Binanews.id | Bogor Tidak semua perjalanan menuju kursi legislatif dimulai dari dunia politik. Bagi Azis Muslim, pengabdian kepada masyarakat justru berawal dari ajaran religius keluarga yang sederhana, kegiatan sosial, dan pembinaan keagamaan yang dengan ikhlas ia jalani. Putra seorang guru ngaji ini membuktikan bahwa kepemimpinan dapat lahir dari proses panjang melayani masyarakat, bukan semata-mata dari ambisi politik. Baginya, jabatan hanyalah amanah, sedangkan kebermanfaatan bagi sesama merupakan tujuan utama.
Kisah masa kecil Bapak Azis Muslim
Azis Muslim lahir pada tahun 1964 dan dibesarkan di dalam keluarga yang religius. Ia memiliki sepuluh saudara. Ayahnya dikenal sebagai seorang guru ngaji yang memiliki majelis taklim dan taman kanak-kanak (TK). Aktivitas mengajar dilakukan dari mushola ke mushola demi menyampaikan ajaran agama Islam.
Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang bertugas memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Ibunya juga kerap kali menghadiri pengajian-pengajian yang dilaksanakan di majils taklim. Pendidikan dasar hingga sekolah menengah ditempuh di Jakarta. Setelah lulus SMA, Azis Muslim melanjutkan pendidikan di Akademi Usaha Perikanan Indonesia (AUPI), yang kemudian berubah menjadi Politeknik AUP. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan Diploma III di bidang perikanan. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia memulai karier di Surabaya dengan mengelola tambak udang.
Di kota tersebut pula ia bertemu dengan pendamping hidupnya, seorang alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kemudian berkarier sebagai peneliti hingga menjadi Peneliti Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelum menetap di Kota Bogor, Azis pernah berpindah-pindah tempat kerja. Hal ini ia lakukan karena tuntutan pekerjaan mulai dari Surabaya, Banten, Lampung, dan kota lainnya. Sejak kecil, Azis memang tertarik pada dunia organisasi. Hal inilah yang kemudian menjadi bekal bagi dirinya untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Nilai yang ditanamkan orang tua Sejak Kecil
Menurut Azis Muslim, seluruh perjalanan hidupnya tidak dapat dilepaskan dari didikan orang tuanya. Ayahnya selalu menanamkan bahwa seorang Muslim tidak boleh terlepas dari urusan agama dalam kondisi apa pun. Nasihat yang paling ia ingat hingga sekarang adalah agar tidak pernah meninggalkan sholat, membiasakan berzikir setelah sholat Subuh, serta rutin membaca Surah Al-Waqi’ah. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi spiritual yang terus dipegang dalam setiap langkah kehidupannya. Ia juga meyakini bahwa kesuksesan tidak hanya diperoleh melalui ikhtiar semata atau “jalur darat”, tetapi juga melalui doa atau “jalur langit”.
Pengalaman tersebut pernah ia rasakan ketika akan melanjutkan kuliah. Ia meminta ibunya untuk membangunkan dirinya pada sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadan. Berkat ikhtiar yang disertai doa, ia berhasil lolos seleksi perguruan tinggi negeri. Baginya, ilmu pengetahuan memang penting, tetapi keberhasilan hidup juga sangat ditentukan oleh kedekatan seseorang dengan Allah SWT. Karena itulah ia selalu mengajarkan pentingnya menyeimbangkan antara usaha, doa, dan tawakal.
Perjalanan menjadi Ketua RT dan Visinya
Pada tahun 1991 Azis Muslim menikah dan menetap di Bogor berprofesi sebagai konsultan sosial ekonomi. Ia tinggal di Bumi Ciluar Indah Kel. Ciluar Kec. Bogor Utara dan mulai aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Ia dipercaya menjadi ketua RT selama enam tahun, ketua RW enam tahun, dan ketua LPM di kelurahan selama dua periode. Belum genap menjalankan amanahnya, dia diminta oleh masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai calon anggota dewan.
Azis Muslim sudah lama Memiliki kegiiatan sosial. Sejak tahun 2008, ia rutin membina anak-anak yatim melalui kegiatan santunan dan pengajian. Awalnya hanya lima anak yatim yang dibina, mereka menerima uang sebesar Rp50.000 dan nasi uduk. Seiring berjalannya waktu, jumlah anak binaan terus bertambah menjadi dua ratus dan selalu bertambah setiap bulannya. Program tersebut dikelola melalui Yayasan Amal Mulya Baitul Faizin yang ia kelola.
