Binanews.id | Bogor–Wakil Presiden Republik Indonesia ke-13, KH Ma’ruf Amin, menyampaikan pesan kepada para wisudawan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami dalam Wisuda Angkatan Ke-27 yang digelar pada Minggu (17/05/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar tempat membentuk pribadi saleh, tetapi juga pusat lahirnya para pemimpin umat dan penerus perjuangan ulama.
Di hadapan para wisudawan dan jajaran pimpinan ma’had, KH Ma’ruf Amin menyebut pesantren sebagai “pabrik kiai” yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan umat dan peradaban Islam. Menurut beliau, santri tidak hanya dituntut menjadi pribadi yang baik, tetapi juga mampu memperbaiki keadaan masyarakat di tengah berbagai perubahan zaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pesantren itu pabrik kiai. Santri bukan hanya dididik menjadi orang saleh, tetapi juga menjadi muslih yang mampu memperbaiki keadaan,” ujarnya.
Kiai Ma’ruf menilai tantangan yang dihadapi generasi santri saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, serta munculnya berbagai bentuk kesamaran informasi membuat para santri harus memiliki kapasitas ilmu yang lebih kuat.
Karena itu, KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa santri masa kini harus mampu melampaui kemampuan generasi terdahulu agar dapat menjawab tantangan zaman dengan baik.
“Kiai ke depan harus lebih pintar dari kiai yang lama. Tantangan yang dihadapi sekarang jauh lebih besar dan banyak membuat orang samar terhadap kebenaran,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan tiga bekal utama yang harus dimiliki santri sebagai calon pemimpin umat. Pertama, penguasaan ilmu secara mendalam dan menyeluruh. Kedua, kepekaan terhadap perkembangan sosial, nasional, hingga global. Ketiga, ketangguhan mental agar tidak mudah tergelincir oleh kepentingan duniawi maupun hawa nafsu kekuasaan.
Menjelang akhir pidato, KH Ma’ruf Amin mengingatkan para santri agar tidak tergesa-gesa terjun ke tengah masyarakat sebelum benar-benar matang secara ilmu dan mental. Beliau mengibaratkan santri seperti anak burung yang belum kuat terbang.
“Jangan keluar dari sarang sebelum sayap benar-benar kuat,” pesannya.[]









