Tesis, Antitesis dan Sintesis

Dr. KH. Saiful Falah, M.Pd.I (Pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami Bogor)

Tim Redaksi

- Redaksi

Kamis, 23 April 2026 - 09:02 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor–Di suatu siang yang cukup terik, dua orang anak muda berkaos oblong yang dibalut jas kain katun berwarna hijau duduk santai di kantin kampus. Kebetulan jam kuliah sudah usai, sebagian besar mahasiswa sudah beranjak pulang. Mereka yang berpredikat kupu-kupu memang selalu begitu, kuliah-pulang. Dua orang anak muda yang tidak mau disebut kupu-kupu memilih untuk tetap di kampus. Menghidupkan nyala lentera intelektual meski diluar jam pelajaran.

Sambil menyeruput kopi hitam, mahasiswa berambut kribo memulai diskusi;

“Hidup ini sederhana, siapa yang bekerja keras dia akan berhasil.”  Si Kribo memandang tulisan besar di depan gedung kampus berlantai empat ‘Kampus Aswaja, Kampus Anak Muda’

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kawannya yang berkulit lebih terang dengan rambut gaya pemain bola yang sering kali berteriak ‘siu’ menyimak. Tak lama berselang, dia menanggapi.

“Tidak sesederhana itu, kawan” bantahnya, “Banyak orang sudah bekerja keras, tapi tetap saja gagal. Hidup ini tidak seperti ujian matematika yang jawabannya sudah ada dalam pilihan ganda”.

Baca Juga:  Universitas Islam Bogor Gelar UIB Future Leader Angkatan I

Si kulit terang menarik napas agak panjang lalu melanjutkan, “Coba perhatikan tukang becak di pasar. Dari pagi sudah mangkal. Teriak-teriak cari penumpang. Mengoes pedal sampai dengkul berkarat. Apa yang dihasilkan? Hanya rupiah penyambung hidup saja.”

Hening.

Si Kribo tidak mau mengalah begitu saja, “Kalau seperti itu adanya kenapa kita harus teriak-teriak mengatakan ‘man jadda wajada’, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan sukses?”

Penjaga kantin, seorang ibu paruh baya yang sudah sekian tahun ditinggal mati suaminya hanya bisa mendengar tanpa mampu menanggapi. Kepalanya sudah terlalu tumpul untuk mengikuti serial diskusi mahasiswa yang kadang di luar nurul.

Yang satu berdiri di atas keyakinan, yang lain membantah dengan kenyataan.

Siapa yang benar?

Sahabat pembaca, seringkali kita terjebak dalam dua kutub seperti itu. Ikut si Kribo yang memiliki keyakinan penuh dengan teori yang dia anggap shohih karena sudah diturunkan dari gurunya guru ke guru ke murid sampai ke muridnya murid. Atau mengakui kebenaran si rambut ala bintang sepak bola karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri fakta yang telanjang.

Baca Juga:  Cecep Gogom: Pemuda Islam Harus Menjadi Pelaku Perubahan

Si Kribo begitu yakin dengan idealisme bahwa dunia harus berjalan sebagaimana seharusnya. Yang bekerja keras harus sukses, yang malas pasti gagal. Ini adalah tesis: sebuah rumusan atau teori tentang bagaimana hidup seharusnya.

Namun kenyataannya tidak seindah teori dalam pikiran yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas. Ia datang membawa retakan, goresan, dan luka yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu pasti. Dan lahirnya antithesis sebagai suara tandingan yang menggugat, bahkan terkadang meruntuhkan tesis.

Bahwa dalam kenyataannya ada banyak contoh orang yang sudah berjuang, bekerja keras namun belum bertemu dengan kesuksesan. Seolah thesis dibantah oleh antithesis.

Kebanyakan dari kita sering terpaksa berhenti di sini.

Kita menjadi kaku, memilih salah satu. Lalu menutup pintu bagi kemungkinan lain. Padahal, hidup tidak pernah tumbuh di satu sisi saja. Seorang petani tidak bisa hanya berharap pada hujan, tanpa menanam benih. Namun ia juga tidak bisa memaksakan panen, meski sudah bekerja sepenuh tenaga. Ada faktor-faktor lain yang terkadang mengubah hasil.

Baca Juga:  Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Di situlah pelan-pelan kita belajar tentang sintesis.

Bukan sekadar jalan tengah yang kompromistis, tetapi pemahaman yang menyeluruh. Bahwa kerja keras itu penting, tetapi tidak cukup. Bahwa takdir itu nyata, tetapi bukan alasan menyerah pasrah. Sintesis mengajarkan kita berdiri di antara dua kutub. Tidak menginjak yang satu untuk mengangkat yang lain. Tidak condong ke kanan atau condong ke kiri. Ada di antara keduanya dengan cara mengambil hal positif dari kedua sisi sesuai porsi. Dalam bahasa iman, kita mengenalnya sebagai ikhtiar dan tawakal.

Ikhtiar adalah tesis, usaha terbaik yang bisa kita lakukan. Tawakal adalah antithesis, pengakuan bahwa kita tidak sepenuhnya mengendalikan hasil.

Dan sintesisnya?

Berusaha sekuat tenaga, lalu menerima hasil dengan lapang dada. Bukan karena lemah, tetapi karena sadar ada kekuatan yang lebih besar penentu segala sesuatu. Allah a’lam

 

Berita Terkait

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman
Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja
Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034
Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar
Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya
Bogor Barat Membutuhkan Keragaman Sarjana
Berhenti Sejenak
Now and Then, Masa Depan Sepak Bola di Kaki Para Jenius

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 11:53 WIB

Dari Madness Menuju Meaning, Menemukan Makna di Tengah Hidup yang Tidak Baik-Baik Saja

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:02 WIB

Lima Agenda Konkret Bogor Kota Pelajar 2034

Selasa, 11 Agustus 2026 - 17:29 WIB

Menjadikan Bogor sebagai Kota Pelajar

Senin, 10 Agustus 2026 - 10:41 WIB

Lady Rocker Samping Universitas Brawijaya

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB