Binanews, Sukabumi — Memasuki akhir tahun ajaran sekolah dan madrasah diniyah, kegiatan kenaikan kelas maupun resepsi perpisahan digelar hampir di setiap lembaga pendidikan. Bagi masyarakat Sunda, kegiatan seremonial kenaikan kelas dan pelepasan siswa tersebut lebih dikenal dengan sebutan samen atau samenan.
Kegiatan ini biasanya dilaksanakan secara bergiliran oleh setiap sekolah maupun madrasah selama hampir satu bulan penuh. Bagi masyarakat Sunda, samen menjadi bentuk penghormatan dan apresiasi kepada anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan atau naik ke jenjang kelas berikutnya.
Secara etimologis, samen merupakan kata serapan dari bahasa Belanda. Jika merujuk pada kamus bahasa Belanda, samen berarti bersama-sama. Seiring waktu, makna tersebut mengalami pergeseran di tengah masyarakat Sunda hingga kemudian dipahami sebagai acara kenaikan kelas atau kelulusan siswa.
Bagi masyarakat Sukabumi, acara samen telah menjadi tradisi yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Kehadirannya selalu dinantikan setiap tahun dan menjadi momentum istimewa bagi anak-anak sekolah maupun madrasah diniyah.
Pada momen ini, para siswa diberi kesempatan untuk menampilkan berbagai kemampuan dan kreativitas di atas panggung. Mereka membawakan pidato dalam bahasa Arab dan Inggris, menghafal doa harian serta hadis Nabi, bernyanyi, menari, bermain musik, membaca puisi, hingga menampilkan kabaret dan berbagai pertunjukan lainnya.
Tidak hanya itu, dalam banyak pelaksanaan samen, pihak sekolah juga mengadakan pawai keliling yang melibatkan seluruh siswa beserta orang tua mereka. Pawai tersebut biasanya melintasi wilayah sekitar sekolah dengan iringan musik marching band. Beragam kreasi masyarakat turut memeriahkan suasana, mulai dari delman yang dihias aneka pernak-pernik hingga ogoh-ogoh yang dibuat dari bambu dan berbagai bahan lainnya. Semua itu seakan menyempurnakan euforia kelulusan maupun kenaikan kelas.
Layaknya sebuah resepsi, acara samen selalu dipenuhi suasana sukacita. Anak-anak tampak riang gembira, para orang tua sibuk melakukan berbagai persiapan, sementara pihak sekolah menyiapkan rangkaian acara dengan sebaik-baiknya. Di sisi lain, para pedagang yang berdatangan ke sekitar lingkungan sekolah juga turut merasakan manfaat ekonomi dari keramaian tersebut.
Bagi masyarakat Sunda, samen menjadi bentuk apresiasi atas pencapaian pendidikan anak-anak. Tradisi ini tidak hanya dilaksanakan oleh sekolah formal, tetapi juga oleh lembaga pendidikan agama. Berbagai kemampuan siswa ditampilkan di hadapan orang tua dan masyarakat. Pada beberapa daerah, orang tua bahkan menyiapkan tumpeng serta memotong ayam sebagai bentuk rasa syukur.
Tradisi samen merupakan salah satu kekayaan budaya Sunda yang hingga kini masih dilestarikan secara turun-temurun melalui proses kenaikan kelas di sekolah maupun madrasah diniyah. Khusus di wilayah Sukabumi, acara samen identik dengan iringan musik marching band, pawai siswa, serta barisan ogoh-ogoh hasil kreativitas masyarakat yang sengaja dibuat untuk menyambut perayaan tersebut.
Selain kata samen yang diduga merupakan serapan dari bahasa Belanda, masyarakat Sunda juga mengenal sejumlah istilah lain yang memiliki akar budaya serupa. Tradisi botram dan ngaliweut, misalnya, merujuk pada kegiatan makan bersama di ruang terbuka seperti sawah, halaman rumah, kebun, atau teras.
“Samen mirip dengan botram, bahasa Sunda yang khas. Botram berasal dari kata boterham, bahasa Belanda yang artinya roti sandwich.”
Dalam gelaran samen, unsur budaya, agama, dan gotong royong seolah menyatu dalam satu perayaan. Masyarakat berbaur tanpa sekat, menikmati kemeriahan yang menyerupai pesta rakyat. Semua kalangan ikut terlibat dan menyambutnya dengan penuh kegembiraan, menjadikan samen bukan sekadar acara sekolah, melainkan bagian dari identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Sunda. (Ted)








