas medis untuk penanganan gigitan ular di Indonesia masih terbatas.

‎Oleh karena itu, pencegahan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko.
‎
‎Terkait penanganan pertama pada korban gigitan, ia menegaskan bahwa tindakan seperti menyayat luka, mengisap racun, atau mengikat bagian tubuh yang tergigit justru dapat memperburuk kondisi.

‎Ia menjelaskan, racun ular tidak langsung masuk ke aliran darah, melainkan melalui sistem getah bening, sehingga penanganan yang salah dapat mempercepat penyebaran racun.

Ia menyarankan agar korban tetap tenang, meminimalkan pergerakan pada area yang tergigit, dan segera mencari bantuan medis profesional.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh sivitas akademika IPB University semakin memahami cara menghadapi keberadaan ular secara aman dan bijak, sekaligus mengurangi risiko konflik yang tidak perlu antara manusia dan satwa liar.[]

Berita Terkait

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi
Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor
Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026
Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin
Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027
Jangan Sepelekan Ijazah SMA, Dokumen Ini Bisa Perluas Peluang Karier
Ditjen Pesantren Gandeng Kemnaker Buka Akses Pelatihan Vokasi bagi Santri
Pentingnya Belajar Bahasa Inggris di Era Digital

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:48 WIB

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB