Joko Anwar, dari Bioskop Kumuh Medan hingga Gelar Ksatria Prancis

Ahmad Thursina Roja

- Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Nama Joko Anwar kini tercatat dalam jajaran seniman dunia penyandang gelar ksatria dari Prancis. Sutradara sekaligus penulis skenario itu menerima tanda kehormatan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres dalam sebuah upacara di Gedung Kementerian Kebudayaan Prancis, Paris, pada 11 Desember 2025.

Tanda kehormatan itu disematkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati sebagai pengakuan atas kontribusi Joko Anwar terhadap dunia perfilman. Radio Republik Indonesia menyebut penghargaan itu merangkum dua dekade karya sang sutradara yang memadukan film genre dengan kritik sosial.

Lantas apa sebenarnya Ordre des Arts et des Lettres, dan bagaimana perjalanan hidup membawa anak dari gang sempit di Medan itu sampai ke gedung kementerian di Paris?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ordo Kehormatan Seni dari Prancis

Ordre des Arts et des Lettres, atau Ordo Seni dan Sastra, didirikan Kementerian Kebudayaan Prancis pada 2 Mei 1957. Ordo ini diberikan kepada individu yang dinilai memberikan kontribusi penting bagi seni dan sastra, baik di Prancis maupun di panggung dunia. Penerimanya tidak dibatasi warga Prancis, justru lewat ordo inilah Prancis merangkul seniman asing yang karyanya dianggap memperkaya peradaban.

Baca Juga:  BPRS Amanah Ummah, dari Leuwiliang Wujudkan Amanah Ulama Visionir untuk Umat

Gelar ini terbagi dalam tiga tingkatan. Yang pertama Chevalier atau ksatria, tingkat yang diterima Joko Anwar. Di atasnya ada Officier atau perwira, dan yang tertinggi Commandeur atau komandan. Jumlah penerimanya dibatasi ketat setiap tahun sehingga seleksinya tergolong sangat ketat.

Membaca daftar penerimanya cukup untuk memahami bobot gelar ini. Pelukis Pablo Picasso, sutradara Martin Scorsese, musisi David Bowie, aktris Meryl Streep, desainer Issey Miyake, hingga filsuf Umberto Eco pernah menerima kehormatan yang sama. Dari Indonesia, sebelum Joko Anwar sudah ada pematung Nyoman Nuarta, seniman Guruh Soekarno Putra, dan tokoh mode Thresia Mareta. Sutradara Garin Nugroho bahkan menyandang tingkat yang lebih tinggi, yakni Officier.

Anak Medan yang Jatuh Cinta di Bioskop Kumuh

Kisah Joko Anwar bermula jauh dari karpet merah. Ia lahir di Medan pada 3 Januari 1976 dan tumbuh di lingkungan sederhana. Keluarganya hidup pas-pasan, dan hiburan paling terjangkau bagi bocah Joko adalah bioskop kelas bawah di dekat rumahnya, tempat film laga, kungfu, dan horor diputar bergantian dengan tiket murah.

Baca Juga:  Hendi Sofyan Pulang Bukan untuk Mewarisi Jabatan tapi Berkarya

Di kursi bioskop kumuh itulah benihnya tertanam. Joko kecil menonton apa saja yang diputar, pulang dengan kepala penuh adegan, lalu memimpikan suatu hari ceritanya sendiri yang terpampang di layar. Mimpi itu terdengar mustahil untuk anak dari keluarga tak berpunya di Medan pada era itu.

Jalan yang ia tempuh pun memutar. Otaknya yang encer membawanya ke Institut Teknologi Bandung untuk mendalami teknik penerbangan, jurusan yang sama sekali tidak berhubungan dengan film. Selepas kuliah, ia bekerja sebagai jurnalis dan kritikus film di sebuah surat kabar berbahasa Inggris di Jakarta. Menulis tentang film orang lain ternyata menjadi pintu masuknya, sebab dari dunia itulah ia berkenalan dengan sutradara Nia Dinata yang kemudian mengajaknya menulis skenario.

Debut penyutradaraannya, Janji Joni, dirilis pada 2005 dan langsung disukai penonton muda. Dua tahun kemudian ia melahirkan Kala, film bergaya noir yang membuat kritikus internasional mulai menoleh ke Indonesia. Puncak pengakuan awal datang lewat Pintu Terlarang pada 2009 yang menyabet penghargaan tertinggi di festival film genre internasional di Korea Selatan.

Dari Pengabdi Setan ke Panggung Dunia

Titik ledaknya terjadi pada 2017. Pengabdi Setan, garapan ulangnya atas film horor klasik Indonesia, menyedot jutaan penonton, menghidupkan kembali kejayaan horor tanah air, dan terjual ke banyak negara. Sejak itu hampir semua karyanya menjadi peristiwa. Gundala membuka jagat sinema jagoan lokal. Perempuan Tanah Jahanam tayang di Festival Film Sundance dan mewakili Indonesia di ajang Oscar. Pengabdi Setan 2 menjadi salah satu film Indonesia pertama yang diputar dalam format IMAX, disusul Siksa Kubur yang kembali menguasai bioskop.

Baca Juga:  Nyai Hj Fatmah Noor Salim: Setia dalam Pengabdian, Menjaga Api Perjuangan Ummul Quro

Jangkauannya juga melampaui layar lebar. Serial Nightmares and Daydreams membawa fiksi ilmiah Indonesia ke penonton global lewat Netflix, dan film terbarunya, Ghost in the Cell, tayang perdana di Festival Film Berlin sebelum dirilis di lebih dari seratus negara.

Yang membuat karya-karyanya lekat di hati penonton bukan sekadar rasa takut yang ia bangun. Di balik hantu dan teror, film-film Joko Anwar hampir selalu berbicara tentang keresahan nyata masyarakat Indonesia, dari kemiskinan, ketimpangan, hingga kegagalan negara mengurus warganya. Kritik sosial yang dibungkus film genre itulah yang disebut-sebut menjadi salah satu pertimbangan Prancis menganugerahinya gelar ksatria.

Bagi dunia film Indonesia, kehormatan untuk Joko Anwar menjadi penanda yang lebih besar dari dirinya sendiri. Anak yang dulu menonton film murah di bioskop kumuh Medan itu membuktikan bahwa cerita yang lahir dari gang-gang sempit Indonesia punya tempat terhormat di mata dunia.

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

Ria Rahma Rahayu, Juara Favorit Duta Baca Kabupaten Bogor Lewat Dongeng Nusantara
Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa
Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi
Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026
Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola
Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ustadz Syam, Guru Besar Filsafat UNIDA Gontor
Aziz Awaludin Alumni Pesantren UQI Raih Dr. Carolyn Kelley Dissertation Award dari UW-Madison

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:17 WIB

Tiga Wakil Presiden RI Lulusan Luar Negeri dan Kontribusinya Bagi Bangsa

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:35 WIB

Rimbawati, Dosen UMSU Hadirkan Energi Terbarukan dari Motor Bekas hingga Kotoran Sapi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:37 WIB

Tembus 364 Peserta, Zahra Mahasiswi UIB Raih Best Influencer Duta Lingkungan Jabar 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 17:15 WIB

Tekan Angka Putus Sekolah, Disdik Jabar Sosialisasikan Program Jabar Sakola

Minggu, 4 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Bangkit darj Kegagalan, Mahasiswi UIB Raih Top 6 Duta Baca Kabupaten Bogor 2026

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB