KKM 22 UIB Bantu Promosi UMKM Desa Leuweungkolot

Prabu

- Redaksi

Kamis, 24 September 2026 - 20:00 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Binanews.id | Bogor — Upaya memperkenalkan usaha masyarakat di tingkat desa tidak selalu harus dimulai dengan strategi pemasaran yang rumit. Bagi sejumlah pelaku UMKM di Desa Leuweungkolot, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sebuah banner usaha dapat menjadi langkah sederhana untuk membuat produk dan jasa mereka lebih mudah dikenali.

Hal tersebut dilakukan Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 22, Universitas Islam Bogor (UIB) di Desa Leuweungkolot melalui kegiatan pembuatan dan pembagian banner bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pada 12 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari program pemetaan UMKM dan digitalisasi yang sebelumnya dilakukan mahasiswa KKM 22 selama menjalankan pengabdian di Desa Leuweungkolot.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari hasil pendataan dan pemetaan tersebut, mahasiswa menemukan sejumlah pelaku usaha yang masih membutuhkan media promosi sederhana untuk memperkenalkan usaha maupun produk mereka kepada masyarakat sekitar.

Salah satu anggota KKM 22, Elsa Kusuma, mengatakan kebutuhan tersebut menjadi salah satu hal yang kemudian diperhatikan mahasiswa dalam menyusun kegiatan pendampingan UMKM.

“Dari pemetaan yang kami lakukan, kami melihat ada pelaku usaha yang sebenarnya sudah memiliki produk atau jasa, tetapi identitas usahanya belum terlalu terlihat. Karena itu, kami mencoba memberikan media promosi yang sederhana dan bisa langsung digunakan,” ujar Elsa.

Baca Juga:  Pemkab Bogor Luncurkan Ngupahan, Tekan Food Waste Berbasis Digital

Program pembagian banner tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, mahasiswa KKM 22 melakukan pendataan dan pemetaan terhadap pelaku UMKM di Desa Leuweungkolot.

Pendataan tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa untuk melihat kondisi usaha masyarakat sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang dapat dibantu melalui program KKM.

Salah satu kebutuhan yang ditemukan adalah media promosi di lokasi usaha.

Banner kemudian dipilih karena dapat langsung dipasang di tempat pelaku usaha menjalankan aktivitasnya. Media tersebut juga memungkinkan masyarakat yang melintas untuk mengetahui jenis usaha serta produk atau jasa yang ditawarkan.

Bagi pelaku usaha kecil, keberadaan identitas usaha di lokasi menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun keterlihatan di lingkungan sekitar.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa terlebih dahulu merancang desain banner dengan menyesuaikan identitas dan kebutuhan masing-masing usaha.

Informasi yang dicantumkan dibuat sederhana dan mudah dibaca, seperti nama usaha serta produk atau jasa yang ditawarkan.

Setelah desain selesai, banner kemudian dicetak dan dibagikan kepada pelaku UMKM yang telah terdata.

Mahasiswa KKM 22 juga mendatangi sejumlah lokasi usaha secara langsung untuk menyerahkan sekaligus membantu pemasangan banner.

Elsa menjelaskan, program tersebut tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal terhadap seluruh persoalan pemasaran UMKM. Namun, mahasiswa berharap bantuan sederhana tersebut dapat digunakan secara langsung oleh pelaku usaha.

Baca Juga:  Kembali kepada Khittah: Menyikapi Polemik Lokasi Muktamar dengan Kedewasaan

“Kami menyadari bahwa banner tentu bukan satu-satunya cara untuk mengembangkan UMKM. Tetapi kami berharap dari hal kecil ini, usaha mereka bisa lebih mudah dikenali masyarakat dan menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat promosi,” katanya.

Menurut Elsa, pemetaan UMKM juga memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya melihat UMKM dari sisi produk yang dijual, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pelaku usaha dan memahami kebutuhan mereka.

Proses tersebut membuat mahasiswa memiliki gambaran yang lebih nyata mengenai aktivitas ekonomi masyarakat di lingkungan desa.

Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya KKM 22 untuk menghubungkan kegiatan pengabdian dengan potensi yang telah dimiliki masyarakat.

Alih-alih menghadirkan program yang sepenuhnya baru, mahasiswa mencoba mengembangkan kebutuhan yang ditemukan selama proses pemetaan.

Dengan adanya banner, pelaku UMKM memiliki media visual yang dapat dipasang di lokasi usaha masing-masing. Masyarakat pun diharapkan lebih mudah mengenali keberadaan usaha dan produk yang tersedia di lingkungan Desa Leuweungkolot.

Kegiatan pembagian banner juga menjadi bagian dari rangkaian program yang lebih luas dalam pemetaan UMKM dan digitalisasi.

Perkembangan teknologi memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya tidak hanya kepada masyarakat sekitar, tetapi juga kepada calon konsumen melalui berbagai kanal digital.

Baca Juga:  Sosialisasi KKM Kelompok 14 Institut Ummul Quro Al-Islami Di SDN 03 Cigudeg  

Namun, penguatan promosi digital tetap membutuhkan identitas usaha yang jelas.

Karena itu, pengenalan nama usaha, produk, serta informasi dasar mengenai layanan menjadi bagian yang penting untuk dibangun secara bertahap.

Mahasiswa KKM 22 berharap pendampingan yang dilakukan dapat menjadi pemantik bagi pelaku UMKM untuk terus mengembangkan cara mereka memperkenalkan usaha.

“Harapannya bukan hanya sampai banner ini terpasang. Kami ingin pelaku UMKM juga semakin percaya diri memperkenalkan usahanya, baik secara langsung kepada masyarakat maupun nantinya melalui media digital,” ungkap Elsa.

Melalui kegiatan tersebut, KKM 22 Desa Leuweungkolot berupaya memberikan dukungan yang sederhana namun dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Bagi mahasiswa, pengabdian tidak selalu harus diwujudkan melalui program berskala besar. Mengenali kebutuhan masyarakat, kemudian menghadirkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, menjadi bagian dari proses belajar selama berada di tengah masyarakat.

Sementara bagi pelaku UMKM, sebuah banner mungkin terlihat sederhana.

Namun dari sebuah nama usaha yang terpampang di depan tempat berjualan, masyarakat dapat mulai mengenal siapa mereka, apa yang mereka tawarkan, dan di mana produk tersebut dapat ditemukan.

Dari sana, sebuah usaha kecil mendapatkan ruang untuk lebih terlihat.

 

Editor : Fathurroji

Berita Terkait

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi
Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor
Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026
Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin
Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027
Jangan Sepelekan Ijazah SMA, Dokumen Ini Bisa Perluas Peluang Karier
Ditjen Pesantren Gandeng Kemnaker Buka Akses Pelatihan Vokasi bagi Santri
Pentingnya Belajar Bahasa Inggris di Era Digital

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 16:48 WIB

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Bedah Buku “Pendidikan Islam Holistik” bersama Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi di UQI Bogor

Senin, 12 Oktober 2026 - 14:42 WIB

Revitalisasi Sekolah di Kota Metro Capai 50 Persen, Target Akhir 2026

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:59 WIB

Pemkab Bogor Catat Indeks Integritas Pendidikan Daerah Naik Empat Poin

Jumat, 9 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Kebijakan Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Bakal Kembali Diterapkan Mulai 2027

Berita Terbaru

Pendidikan

36 Sekolah di Kota Bogor dapat Dukungan Revitalisasi

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:48 WIB

Nasional

Rektor IPB Ditunjuk Presiden Jadi Wakil Menteri Pertanian

Jumat, 16 Okt 2026 - 16:44 WIB