Binanews.id | Argentina melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah membalikkan keadaan dan menang 2-1 atas Inggris pada semifinal di Atlanta, Rabu (15/7/2026). Sang juara bertahan kini ditunggu Spanyol di New Jersey pada Minggu (19/7/2026), dengan peluang menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar sejak Brasil pada 1962.
Namun di Inggris, perbincangan pagi ini bukan tentang keajaiban Lionel Messi. Hampir seluruh amarah publik dan para pengamat mengarah ke satu orang, Thomas Tuchel, pelatih yang dinilai membuang final dari genggaman timnya sendiri.
Selama hampir sembilan puluh menit, rencana Inggris sebenarnya berjalan. Babak pertama yang keras berakhir tanpa gol, lalu Anthony Gordon memecah kebuntuan pada menit ke-56 dan membawa Three Lions unggul. Final pertama sejak 1966 tinggal berjarak setengah jam.
Di titik itulah Tuchel mengambil keputusan yang kini dikutuk seantero Inggris. Alih-alih menambah tekanan untuk mematikan laga, ia menarik timnya mundur. Pergantian-pergantian pemainnya bernada bertahan, garis pertahanan turun semakin dalam, dan Inggris mempersilakan juara dunia memegang bola. Para pengamat menyebut Inggris berjudi dengan cara paling berbahaya, bertahan selama mungkin di depan tim yang sepanjang turnamen justru paling mematikan di menit-menit akhir.
Hukumannya datang tepat seperti yang ditakutkan. Memasuki lima menit terakhir waktu normal, tendangan jarak jauh Enzo Fernandez yang keras menyamakan kedudukan. Belum sempat Inggris berdiri tegak, Lautaro Martinez, pemain pengganti, menuntaskan serangan pada menit ke-92. Keduanya lahir dari assist Messi, yang di usia 39 tahun semalaman dikawal ketat namun tetap menemukan dua momen untuk menghancurkan Inggris.
Gelombang kritik pecah bahkan sebelum peluit panjang benar-benar dingin. Legenda Inggris Wayne Rooney menjadi yang paling keras bersuara. Ia menilai pergantian pemain Tuchel sama saja asking for trouble, mengundang masalah, dan membuat para pemain kehilangan kepercayaan diri, bahkan menyebut Inggris seperti menyerah. Media Inggris tak kalah pedas. The Independent menyebut keputusan itu sebagai pure cowardice yang mengakhiri mimpi Piala Dunia Inggris, kolumnis Irish Times melabelinya bottle job sepanjang masa, sementara Football365 melaporkan seruan pemecatan mulai bermunculan.
Ironi keputusan itu terasa lebih pahit karena bertolak belakang dengan citra yang dibangun Tuchel sendiri sepanjang turnamen. Usai menang atas Norwegia di perempat final, pelatih asal Jerman itu justru mengkritik habis timnya meski menang, dan menyebut para penyerang top turnamen sebagai sharks who smell blood, hiu-hiu yang mencium bau darah. Semalam, ketika hiu terbesarnya sendiri unggul dan tinggal butuh satu gigitan terakhir, Tuchel malah memerintahkan mereka berenang mundur.
Kekalahan ini memperpanjang daftar patah hati Inggris di era modern, final Piala Eropa 2020 dan 2024 yang lepas, kini semifinal Piala Dunia yang sudah di genggaman. Bagi kapten Harry Kane, yang sepanjang turnamen tampil luar biasa hingga melewati Pele dalam daftar pencetak gol sepanjang masa Piala Dunia, pintu menuju trofi yang ia kejar seumur hidup kembali tertutup dengan cara paling kejam. Meski begitu, sejumlah laporan awal menyebut posisi Tuchel kemungkinan tetap aman hingga kontraknya usai.









