Binanews.id | Bogor-Aturan baru soal pemangkasan potongan aplikasi ojol jadi 8% yang berlaku mulai 1 Juli 2026 baru diberlakukan hari ini, rupanya belum dirasakan manfaatnya oleh sejumlah driver di Kota Bogor.
Alih-alih pendapatan naik, banyak pengemudi justru mengeluh orderan harian mereka semakin sedikit.
Salah satunya Asep Lalang, 50 tahun. Pria yang sudah 10 tahun narik ojol di Bogor itu mengaku skema potongan baru belum membawa perubahan signifikan.
“Potongan 8 persen emang udah jalan di Bogor, tapi kalau dibilang enak ya belum. Banyak temen-temen yang malah sepi order, hampir rata-rata ngerasain begitu,” kata Asep.
Ia menuturkan, saat potongan masih 20% dulu, sehari ia bisa dapat sekitar 15 order. Tapi sejak 1 Juli kemarin, angkanya anjlok.
“Dulu waktu potongan 20% masih lumayan. Sekarang sejak awal Juli, paling mentok 8 order sehari. Padahal biasanya hampir 15,” ujarnya.
Selain order yang susut, Asep juga bilang selisih tarif yang diterima driver nggak terlalu besar. Contohnya layanan hemat, dulu ia terima sekitar Rp10.400, sekarang cuma Rp10.200.
“Tarif hemat dulunya Rp10.400, sekarang Rp10.200. Bedanya dikit banget, jadi nggak kerasa,” jelasnya.
Asep berharap, kebijakan potongan 8% ini nantinya diikuti lonjakan jumlah order. Biar kebijakan itu benar-benar ngebantu driver.
“Maunya sih setelah potongan turun, orderan makin rame buat semua. Nyatanya sekarang masih banyak yang nongkrong doang,” harapnya.
Ia juga menyebut soal isu prioritas akun. Dulu akun perempuan atau ‘lady driver’ dianggap lebih gacor. Tapi sekarang, kondisinya sudah berbeda.
“Dulu akun lady memang beda, ordernya lancar. Sekarang kebanyakan juga sepi. Apalagi akun cowok, yang ngeluh banyak banget,” katanya.
Menurut Asep, kondisi sepi ini mungkin efek adaptasi pasca perubahan aturan. Ditambah lagi, masa libur sekolah juga bisa jadi penyebab turunnya permintaan ojol di Bogor.
“Mungkin masih penyesuaian, semoga nanti membaik. Apalagi sekarang anak sekolah libur, bisa jadi itu juga ngaruh ke sepi order,” tutupnya.









