Hijrah Menuju Cahaya

Oleh: Saiful Falah

Tim Redaksi

- Redaksi

Rabu, 17 Juni 2026 - 18:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Setiap tahun umat Islam merayakan tahun baru Hijriah. Sebuah momen bersejarah ketika Rasulullah saw. hijrah dari Mekah ke Madinah. Perjalanan berat yang menuntut kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan.

Kaum Muhajirin harus melalui medan terjal, melintasi gurun dalam gelap malam. Mereka selalu diintai mata-mata Quraisy yang siap menghadang dan menyerang. Mereka berjalan tanpa membawa banyak harta benda. Hanya iman dalam dada yang menjadi pegangan.

Hijrah yang penuh pengorbanan itu akhirnya menghasilkan kemenangan. Islam diterima dengan baik oleh penduduk Yatsrib. Rasulullah saw. berhasil menyatukan Muhajirin dan Anshar. Yatsrib yang dulu menjadi medan pertikaian antarsuku berubah menjadi Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Dari kota kecil itu, Islam menyebar. Peradaban tauhid tumbuh. Para penyembah berhala dan api perlahan mengenal cahaya Allah.

Baca Juga:  Literasi dan Edukasi Geopark Hadir Meriahkan CFD Cibinong

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, hijrah tidak boleh hanya dipahami sebagai perjalanan fisik. Hijrah bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Bukan hanya perjalanan yang ditempuh dengan langkah kaki, unta, kuda atau kereta. Hijrah sejati adalah perpindahan dari gelap menuju terang. Dari hati yang lalai menuju hati yang sadar. Dari hidup yang hanya mengejar dunia menuju hidup yang punya arah akhirat.

Sebab, tidak semua orang yang berpindah tempat benar-benar berhijrah. Ada yang tubuhnya jauh berjalan, tetapi hatinya tetap tinggal dalam mode lama. Ada yang rumahnya berubah, bajunya berubah, lingkungannya berubah, tetapi sifat sombong, iri, malas, dan marahnya masih sama.

Baca Juga:  Khofifah dan Zulkifli Hasan Ajak Jamaah Jadikan Dzikir sebagai Energi Membangun Bangsa

Maka tahun baru Hijriah seharusnya menjadi cermin. Sudah sejauh mana kita berhijrah?

Apakah kita sudah berpindah dari banyak mengeluh menjadi banyak bersyukur? Dari mudah menyalahkan menjadi berani memperbaiki diri? Dari sibuk mencari kekurangan orang lain menjadi tekun menambal kekurangan diri sendiri?

Hijrah Rasulullah saw. mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari pengorbanan. Tidak ada Madinah tanpa meninggalkan Mekah. Tidak ada cahaya tanpa keberanian keluar dari gelap. Tidak ada kemuliaan tanpa kesediaan melepas sesuatu yang dicintai.

Mungkin hijrah kita hari ini tidak harus melintasi gurun pasir. Tidak harus dikejar musuh Quraisy. Tidak harus bersembunyi di Gua Tsur.

Hijrah kita mungkin lebih sederhana.

Berhenti dari kebiasaan buruk yang diam-diam merusak hati. Menjaga lisan agar tidak melukai. Menahan amarah ketika mampu membalas. Memilih jujur saat dusta lebih menguntungkan. Tetap berbuat baik meski tidak dipuji siapa pun. Itulah hijrah yang berat. Karena musuhnya bukan lagi orang Quraisy di luar sana, tetapi hawa nafsu di dalam dada.

Baca Juga:  Harta di Tangan, Allah di Hati

Maka mari menjadikan tahun baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Tetapi sebagai awal untuk memperbarui iman, membersihkan hati, dan menata kembali arah hidup. Sebab hidup ini pun pada akhirnya adalah perjalanan hijrah. Dari dunia menuju akhirat. Dari sementara menuju yang abadi. Dari diri yang rapuh menuju rahmat Allah yang luas. Semoga setiap langkah kita, sekecil apa pun, menjadi bagian dari perjalanan menuju cahaya. Amien.

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB