Binanews.id | Bogor–Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 06 Cibunian menggelar Seminar Mitigasi Bencana bertema “Keluarga Tanggap Bencana” di Masjid Jami’ Mansyur Al-Arifi, RW 10, pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa KKM 06 Cibunian, warga RW 10, serta perangkat desa. Seminar ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan tempat tinggal.
Perwakilan perangkat desa, Bapak Dulloh, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kelompok KKM 06 Cibunian atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi mengenai mitigasi bencana, khususnya yang dimulai dari lingkungan keluarga, merupakan hal penting bagi masyarakat.
Menurutnya, keberadaan mahasiswa KKM di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya memberikan manfaat melalui berbagai program kerja, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dalam menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
“Kegiatan seperti ini penting karena dapat memberikan pengetahuan dan manfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana,” ujarnya.
Seminar menghadirkan Nanang Juandin sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa bencana secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu bencana alam, nonalam, dan sosial.
Bencana alam dapat berupa gempa bumi dan banjir, sedangkan bencana nonalam dapat mencakup kekeringan maupun wabah penyakit. Sementara itu, berbagai persoalan sosial juga dapat menimbulkan dampak yang perlu diantisipasi oleh masyarakat.
Nanang menekankan bahwa Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang memiliki beragam potensi bencana. Oleh karena itu, kesiapsiagaan perlu dibangun mulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
Salah satu hal penting yang harus dikendalikan ketika menghadapi bencana, menurutnya, adalah rasa panik. Kondisi tersebut dapat diminimalkan melalui peningkatan pengetahuan, latihan, serta kesiapan keluarga dalam menghadapi situasi darurat.
Ia menjelaskan bahwa keluarga tangguh bencana merupakan keluarga yang memiliki pengetahuan, kesadaran, kesiapan, dan kemampuan untuk mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi bencana.
Dalam penyampaian materi, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali risiko bencana di lingkungan tempat tinggal, memperhatikan keamanan bangunan rumah, serta menyusun rencana kesiapsiagaan bersama anggota keluarga.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Keluarga diharapkan mampu menentukan langkah penyelamatan dan titik kumpul yang telah disepakati apabila terjadi keadaan darurat.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk memperhatikan berbagai potensi bahaya di dalam rumah, seperti tembok yang retak, kaca, lemari, dan benda-benda besar yang berpotensi jatuh ketika terjadi gempa atau bencana lainnya.
Nanang juga mengingatkan pentingnya menyiapkan tas siaga bencana yang dapat berisi dokumen penting, identitas diri, perlengkapan P3K, senter, serta kebutuhan dasar lainnya. Tas tersebut sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau agar dapat segera dibawa ketika terjadi keadaan darurat.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama warga. Salah seorang peserta menanyakan langkah yang dapat dilakukan masyarakat apabila rumah berada di dekat selokan dan berpotensi terdampak banjir.
Melalui diskusi tersebut, masyarakat kembali diajak untuk mengenali kondisi lingkungan sekitar, melaporkan potensi kerusakan kepada pihak terkait, serta meningkatkan kesiapsiagaan keluarga sebagai langkah awal dalam menghadapi risiko bencana.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis bencana, potensi risiko di lingkungan tempat tinggal, cara mengurangi bahaya di dalam rumah, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum dan ketika terjadi bencana.
Kelompok KKM 06 Cibunian berharap Seminar “Keluarga Tanggap Bencana” dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat. Dengan pengetahuan dan persiapan yang memadai, masyarakat diharapkan dapat menjadi lebih tanggap, tangkas, dan tangguh dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana.[]









