Binanews.id | Arlington–Lamine Yamal merayakan ulang tahunnya yang ke-19 pada Senin (13/7/2026). Kado terbaiknya belum tiba. Hadiah itu baru bisa ia jemput sehari kemudian di Dallas Stadium, Arlington, Texas, ketika Spanyol menantang Prancis pada semifinal Piala Dunia 2026.
Bagi bintang muda Barcelona itu, laga melawan Prancis selalu punya arti khusus. Dua tahun lalu, beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-17, ia melepaskan tendangan melengkung dari luar kotak penalti ke gawang Prancis pada semifinal Euro 2024. Gol itu menjadikannya pencetak gol termuda sepanjang sejarah Piala Eropa, dan Spanyol melaju hingga menjadi juara. Kini kedua tim bertemu lagi di babak yang sama, di panggung yang lebih besar.
Perjalanan La Roja menuju empat besar tidak selalu mulus. Mereka dibuka dengan hasil imbang melawan Cape Verde yang mengundang tekanan besar. Jawaban datang pada laga kedua ketika Arab Saudi dihancurkan 4-0 di Atlanta, Minggu (21/6/2026). Yamal membuka pesta gol pada menit ke-10 lewat penyelesaian dingin, gol pertamanya di Piala Dunia, yang menurut catatan ESPN menjadikannya salah satu pencetak gol termuda dalam sejarah turnamen sejak era Pele.
Kemenangan atas Uruguay memastikan Spanyol lolos sebagai juara Grup H. Di babak gugur, mesin mereka semakin panas. Austria dilibas 3-0 di babak 32 besar. Portugal, yang dikapteni Cristiano Ronaldo di Piala Dunia terakhirnya, disingkirkan 1-0 lewat gol telat Mikel Merino di babak 16 besar. Belgia menyusul jadi korban dengan skor 2-1 pada perempat final di Los Angeles, Jumat (10/7/2026), lagi-lagi berkat gol penentu Merino. Hasil itu membawa Spanyol ke semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak menjuarai turnamen pada 2010.
Di tengah skuad juara Eropa itu, semua sorotan tetap mengarah ke pemuda yang baru saja meninggalkan usia belasan awal. Siapa sebenarnya Lamine Yamal?
Kisahnya bermula di Rocafonda, kampung kelas pekerja di kota Mataro, pinggiran Barcelona. Yamal lahir pada 13 Juli 2007 dari pasangan Mounir Nasraoui, perantau asal Maroko, dan Sheila Ebana yang berdarah Guinea Ekuatorial. Setiap kali mencetak gol, ia membentuk angka 304 dengan jari-jarinya, tiga digit terakhir kode pos Rocafonda, sebagai penghormatan untuk kampung halamannya.
Takdirnya seakan tertulis sejak bayi. Pada 2007, fotografer sebuah kegiatan amal UNICEF memotret bayi Yamal yang sedang dimandikan oleh seorang pemain muda Barcelona bernama Lionel Messi. Foto itu viral bertahun-tahun kemudian, ketika bayi dalam bak mandi itu tumbuh menjadi pewaris nomor punggung 10 yang pernah dikenakan sang legenda di Camp Nou.
Barcelona merekrutnya ke akademi La Masia pada usia tujuh tahun. Pada April 2023, pelatih Xavi Hernandez memberinya debut di tim utama saat usianya baru 15 tahun, menjadikannya salah satu pemain termuda yang pernah tampil untuk klub raksasa Catalonia itu. Lima bulan berselang, ia mencatatkan debut sekaligus gol pertama untuk timnas Spanyol di usia 16 tahun, memecahkan rekor pemain dan pencetak gol termuda sepanjang sejarah La Roja.
Puncaknya datang pada Euro 2024. Yamal menjadi pemain termuda dalam sejarah turnamen itu, mencetak gol semifinal yang dikenang sebagai salah satu gol terbaik dekade ini, lalu mengangkat trofi juara sambil menyandang predikat pemain muda terbaik. Penghargaan pribadi terus mengalir, dari Golden Boy hingga Kopa Trophy, dan pada 2025 ia finis di urutan kedua Ballon d’Or di belakang Ousmane Dembele, pemain yang akan berdiri di seberang lapangan pada Selasa nanti.
Duel melawan Prancis menghadirkan pertarungan dua generasi. Di satu sisi ada Kylian Mbappe, 27 tahun, kapten yang sudah mengoleksi delapan gol di turnamen ini dan mengejar trofi keduanya. Di sisi lain ada Yamal, 19 tahun, wajah masa depan sepak bola dunia yang belum pernah merasakan final Piala Dunia. Pemenangnya melaju ke New Jersey pada 19 Juli untuk menghadapi pemenang laga Inggris kontra Argentina.
Dua tahun lalu di Munich, bocah 16 tahun dari Rocafonda mematahkan hati Prancis. Di Dallas, sehari setelah meniup lilin ke-19, ia berkesempatan mengulanginya di panggung yang paling didambakan semua pesepak bola.
Editor : Fathurroji