Ia juga mengelola Yayasan Koral Peduli Indonesia dengan memberikan perhatian dan pengajian kepada lansia. Ia meyakini bahwa doa anak-anak yatim merupakan salah satu kekuatan terbesar dalam perjalanan hidupnya. Bahkan ia sering mengatakan bahwa keberhasilannya menjadi anggota DPRD merupakan buah dari doa-doa anak yatim yang selama ini dibinanya.
Kiprah Azis Muslim di Dunia Politik
Azis Muslim tidak memiliki latar belakang politik ataupun ambisi untuk menjadi anggota legislatif. Modal utamanya hanyalah pengalaman panjang dalam organisasi sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Berkat kiprahnya di masyarakat, Azis Muslim kemudian mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menjadi calon anggota DPRD Kota Bogor pada Pemilu 2019.
Ia berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat dan terpilih menjadi anggota DPRD Kota Bogor. Kepercayaan tersebut kembali diberikan masyarakat pada Pemilu 2024 sehingga ia kembali terpilih sebagai anggota DPRD Kota Bogor untuk periode berikutnya. Sebelum dicalonkan menjadi calon DPRD, Azis Muslim kerap menolak dicalonkan, karena waktu itu bebarengan dengan jadwalnya berangkat haji, ia menggunakan waktu itu untuk beristikhoroh di Mekah.
Di DPRD Kota Bogor, Azis Muslim mengemban sejumlah amanah strategis. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Fraksi Gerindra, anggota Badan Kehormatan, anggota Komisi IV, anggota Badan Musyawarah, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Kota Cerdas, serta Ketua Panitia Khusus Rumah Susun. Meski telah menjadi anggota legislatif, aktivitas sosialnya tidak pernah berhenti. Bahkan menurut pengakuannya, sebelum menjadi anggota dewan ia membina sekitar 100 anak yatim. Setelah menjadi anggota DPRD, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 200 anak yatim. Selain itu, ia juga membina sebelas majelis taklim tanpa pernah menerima honor. Baginya, pengabdian kepada masyarakat adalah ibadah. “Dibayar sama Allah saja,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Visi Azis Muslim di DPRD Kota Bogor
Bagi Azis Muslim, menjadi anggota DPRD bukanlah tentang jabatan ataupun kekuasaan. Amanah tersebut dijalankan dengan satu prinsip utama yang selalu ia pegang, yaitu: “Khairunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Prinsip inilah yang menjadi dasar dalam setiap aktivitasnya sebagai wakil rakyat. Ia ingin memastikan bahwa keberadaannya di DPRD memberikan manfaat nyata melalui pelayanan kepada masyarakat, memperkuat silaturahmi, memperjuangkan kepentingan warga, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan publik. Menurutnya, jabatan hanyalah sarana untuk memperluas manfaat kepada masyarakat. Oleh karena itu, seluruh aktivitas politik harus tetap berorientasi pada pelayanan, bukan pada kepentingan pribadi.
Pesan untuk generasi muda
Menutup wawancara, Azis Muslim menyampaikan sejumlah pesan kepada generasi muda Indonesia. Ia mengajak anak-anak muda untuk terus belajar setinggi-tingginya karena pendidikan merupakan bekal utama menghadapi masa depan. Menurutnya, apabila anak muda bekerja menjadi aparatur sipil negara, maka tempuhlah pendidikan setinggi-tingginya. Sebaliknya, apabila memilih bekerja di sektor swasta, jangan hanya bercita-cita menjadi karyawan, tetapi tanamkan mimpi untuk suatu hari mampu memimpin perusahaan tempat bekerja. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak mudah tergoda oleh pola pikir serba instan. Kesuksesan, menurutnya, selalu membutuhkan proses, kerja keras, kesabaran, dan konsistensi.
“Belajarlah setinggi-tingginya, berkaryalah sebanyak-banyaknya, jangan pernah berpikiran yang instan, dan nikmati setiap prosesnya,” pesannya.
Di akhir perbincangan, Azis Muslim kembali menegaskan bahwa seluruh aktivitas sosial, pembinaan majelis taklim, serta kepeduliannya terhadap anak yatim merupakan bentuk ikhtiar untuk terus menebar manfaat kepada sesama. Baginya, warisan terbaik bukanlah jabatan ataupun kekayaan, melainkan hadirnya generasi penerus yang tetap menjaga nilai-nilai agama, semangat pengabdian, dan kepedulian terhadap masyarakat.[]
Editor : Fathurroji









