Binanews.id | Di sebuah rumah sederhana di komplek pesantren, seekor semut kecil pernah berhenti melangkah. Bukan karena lelah, tapi karena takjub. Di hadapannya, sebuah layar bercahaya menampilkan dunia yang jauh lebih luas dari yang pernah ia bayangkan.
Ribuan kerbau berwarna coklat berlari menembus padang yang mengering. Mereka mengejar hujan, menempuh perjalanan ribuan kilo. Tidak semua selamat, sebagian jatuh di cakar singa, sebagian hilang di arus sungai, sebagian lagi menjadi santapan buaya. Namun perjalanan itu tidak pernah berhenti. Hidup, bagi mereka, adalah bergerak.
Lalu berganti gambar. Jutaan ikan berenang melawan arus, meninggalkan asin laut menuju tawarnya sungai. Sebuah perjalanan panjang yang menuntut tenaga, waktu, bahkan nyawa. Tapi mereka tetap melakukannya.
Semut hitam itu terpaku. Matanya tak berkedip.
Ia lupa bahwa awalnya ia hanya ingin mencari makan. Lupa pada aroma lezat dari meja besar di tengah rumah. Seolah-olah, perutnya tiba-tiba kenyang oleh mimpi.
“Aku tidak sebesar kerbau,” gumamnya dalam hati.
Kesadaran akan keterbatasan datang pelan-pelan. Dari Leuwimekar ke Leuwiliang saja, yang hanya sekitar 1 kilometer, ia butuh waktu berbulan-bulan. Apalagi ke Bogor, yang hampir 20 kilometer. Mungkin sebelum sampai, ia sudah lebih dulu menjadi bagian dari tanah.
Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia padamkan: keinginan untuk bergerak. Untuk melihat dunia. Untuk merasakan perjalanan.
Ia sempat berpikir untuk menyerahkan dirinya pada arus sungai. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari sarang. “Biarkan air yang membawaku,” pikirnya. Tapi segera ia sadar, itu bukan perjalanan, itu penyerahan tanpa arah. Bukan mimpi, tapi keputusasaan yang dibungkus keberanian palsu.
Dalam kebingungan, ia berjalan tanpa tujuan. Hingga tanpa sadar, ia masuk ke dalam kantong celana seorang laki-laki.
Gelap. Sempit. Tak terduga.
Tak lama kemudian, layar yang tadi memukau itu mati. Laki-laki itu berdiri, mengambil kunci, lalu menyalakan kendaraan. Mesin menderu. Dunia bergerak.
Semut kecil itu masih diam. Hingga akhirnya ia merayap naik, perlahan, menuju pundak. Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat dunia bergerak cepat.
Rumah-rumah berlari kecil. Pohon-pohon tertinggal. Angin menyapa wajahnya. Perjalanan yang dulu terasa mustahil, kini terjadi.
“Aku sedang bermigrasi,” bisiknya pelan.
Kisah semut kecil ini seperti cermin bagi kita. Tidak semua mimpi harus dicapai dengan cara yang sama seperti yang kita lihat. Kerbau punya kakinya, ikan punya siripnya, dan semut punya jalannya sendiri.
Seringkali kita terjebak pada perbandingan. Melihat orang lain menempuh “ribuan kilometer” dalam hidupnya, lalu merasa diri kita terlalu kecil untuk bergerak. Padahal, ukuran langkah tidak selalu menentukan jauh tidaknya perjalanan.
Yang lebih penting adalah kesadaran, bahwa setiap makhluk memiliki cara, waktu, dan jalannya masing-masing.
Semut itu tidak jadi melompat ke sungai. Ia tidak memaksakan diri menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Tapi ia tetap bergerak, tetap mencari kemungkinan, dan tanpa disangka, semesta membukakan jalan.
Hikmahnya sederhana, tapi sering kita abaikan, tidak semua perjalanan harus kita paksa. Ada saatnya kita melangkah, ada saatnya kita menemukan bahwa kita sedang dibawa oleh kesempatan, oleh takdir, oleh pilihan-pilihan kecil yang kita ambil dengan berani.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa besar kita, tapi seberapa jauh kita mau percaya bahwa perjalanan itu mungkin. Maka bergeraklah, karena di sana ada keberkahan.[]









